cimg2664

Menyoal Lambang Palang Merah

Ketika saya pertama mempublikasikan tulisan berikut di salah satu blog massa, respon yang saya dapat cukup luar biasa. Oleh karena itu, pada kesempatan ini saya akan menampilkan kembali tulisan tersebut secara lengkap, kemudian ikuti sampai akhir di mana saya akan memberikan pembahasan terhadap respon yang saya dapatkan.

***

Sedih rasanya membaca kisah bagaimana sejumlah anggota dewan rakyat kita sedang berpikir begitu banyak uang yang harus dikeluarkan untuk studi banding soal sesuatu yang cukup jelas: Palang Merah. Miliaran rupiah uang yang saudara dan saya bayarkan dalam bentuk pajak harus digunakan untuk pergi memelajari sesuatu yang seharusnya sudah cukup jelas.

Artikel ini bisa jadi bukanlah pembahasan pertama atau satu-satunya mengenai lambang palang merah. Saya hanya akan menawarkan perspektif yang saya miliki, yaitu dari hasil belajar saya beberapa tahun belakangan mengenai Hukum Internasional Pada Masa Perang/Hukum Perikemanusiaan Internasional/Hukum Humaniter Internasional (International Humanitarian Law), di mana gerakan palang merah dan lambangnya sendiri memiliki makna sangat penting. Berikut ulasannya.

Palang merah = agama?

Saya rasa hal ini butuh diklarifikasi, karena lambang palang merah tidak pernahdimaksudkan untuk mereferensikan agama tertentu. Mengapa demikian?

Menurut sejarahnya, lambang palang merah (red cross) merupakan sebuah lambang penghormatan bagi negara Switzerland (Swiss), yang merupakan tempat lahirnya gerakan palang merah internasional. Switzerland merupakan sebuah negara yang ‘ajaib’ dalam percaturan politik internasional: karena netralitasnya. Sampai awal abad ke-21, Switzerland bukanlah negara anggota Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB). Switzerland juga bukan anggota Uni Eropa, dan memilih tidak bergabung dalam berbagai organisasi internasional lainnya. Switzerland sebagai konfederasi modern juga tidak pernah dijamah perang (baik nasional maupun internasional) yang memberikan status spesial Switzerland. Bukan hanya itu, Switzerland merupakan negara demokrasi yang masih mengenal demokrasi langsung (melalui referendum), dan memiliki tujuh (betul, tujuh!) orang presiden yang memegang jabatannya secara bergantian!

Jika Anda mengaitkannya dengan status Komite Internasional Palang Merah (ICRC) sebagai subyek hukum internasional, ICRC memiliki status khusus karena berawal dari sebuah organisasi swasta yang lahir (dan bermarkas) di Switzerland, tapi kini telah ‘dimiliki’ oleh dunia. Dengan demikian, gerakan palang merah memiliki status khusus dengan tujuan kemanusiaan.

Nah, untuk memastikan, mari kita tinjau beberapa fakta berikut:

  • Jika Anda memerhatikan sejarah lahirnya bendera Switzerland (yang digunakan secara kebalikan oleh gerakan palang merah), bendera Konfederasi Switzerland sendiri lahir dari bendera perang (war banner), bukan semata-mata merujuk pada agama tertentu. Di antara berbagai legenda mengapa bendera ini lahir, bendera ini digunakan untuk menyaingi bendera tentara dinasti Habsburg (Austria) yang menggunakan desain yang hampir sama.
  • Jika Anda memerhatikan juga berbagai jenis palang/salib yang ada di dunia, gambar palang/salib bukanlah sesuatu yang sangat modern, apalagi jika semerta-merta langsung dikaitkan dengan satu agama. Jikalaupun satu jenis salib memang melambangkan asosiasi dengan agama tertentu, palang/salib yang dimaksud adalah jenis crux ordinaria, di mana panjang lengan-lengan palangnya tidak sama. Tentu berbeda dengan jenis crux immissa quadrataatau greek cross yang tipikal hanya untuk Kristianitas Timur (Eastern Orthodoxy). Bahkan, untuk lambang palang merah sendiri sudah mulai dijelaskan secara berbeda dari jenis greek cross, untuk pembedaan bahwa munculnya tidak dilatarbelakangi oleh agama.
  • Lalu, apa betul-betul tidak ada pengaruh agama? Tidak untuk menafikan sama sekali, karena Switzerland pernah menjadi tempat lahirnya aliran agama yang besar, yaitu Reformasi Protestan (dengan berbagai tokoh, di antaranya Calvin). Saya sendiri belum menemukan bukti definitif bahwa memang agama sebagai faktor utama yang melatar belakangi munculnya lambang ini, tapi hanya untuk tidak menyingkirkan sama sekali saja.

