Fußball Arena München saat Final Liga Champions Eropa 2012

Kala uang jadi raja

Bulan ini, ketakutan terbesar saya tentang sepakbola internasional jadi kenyataan: klub-klub sepakbola yang mengandalkan suntikkan uang untuk membeli pemain-pemainnya (bukan membangun klubnya dari dasar) mendapatkan gelar-gelar juara. Tiga di antaranya tentu patut mendapatkan perhatian:

Chelsea FC baru saja merebut gelar juara Liga Champions Eropa (UEFA Champions League) serta meraih European Double dengan turut merebut Piala FA Inggris (FA Cup) di bawah pelatih sementara Roberto di Matteo. Sudah rahasia umum bahwa Chelsea mengandalkan uang dalam jumlah besar untuk membeli banyak pemain dan gelar terbilang ‘serat’ di tahun-tahun sebelumnya. Delapan pelatih dalam sembilan tahun sejak juragan minyak Rusia Roman Abramovich menyuntikkan modal ratusan juta euro ke dalam klub ini akhirnya mereka bisa meraih piala ‘telinga besar’ (The Big Ears).

Manchester City untuk pertama kalinya mejuarai Liga Primer Inggris (Barclays Premier League) di masa modern setelah meraih poin yang sama dengan klub di urutan kedua, tim sekota Manchester United. Mengejutkan akhirnya tim ini menerobos dominasi the big four yang secara tradisional menjadi pemimpin liga tersebut, setelah musim sebelumnya meraih Piala FA Inggris.

Real Madrid, yang memang sudah jadi langganan juara liga Spanyol, akhirnya menghentikan dominasi Barcelona untuk memenangi gelar Liga Spanyol (La Liga España/BBVA) sambil memecahkan sejumlah rekor, mulai dari gol yang dicetak sampai poin yang diraih. Meski tidak dapat dihindari bahwa Madrid kini memiliki salah satu pelatih terbaik dunia, suntikkan dana untuk membeli sejumlah pemain bintang tentu turut membantu.

Tiga tim ini mematahkan kepercayaan bahwa kesinambungan dan pembinaan berkelanjutan dalam klub sepakbola akan memberikan kesuksesan lebih baik. Di masa lalu, klub sepakbola sangat bergantung pada akademi sepakbola yang didirikannya sendiri. Barcelona dengan La Masia dan Manchester United dengan Carrington tentu menjadi contoh yang baik. Di sisi lain, hal tersebut umumnya disandingkan dengan pelatih yang ‘berumur panjang’. Alex Ferguson baru saja memperingati 25 tahun karirnya bersama Manchester United, meraih 12 dari 20 gelar Liga Primer Inggris dalam masa modern. Hanya saja, gelar pertama Ferguson datang beberapa tahun setelah masa kerjanya dimulai pada tahun 1986, dan jelas tidak instan. Bayangkan jika contoh yang sama diterapkan pada kasus Chelsea, maka kita tidak akan melihat Ferguson kini sebagai salah satu manajer sepakbola terbaik dunia.

Pertanyaan selanjutnya tentu apakah prestasi ini hanya satu kali, sementara, atau bisa jadi berkepanjangan. Tentu saja sulit untuk memungkiri bahwa dalam sepakbola, banyak contoh membuktikan bahwa kesinambungan memberikan prestasi lebih baik. Tidak sedikit juga yang pesimis bahwa klub-klub ini akan terus berprestasi dan menjadi legendaris seperti klub-klub yang memang membangun dirinya secara ground up. Jangan lupa bahwa saya tidak pernah berkata bahwa klub-klub yang membangun dari dasar ini tidak membeli pemain sama sekali: hanya saja bagaimana mereka mendirikan klub tersebut dengan dasar-dasar pembangunan dari dirinya sendiri dengan program pembangunan tim yang tidak semerta-merta diputus begitu saja menjadi penting bagi umur panjang prestasi klub.

Di sisi lain, pertandingan final Liga Champions semalam seolah memberi ‘sertifikat’ kepada klub Bayern München sebagai klub sepakbola ‘tersial’ dalam soal kompetisi kontinental. Mengapa begitu? Dalam 13 tahun terakhir inilah kedua kalinya München gagal mendapatkan gelar Liga Champions ketika mereka berpikir mereka sudah memenangkannya. Kemarin, setelah Thomas Müller mencetak gol di menit ke-83, tentu semua menyangkan piala tersebut akan berpita merah. Bahkan Müller kemudian ditarik keluar untuk van Buyten (sesuatu yang menjadi pertanyaan juga bagi banyak orang). Siapa sangka, pada menit ke-88 terjadi gol penyeimbang. Pertandingan terus berlanjut hingga mereka takluk di adu penalti. Mereka harus gagal ketika mereka begitu yakin piala tersebut menjadi milik mereka.

Tentu yang paling menyeramkan bagi München adalah peristiwa final 1999, juga melawan klub asal Inggris, yaitu Manchester United. Mencetak gol dan unggul pada menit ke-8 lewat Mario Bassler, piala tersebut ‘tinggal dibawa pulang’ sampai menit ke-90, ketika ofisial menetapkan 3 menit waktu tambahan. Dalam 3 menit tersebut, dua orang pemain pengganti Manchester United, Teddy Sheringham dan Ole Gunnar Solksjaer mencetak dua gol yang menghancurkan keunggulan München selama hampir 90 menit. The losers become the winners, demikian kata banyak pengamat.

Demikianlah menariknya sepakbola. Tidak heran sepakbola dan segala intriknya menjadi kecintaan milyaran pasang mata penduduk dunia. Selalu ada kisah baru dari setiap pertandingan, setiap kompetisi, bahkan setiap sepakkan bola. Khusus untuk final Liga Champions kemarin, apakah uang telah berbicara dan lawannya menjadi klub tersial di dunia?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s