Review: Jerusalem: The Biography

Jerusalem, The BiographyJerusalem, The Biography by Simon Sebag Montefiore

My rating: 5 of 5 stars (Goodreads)

Jerusalem: The Biography is not your ordinary history book. While most history books focus on dates and events, Jerusalem focuses more on the people that build this city. I share Sebag-Montefiore’s fascination on this magical city, yet Sebag-Montefiore drives the fascination to a whole new level. I’ve read other books on Jerusalem, including Karen Armstrong’s Jerusalem: One City, Three Faiths and I find Sebag-Montefiore’s Jerusalem to use different approach that may not suit everyone’s taste. You may think that the book lacks in details about Jerusalem’s history, yet again, the approach used by Sebag-Montefiore is not merely the city’s details, but on how Jerusalem becomes Jerusalem, how the people along its history – David, Jesus, St. Helena, Muhammad, Saladin, Richard the Lionheart, Baldwin, Suleiman the Magnificent, Benjamin Disraeli, Theodore Herzl, Chaim Weizmann – defines this city. The story aptly stops at the Six Days War, arguing that to continue means the book will be endless. I can clearly justify Sebag-Montefiore’s approach as unique and somewhat rarely found in history books.

What you’ll learn about Jerusalem in this book may also seen as different compared to learning to one’s history through a common method of studying history. Indeed, the chapters are linearly arranged, yet they are defined with who is in during that period. So it is not merely a biography of Jerusalem, yet it is also a biography of the people that defines Jerusalem, namely what do they do in the holy city.

This book is to be read with the clearest mind, and clearly not for the faint-hearted. The size of the book is considerably a behemoth, yet the content is also enormous. Luckily, there are no disturbing, difficult-to-understand details that may deter common readers from completing the book. Yet, in this book [spoiler alert, should I say] you will find different perspectives on the three religions, at their best and worst. I may suggest you to keep your head cool down when reading this.

At the end, I cannot recommend more the book Jerusalem for you who are interested in learning more about this holy city of three faiths. As I finish this book, my fascination to this city only grows more, as the city that exists in both terrestrial and celestial forms, as Sebag-Montefiore says in the beginning of this book, you may find the experience of reading this book mind-enlightening, and hopefully you’ll understand why some people call Jerusalem as the heavenly city.

***

Jerusalem: The Biography bukanlah buku sejarah biasa. Jika buku sejarah pada umumnya berfokus pada tanggal dan kejadian, Jerusalem lebih banyak berfokus pada tokoh-tokoh yang turut membangun kota ini. Saya mengagumi kota ini sama seperti Simon Sebag-Montefiore, meski demikian Sebag-Montefiore membawa kekaguman ini kepada sebuah tingkatan yang sama sekali baru. Saya telah membaca buku-buku lain mengenai Yerusalem, termasuk tulisan Karen Armstrong Jerusalem: One City, Three Faiths (dalam bahasa Indonesia: Yerusalem, Satu Kota Tiga Iman) dan saya mendapati Sebag-Montefiore menggunakan pendekatan lain yang mungkin tidak disukai beberapa orang. Anda mungkin mengharapkan buku ini akan menceritakan secara detil sejarah Yerusalem, meski demikian, lagi-lagi Sebag-Montefiore bercerita lebih banyak tidak sekedar bagaimana Yerusalem menjadi Yerusalem, tapi mengenai orang-orang sepanjang sejarah – Daud, Yesus, Santa Helena, Muhammad SAW, Saladin, Richard si Hati Singa, Baldwin, Suleiman Agung, Benjamin Disraeli, Theodore Herzl, Chaim Weizmann – membentuk kota ini. Kisah mengenai Yerusalem dalam buku ini berhenti pada Perang Enam Hari, dengan alasan yang cukup tepat: jika diteruskan, buku ini tidak akan pernah menemui akhirnya. Saya dapat menyetujui pendekatan yang digunakan Sebag-Montefiore sebagai pendekatan yang unik dan jarang ditemukan dalam buku-buku sejarah.

Apa yang Anda akan pelajari mengenai Yerusalem dalam buku ini tentu akan berbeda dibandingkan memelajari sejarah dengan metode pada umumnya. Meskipun bab-bab dalam buku ini disusun secara linear, bab-bab tersebut lebih banyak ditandai oleh siapa yang terdapat pada periode tersebut. Barang tentu ini bukan sekedar biografi mengenai Yerusalem, buku ini juga biografi para tokoh yang membentuk Jerusalem, tepatnya apa yang mereka lakukan di kota suci ini.

Buku ini juga harus dibaca dengan pikiran yang jernih, dan bukan untuk mereka yang ‘pengecut.’ Ukuran fisik buku ini sudah sangat besar, tapi konten buku ini juga terbilang luar biasa. Untungnya, tidak ada detil-detil yang mengganggu dan sulit dipahami, yang mungkin membuat Anda enggan membaca buku ini sampai selesai. Meski demikian, di dalam buku ini [spoiler alert!] terdapat berbagai perspektif tentang tiga agama yang menganggap Yerusalem suci, di dalam kondisi terbaik dan terburuknya. Saya harus menyarankan Anda untuk membaca dengan kepala dingin.

Akhirnya, saya sangat merekomendasikan buku Jerusalem untuk Anda yang tertarik memelajari kota yang luar biasa ini. Ketika saya menyelesaikan buku ini, ketertarikan saya pada kota ini semakin bertumbuh, sebagai satu-satunya kota yang ada di bumi dan di surga, seperti yang diungkapkan Sebag-Montefiore dalam awal bukunya, Anda akan merasakan pengalaman membaca yang membuka cakrawala pikiran Anda, dan Anda mungkin akan memahami mengapa banyak orang menyebut Yerusalem sebagai kota surgawi.

View all my reviews

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s