Untuk menambahkan, lambang palang merah ini telah dikenal secara internasional dan diakui hanya sebagai penghormatan terhadap Switzerland. Berikut hasil Konvensi Jenewa 6 Juli 1906:

“Dengan penghormatan terhadap Switzerland lambang kesatriaan palang merah di atas bidang putih, yang dibentuk dari pembalikan warna-warna Federal (palang putih dengan latar merah – ed.), diteruskan sebagai lambang dan tanda pembeda dari bagian kesehatan ketentaraan.”

Bulan sabit merah

Bulan sabit merah memang memiliki latar belakang religius, tapi bukan semata-mata alasan agama. Hal ini pertama muncul pada perang di antara Kekaisaran Ottoman (Utsmaniyah) dan Russia di akhir abad ke-19. Tentu kita tahu bahwa Ottoman merupakan kekaisaran yang sangat luar biasa di bidang peradaban Islam. Meski demikian, perlu diketahui bahwa pada masa tersebut terdapat kontestasi politik yang luar biasa, di mana negara-negara di benua Eropa melakukan kolonialisasi dan ekspansi wilayah luar biasa di luar wilayah Eropa. Asia dan Afrika tentu menjadi sasaran utama. Saya bisa mengasosiasikan bahwa ada faktor pragmatis juga dalam hal ini: kedua pasukan perlu memenangkan perang ini. Kalau kemudian kaum Ottoman berpendapat bahwa lambang palang merah bisa menjadi masalah karena berbau religius, patut dipahami konteksnya pada zaman yang bersangkutan. Lambang ini sendiri baru diterima pada tahun 1906 secara de facto, karena pada awalnya dunia masih menginginkan adanya lambang yang universal dan satu untuk fungsi kemanusiaan yang sama.

Kini, lambang bulan sabit merah digunakan di lebih dari tiga puluh negara. Meski demikian, perlu diperhatikan bahwa negara-negara yang menggunakan bulan sabit merah umumnya adalah negara yang berdasarkan satu agama tertentu. Mari kita lihat beberapa contohnya:

Melihat lima contoh di atas, lambang bulan sabit merah digunakan negara-negara yang secara konstitusional mengakui agama resmi negara. Jika kita bandingkan dengan kasus Indonesia, Anda tentu tahu bahwa konstitusi Indonesia (UUD NRI 1945) tidak mencantumkan adanya negara agama atau satu agama negara. Justru di pasal 29 dan berbagai bagian di pasal 28 mengakui kebebasan beragama.

Dengan demikian, apakah jika penggunaan palang merah memiliki tendensi agama tertentu, bulan sabit merah menjadi jawaban? Menurut saya, tentu tidak.

Kristal merah

Beberapa tahun yang lalu, satu protokol tambahan (Additional Protocol) ditambahkan ke dalam Konvensi-konvensi Jenewa (Geneva Conventions of 1949) mengenai tanda-tanda pengenal tambahan (Additional Distinctive Emblem). Protokol ini menghasilkan satu lambang baru bernama Kristal Merah (red crystal), yang umumnya digunakan jika lambang palang merah dan bulan sabit merah menimbulkan persoalan.

Gagasan mengenai lambang selain palang merah (dan sabit merah) bukanlah gagasan baru. Israel pernah menuntut adanya Bintang Daud Merah (Red Star of David), kekaisaran Persia — kemudian Iran — pernah menuntut adanya Singa dan Matahari Merah (Red Lion and Sun). Berbagai negara lain memiliki gagasannya masing-masing. Meski demikian, pembedaan-pembedaan ini mengaburkan gagasan utama bahwa harus ada lambang universal yang dipahami bersama-sama demi tujuan kemanusiaan.

Sejak penyusunan Konvensi-konvensi Jenewa pada tahun 1949, salah satu organisasi kemanusiaan Israel menuntut diakuinya Bintang Daud Merah sebagai lambang pengenal. Organisasi bernama Magen David Adom ini justru mendapat tentangan hebat bukan hanya dari negara-negara kawasan (yang dengan mudah memersoalkan lambang ini), tapi juga dari berbagai komunitas internasional lainnya.

Lambang ketiga ini baru disepakati pada tahun 2005, dan disahkan pada tahun 2007. Kini, kristal merah diterima sebagai lambang pengenal ketiga yang menandakan pihak-pihak yang patut dilindungi selama konflik bersenjata, sesuai dengan Hukum Humaniter Internasional.

Mengapa palang merah?

Kebingungan saya yang pertama adalah: jika tidak mau gunakan palang merah karena tendensi agama, mengapa tidak memikirkan kristal merah saja? Meski demikian bukan itu masalahnya. Menurut saya, lambang palang merah patut dipertahankan karena satu alasan mudah: universalitas.

Mayoritas negara di dunia, dalam arti national society, masih menggunakan palang merah (~150 negara). Bukan hanya karena mayoritasnya saja, tapi mudah dipahami bahwa lambang palang merah sudah dikenal sangat luas (bahkan mungkin sudah diajarkan sejak kecil) sebagai lambang medis, lambang orang yang harus dilindungi, lambang bantuan, dan sebagainya. Karena pengenalan universal inilah, lambang palang merah mudah untuk dipertahankan.

