Categories
International Relations

SIHI 1: Pengantar Studi Hubungan Internasional

Apakah Hubungan Internasional Itu?

Pernahkah Anda sebagai mahasiswa HI bertanya, apakah HI itu, mengapa Anda belajar HI, dan pertanyaan-pertanyaan fundamental lainnya mengenai HI? Bahyak mahasiswa bahkan tidak pernah memikirkan pertanyaan-pertanyaan seperti ini (apalagi jawabannya), dengan demikian patut rasanya jika buku ini diawali dengan pertanyaan-pertanyaan mendasar tersebut, tentu kini bersama dengan jawabannya.

Apakah HI itu? Studi HI tidak pernah mendapatkan definisi yang seragam dari para akademisi dan pengamatnya. Meski demikian, pada umumnya kita bisa sepakat bahwa studi HI adalah bidang kajian ilmu yang memelajari interaksi antara berbagai aktor yang dikenal dalam studi ini, khususnya aktor negara (yang mendominasi studi HI dalam awal kelahirannya), dan juga aktor non-negara (misalnya lembaga dan organisasi internasional) serta intereakhir di antara kedua aktor tersebut.

Dalam banyak hal, ilmu HI merupakan ilmu yang belum terdefinisi secara sempurna (bahkan dengan upaya kita mengartikan studi HI di atas). Ilmu yang terbilang muda (khususnya jika dibandingkan dengan berbagai ilmu seperti Fisika dan Matematika) ini duduk di persimpangan berbagai disiplin ilmu, yang seringkali saling mendukung, tapi tidak jarang saling menelikung. Pada berbagai kesempatan, ilmu HI sering disinonimkan dengan ilmu Politik Internasional, sehingga HI sering dianggap tidak lebih dari perpanjangan tangan Ilmu Politik semata. Berbagai pandangan juga menganggap ilmu HI sebagai ilmu yang terlalu eklektik sehingga batasan-batasan ilmunya terkadang kabur.

Setidaknya di berbagai institusi pendidikan tinggi di Indonesia, ilmu HI ditempatkan di bawah Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) atau ditempatkan dalam berbagai institut sosial politik lainnya. Hal ini menandakan suatu perbedaan yang cukup sederhana antara perkembangan ilmu HI di Indonesia dan di berbagai negara yang telah memahami kedalaman ilmu HI: Banyak institusi di berbagai negara (misalnya Amerika Serikat) menempatkan HI sebagai satu fakultas tersendiri, atau bahkan satu institusi pendidikan tersendiri, dan tidak ditempatkan sebagai subordinat kajian Ilmu Politik.

Kesan batas-batas keilmuan yang kabur itu mudah kita temui ketika kita memelajari ilmu HI. Untuk membandingkan, cukup mudah bagi kita untuk meletakkan batas-batas ilmu Ekonomi, tujuan ilmu tersebut, arahnya, dan metode yang mudah direplikasi oleh banyak orang sehingga seluruh pengamat dan ahli dapat melakukan kembali berbagai penelitian dengan metode serupa. Bandingkan dengan ilmu HI, di mana terdapat ribuan pertanyaan (meskipun, seperti yang akan Anda lihat di bawah, sebenarnya ilmu HI lahir dari satu pertanyaan), berbagai macam teori yang berusaha menciptakan generalisasi, berbagai metode penelitian, baik metode sosial yang merupakan turunan dari berbagai ilmu-ilmu sosial, atau menggunakan upaya-upaya mengadopsi metode-metode ilmiah (scientific) dan objyektif yang terdapat pada ilmu alam untuk meneliti bagaimana manusia bertindak.

