Seni dan Diplomasi

Tulisan ini merupakan kutipan dari sejumlah bagian dari tulisan ilmiah yang pernah saya buat berjudul “Art Equals Diplomacy”.

***

Bagi Indonesia, diplomasi sudah berada pada suatu tahap yang sama sekali baru: bagaimana menggunakan diplomasi dalam bidang-bidang lain selain politik dan ekonomi. Sudah banyak buktinya. Indonesia mungkin merupakan salah satu pengguna terbaik dari metode diplomasi yang sama sekali berbeda, yang alasannya akan dijelaskan berikut ini. Dalam satu kalimat: Indonesia memiliki kapasitas untuk menjalankan ‘diplomasi yang lain’ ini.

Indonesia memiliki prinsip dasar politik luar negeri bebas aktif untuk politik luar negerinya. Prinsip ini harusnya diterjemahkan sebagaimana pepatah lama “action speaks louder than words.” Terjemahan bebasnya: tindakan lebih dibutuhkan dibandingkan negosiasi di meja perundingan [1].

Secara umum Indonesia memiliki semua potensi untuk melakukan ‘soft diplomacy‘ melalui media musik, tarian, film, dan sastra. Ada beberapa alasan mengapa ini sangat mungkin terjadi:

  1. Multikulturalisme. Salah satu karakter khas Indonesia yang tidak dimiliki negara lain adalah keberagaman budayanya di seluruh Indonesia. Ini sangat bisa menjadi keuntungan, karena dengan diversitas demikian, selalu ada sesuatu yang baru untuk ditemukan, sesuatu lagu untuk dinyanyikan, suatu cerita baru untuk disebarkan, dan seterusnya. Sekitar 13.000 pulau dengan ratusan bahasa, ratusan etnis dan kelompok masyarakat, banyak agama, dan keragaman lainnya yang menjadikan multikulturalisme menyatu dengan Indonesia.
  2. Keyakinan dalam soft diplomacy. Sepanjang menjadi negara berdaulat,Indonesia hanya mengalami 4 konflik fisik serius: Revolusi Nasional Indonesia[1] (1945-1949), pembebasan Irian Barat[2](1961-1963), Konfrontasi dengan Malaysia[3] (1965-1967), dan pendudukan Timor Lester (1975-1976)[4]. Sejak saat tersebut upaya diplomasi melalui perundingan dan perjanjian sudah banyak dilakukan di mana-mana, untuk menyelesaikan permasalahan. Contohnya adalah penyelesaian konflik Sipadan-Ligitan[5].

Kalau kita percaya bahwa ‘musik adalah bahasa universal’, maka Indonesia punya kapasitas untuk memanfaatkan bahasa universal ini demi kepentingannya. Keragamannya tidak dapat ditemui di tempat lain: bahkan Indonesia menggunakan kedua skala musik diatonis dan pentatonis. Keberagaman ini begitu mewarnai musik Indonesia[1].

Mari kita lihat dua hal menarik mengenai musik dan diplomasi Indonesia. Yang pertama adalah pengakuan terhadap talenta-talenta Indonesia. Ada sejumlah talenta musik Indonesia yang diakui secara internasional. Diantaranya, pianis Ananda Sukarlan; penyanyi-penyanyi Indonesia Harvey Malaiholo, Krisdayanti, dan Agnes Monica; dan sejumlah band asal Indonesia yang terkenal dari AS sampai Malaysia. Sejumlah mereka tampak seperti ‘relawan diplomatik’ yang membawa pesan baik untuk hubungan antar negara, seringkali dengan musisi dari negara sahabat juga[2].

Hal kedua adalah musik paduan suara. Indonesia melahirkan banyak sekali paduan suara bertalenta, yang diakui bukan hanya dari mulut, tapi juga dari pencapaian. Di masa lampau, Indonesia mengirimkan banyak paduan suara ke negara lain, seringkali untuk festival internasional. Di antara mereka: Gracioso Sonora Choir dari Malang, Batavia Madrigal Singers dari Jakarta, Paduan Suara Mahasiswa Universitas Tarumanegara dari Jakarta, Paduan Suara Mahasiswa Universitas Katolik Parahyangan dari Bandung, Paduan Suara Mahasiswa Institut Teknologi Bandung, dan Elfa Singers.


[1] This paper, of course, is not a discussion on music. To give readers a brief insight, diatonic scale is the scale that we use the most, consists of seven different tones, while the pentatonic scale is a scale used mainly in traditional music (such as Sundanese music), with only five different tones.

[2] Contoh: Krisdayanti, penyanyi Indonesia, berkolaborasi dengan Siti Nurhaliza, asal Malaysia.


[1] Revolusi Nasional Indonesia terjadi antara Tentara Nasional Indonesia dibantu dengan pejuang dari masyarakat RI melawan tentara Sekutu, di antaranya Belanda, yang berupaya menguasai Indonesia setelah merdeka di tahun 1945.

[2] Pembebasan Irian Barat terjadi 1961-1963, sebagai upaya RI untuk mengembalikan Irian Barat dari tangan Belanda ke Indonesia.

[3] Konfrontasi adalah perintah Presiden Soekarno untuk menahan laju neo-kolonialisme di Asia Tenggara yang datang melalui pembentukan Federasi Malaysia. Konfrontasi akhirnya diakhiri Presiden Soeharto di tahun 1967.

[4] Okupasi Timor Leste di bawah pemerintahan Presiden Soeharto, tahun 1975-1976.

[5] Kasus Sipadan-Ligitan diselesaikan oleh Mahkamah Peradilan Internasional (ICJ), yang akhirnya menyerahkan kedua pulau pada Pemerintah Malaysia.

[6] Santosa, E. (2009, December 19). Gamelan Jadi Materi Ujian Akhir Universitas La Sapienzia. Retrieved September 4, 2010, from Detik News: http://www.detiknews.com/read/2009/12/19/035810/1262564/10/gamelan-jadi-materi-ujian-akhir-universitas-la-sapienzaf


[1] Nau, S. C. (2010, Februari 19). Sejarah Politik Luar Negeri Bebas Aktif. Retrieved September 3, 2010, from Kompasiana: http://umum.kompasiana.com/2010/02/19/sejarah-politik-luar-negeri-bebas-aktif/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s