Mengalihkan lambang kepada lambang lain hanya akan menambah persoalan — bukan hanya karena solusi yang ditawarkan sebetulnya tidak menjawab, tapi karena proses peralihan yang tentu tidak mudah — dan barang pasti akan membutuhkan biaya lebih. Belum lagi kita membicarakan biaya yang sekarang harus dikeluarkan untuk studi banding.

Kehebatan dari lambang palang merah adalah karena letaknya yang ada di bawah alam sadar (sub-conscious mind), bahwa ketika kita melihat lambang palang merah, kita tahu apa korelasinya: baik itu masalah medis, rumah sakit, pertolongan pertama, atau jika dilihat dalam konteks besar, perlindungan dalam konflik bersenjata. Ketika melihat palang merah, sudah tertanam dalam benak kita bahwa lambang ini ada kaitannya dengan upaya kemanusiaan secara universal. Inilah keperkasaan lambang palang merah!

Dengan demikian, seperti yang digalang Palang Merah Indonesia (PMI), yaitu “1 negara, 1 lambang, 1 gerakan”, maka bagi saya lambang palang merah masih menjadi lambang terbaik. Bukan karena tendensi agama, bukan karena mudah; tapi karena universalitas, dan tujuan mulia di baliknya: universal untuk kemanusiaan.

Untuk mengakhiri, ijinkan saya menuliskan tujuh prinsip dasar (Fundamental Principles) dari Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional:

  • Kemanusiaan (humanity): untuk memberikan bantuan tanpa diskriminasi, melindungi hidup dan kesehatan, mempromosikan saling pengertian, persahabatan, kerja sama dan perdamaian kekal
  • Imparsial (impartiality): tidak mendiskriminasi berdasarkan kebangsaan, ras, agama dan kepercayaan, kelas, atau opini politik
  • Netral (neutrality): tidak memihak ketika terjadi permusuhan (hostilities), tidak terlibat dalam kontroversi politis, rasial, agama atau ideologis
  • Kebebasan (independence): bebas dan tidak terikat sehingga dapat menjalankan prinsip-prinsip Gerakan ini dengan baik
  • Kesukarelaan (voluntary service): didirikan atas dasar suakrela dan tanpa maksud untuk mendapat keuntunga
  • Kesatuan (unity): hanya boleh ada satu Palang Merah atau Bulan Sabit Merah dalam satu negara, harus terbuka dan menjalankan maksud-maksud kemanusiaan dalam negara tersebut
  • Universal (universality): memiliki status dan tanggung jawab yang sama dalam menolong orang lain yang membutuhkan

Jadi, demi prinsip-prinsip gerakan Palang Merah, tidakkah lebih baik kita pertahankan lambang Palang Merah dan Gerakan Palang Merah Indonesia yang selama ini telah membuat kita bangga?

Bagi saya, jawabannya: ya!

Berbagai sumber

International Committee of the Red Cross dan International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies, Handbook of the International Red Cross and Red Crescent Movement, 14th Edition, 2008.

Buignion, François, Red Cross, Red Crescent, Red Crystal, 2007.

***

Setelah dibaca hampir dua ribu kali oleh berbagai pembaca, saya mendapatkan berbagai respon, yang pada umumnya mengutuk keras tindakkan para anggota dewan yang memutuskan untuk pergi studi banding jauh-jauh untuk memelajari sesuatu yang tidak sepatutnya dilakukan. Mengapa demikian? Karena, seiring dengan respon ‘kutukan’ tersebut, responden (yang menuliskan komentar) pada umumnya menolak jika lambang palang merah harus diganti. Saya menghargai sikap demikian, karena seperti yang saya telah tuliskan di atas, tidak ada alasan berarti mengapa lambang palang merah harus diganti, apalagi jika muncul prejudis tertentu bahwa lambang ini merupakan lambang keagamaan.

Meski demikian, tetap terdapat sedikit responden yang menyetujui pergantian lambang tersebut. Lagi-lagi, saya menghargai sikap tersebut, khususnya dengan mengingat bahwa sebagai warga negara kita memiliki kebebasan berekspresi. Hanya saja, saya tetap berpegang pada pendirian saya, bahwa lambang palang merah harus dipertahankan dan tidak ada alasan untuk menggantinya.

Yang lebih mengagumkan adalah ketika membaca bagaimana besarnya dukungan bagi lambang palang merah untuk dipertahankan — termasuk dari anggota Palang Merah Indonesia sendiri. Tentu patut kita kagumi bahwa mereka yang telah bekerja siang dan malam demi kemanusiaan tidak perlu memikirkan apakah lambang akan memengaruhi kerja mereka atau tidak. Maka sempurnalah tujuh prinsip dasar gerakan kepalangmerahan bisa kita lihat, bahwa universalitas gerakan ini demi kemanusiaan tidak perlu dicampuradukkan dengan prejudis yang tidak perlu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s