Di sisi lain, sifat studi HI yang memelajari interaksi tidak terlepas dari asal mula lahirnya studi HI. Studi HI yang kita kenal kini lahir dari sebuah pertanyaan besar: Mengapa negara-negara berperang? (Why nations go to war?) Pertanyaan ini muncul seusai perang terbesar pertama, Perang Dunia I (1914-1918), sebuah konflik berskala besar, yang ironisnya pada masanya dikenal sebagai ‘perang yang akan mengakhiri segala perang’ (the war to end all wars). Usai perang besar tersebut para ahli mencoba mencari jawaban akan pertanyaan tersebut, dan lebih utamanya, mencari solusi bagaimana mencegah perang semacam ini untuk terjadi lagi di masa depan. Upaya mencari jawaban-jawaban inilah yang kemudian mendasari lahirnya HI sebagai sebuah kajian studi.

Gedung Politik Internasional di Aberystwyth University, Wales.

Bertentangan dengan kesalahpahaman pada umumnya, studi HI tidak lahir di Amerika Serikat. Bahkan ketika Stanley Hoffmann, seorang akademisi HI, menyebut HI sebagai ‘an American social science‘ (sebuah kajian sosial Amerika),[1] HI lahir justru di Britania Raya, tepatnya di Aberystwyth University, sebuah universitas di Wales, yang pada tahun 1919, setahun setelah berakhirnya Perang Dunia I, membuka Departemen Politik Internasional, dan memberikan jabatan guru besar ilmu Politik Internasional dengan nama presiden Amerika Serikat saat itu yang menggagas lahirnya Liga Bangsa-bangsa (LBB), Woodrow Wilson.[2] Aberystwyth University percaya bahwa upayanya membuka program studi ini berguna untuk mencari jawaban upaya mencegah terjadinya konflik seperti Perang Dunia I di masa depan. Universitas terkemuka ini kemudian memiliki berbagai tenaga pendidik yang kemudian cukup terkenal sebagai pakar HI, misalnya Edward Hallett Carr, Andrew Linklater, Steve Smith, dan sebagainya (nama-nama ini akan sering Anda temui seiring Anda membaca buku ini).

Hans J. Morgenthau (1904-1980)

Proliferasi studi HI modern kemudian meningkat ke luar wilayah Britania Raya, khususnya ke Amerika Serikat. Faktanya, banyak akademisi asal Amerika Serikat yang kemudian membidani lahirnya berbagai teori-teori utama HI yang kini dipelajari mahasiswa HI di seluruh dunia. Sebut saja Hans Morgenthau (Realisme Klasik), Kenneth Waltz dan John J. Mearsheimer (Neorealisme/Realisme Struktural), Robert Keohane (Liberalisme Interdependensi), dan Joseph Nye, Jr. (gagasan kuasa lunak/soft power). Pembelajaran HI yang semakin berkembang di Amerika Serikat, didorong oleh semakin banyaknya teori-teori HI kelahiran Amerika Serikat, mendorong munculnya julukan HI sebagai American study. Hal ini pula yang kemudian melahirkan berbagai teori lain, atau sering juga disebut mazhab (school), misalnya Mazhab Inggris (English School) yang dilahirkan oleh berbagai pakar asal Britania Raya dan Australia seperti Hedley Bull.

Kini, studi HI telah tersebar di seluruh dunia, tidak hanya terpusat pada Amerika Serikat dan Britania Raya, meskipun kedua negara tersebut tetap dianggap sebagai pusat perkembangan studi HI bahkan hingga masa kini. Di Indonesia kini telah terdapat lebih dari empat puluh universitas yang menawarkan gelar sarjana strata satu dari jurusan Hubungan Internasional dengan berbagai ragam fokus.

KOTAK SATU

BERBAGAI UNIVERSITAS DENGAN PROGRAM STUDI HUBUNGAN INTERNASIONAL

Hingga kini di Indonesia telah terdapat lebih dari empat puluh universitas, baik negeri maupun swasta, yang menawarkan program studi HI dalam berbagai tingkatan, khususnya pada tingkatan strata satu, yang memberikan baik gelar Sarjana Ilmu Politik (S.IP.) atau Sarjana Ilmu Sosial (S.Sos.) bagi para lulusannya. Beberapa universitas di Indonesia yang menawarkan program studi HI di Indonesia:

  • Universitas Indonesia (Jakarta)
  • Universitas Katolik Parahyangan (Bandung)
  • Universitas Gadjah Mada (Yogyakarta)
  • Universitas Padjadjaran (Bandung)
  • Universitas Paramadina (Jakarta)
  • Universitas Brawijaya (Malang)
  • Universitas Pelita Harapan (Jakarta)
  • Universitas Moestopo (Beragama) (Jakarta)
  • Universitas Nasional (Jakarta)
  • Universitas Hasanuddin (Makassar)
  • Universitas Riau (Pekanbaru)
  • Universitas Bina Nusantara (Jakarta)

Tahapan dan Pembelajaran Hubungan Internasional

Perlu diketahui bahwa studi HI merupakan studi yang sangat luas (sebagaimana akan tercermin di bawah ini pada pembahasan mengenai ruang lingkup studi HI), dan cukup kompleks, meskipun premis dasarnya hanya untuk memelajari berbagai macam interaksi yang terjadi di sistem internasional. Perkembangan terkini yang menempatkan studi HI pada tahapan pendidikan tinggi paling dasar (yaitu pada strata satu atau undergraduate) mengindikasikan perlunya dibahas tahapan pembelajaran studi HI.

Pada awalnya, studi HI merupakan studi tingkat lanjut, yang biasanya diperuntukkan bagi mahasiswa lulusan Ilmu Politik. Dengan memelajari Ilmu Politik pada tingkat pertamanya, diharapkan saat mahasiswa tersebut melanjutkan pendidikan tingginya di tahap berikutnya, ia sudah mendapatkan pemahaman yang cukup terperinci mengenai politik antar bangsa dan bagaimana politik suatu negara kemudian termanifestasi dalam caranya berhubungan dengan negara lain.

Kini, studi HI telah dipelajari di tingkat pertama, sehingga para pembelajar ‘dipaksa’ untuk menjejalkan berbagai pengetahuan dasar dari beberapa bidang. Para mahasiswa HI pada semester pertamanya umumnya akan mendapatkan dasar-dasar berbagai ilmu, misalnya Ilmu Politik, Ekonomi, Hukum, dan lainnya. Tentu ada dua sudut pandang mengenai hal ini: penjejalan ini bisa dilihat sebagai suatu pengecoh yang membuat pembelajar menjadi tidak fokus atau hanya menyebabkannya tidak bisa mengetahui banyak hal secara maksimal; atau pandangan lain yang menganggap bahwa dengan demikian para pembelajar HI setidaknya ‘tahu sedikit tentang banyak hal’ mengigat berbagai bidang yang harus dipelajarinya.

Memang pada awalnya studi HI dipandang sebagai studi lanjutan. Menurut Charles A. McClelland, sebagaimana dikutip oleh Mohtar Mas’oed, studi HI awalnya dipandang sebagai sebuah studi yang menuntut banyak kemampuan intelektual, dengan demikian hanya dapat dipelajari oleh mahasiswa pascasarjana yang sudah cukup matang. Hal ini didasarkan khususnya pada alasan-alasan berikut: dibutuhkannya pengetahuan dasar yang mendalam terhadap berbagai bidang seperti sejarah dan bahasa untuk memahami pemikiran dan perasaan suatu bangsa, dibutuhkannya pengalaman langsung untuk memahami pemikiran dan perasaan suatu bangsa tersebut dengan cara tinggal di wilayah bangsa tersebut, serta dibutuhkannya ruang lingkup penelitian yang terbatas untuk mendapatkan hasil penelitian yang seksama dan mendalam.[3]

Menurut Mohtar Mas’oed, dengan meninjam istilah dari Michael Oakshot, pembelajar HI pada tingkat dasar belajar untuk menguasai “bahasa” ilmu HI. Pemahaman ini didapat dengan membandingkan seorang bayi yang masih kecil, di mana pada tahap-tahap awal kehidupannya ia harus memelajari “bahasa” manusia, yang menjadi alat komunikasi utamanya. Pembelajaran mengenai “bahasa” inilah yang akan membantu seorang pembelajar HI memahami “cara berpikir” untuk menelaah berbagai fenomena hubungan internasional. Mas’oed menyimpulkan tahap ini sebagai pemahaman “konsep-konsep dasar” ilmu HI.[4] Setelah penguasaan “bahasa” itulah baru pembelajar HI baru bisa melanjutkan ke tahap yang lebih tinggi, yaitu “keterampilan berbahasa” atau “kesusateraan” HI, di mana pembelajar tersebut akan bisa mendayagunakan “bahasa” yang telah dipelajarinya di tahap yang lebih rendah untuk dapat memahami berbagai fenomena-fenomena hubungan internasional.[5]

Orientasi Modern Studi HI

Jika pada awalnya studi HI berfokus pada pertanyaan mengapa negara-negara berperang, dan mencari upaya-upaya untuk mencegahnya, di masa kini telah terdapat berbagai pergeseran, atau setidaknya perkembangan, terhadap orientasi tersebut. Meski tidak sepenuhnya ditinggalkan, terdapat pertanyaan-pertanyaan baru yang berusaha dijawab oleh studi HI. Misalnya menurut Joshua S. Goldstein dan Jon C. Pevehouse, studi HI di masa kini berpusat pada satu pertanyaan penting, yaitu bagaimana suatu kelompok (dua negara atau lebih) dapat mengusahakan kepentingan bersama (collective interests), ketika kelompok tersebut diharuskan mengabaikan kepentingannya sendiri (individual interests).[6] Dengan demikian, menurut kedua sarjana ini, studi HI kini berfokus kepada apa yang disebut sebagai permasalahan milik bersama (collective goods problem), di mana di dalamnya berputar gagasan dan masalah seperti aksi bersama (collective action), mendompleng (free riding), membagi beban (burden sharing), tragedi orang biasa (tragedy of the commons) atau dilema tahanan (prisoner’s dilemma).

Mengapa memelajari studi HI?

Tentu terdapat sebuah pertanyaan yang penting untuk dijawab: Mengapa kini kita harus memelajari studi HI? Untuk menjawabnya, Anda harus memerhatikan dengan cermat apa yang terjadi di dunia dalam dua hingga tiga dekade terakhir. Dinamika hubungan internasional menjadi begitu menarik, dan lebih dinamis jika dibandingkan dengan berbagai periode sebelumnya. Tentu, kita mengingat abad ke-20 sebagai abad konflik, di mana 10 tahun di antaranya dihabiskan untuk dua perang dunia (1914-1918 dan 1939-1945). Meski demikian, fenomena hubungan internasional pada dua dekade terakhir menjadi sangat menarik untuk dicermati.

Karya Francis Fukuyama yang cukup terkenal, yaitu The End of History and the Last Man

Jika Anda memulai pandangan Anda mulai dari awal dekade 1990-an, Anda melihat berakhirnya Perang Dingin, sebuah konflik antara dua kubu yang berseberangan ideologi dan mendefinisikan hubungan internasional selama lebih dari lima dekade. Runtuhnya Uni Soviet, satu dari dua kubu berkonflik tersebut, seolah ‘menggambar ulang’ (redraw) peta dunia dengan munculnya negara-negara baru pecahan uni republik tersebut. Fenomena tersebut turut memunculkan gagasan bahwa pada akhirnya kita akan menjelang suatu ‘akhir sejarah’ (end of history) dengan munculya ideologi liberalisme (dan demokrasi) sebagai ‘ideologi pemenang.’[7] Dua tahun kemudian, Uni Eropa mulai menampilkan wujud modernnya ketika pada tahun 1992 negara-negara anggotanya menandatangani Traktat Maastricht, yang membuat integrasi regional para negara anggotanya semakin erat—dan tidak ada duanya—yang kini bahkan telah diwujudkan dengan penyatuan mata uang di antara sebagaian anggotanya.

Dekade 1990-an juga diwarnai dengan meningkatnya kerjasama ekonomi antar negara. Munculnya Kerjasama Ekonomi Asia-Pasifik (Asia-Pacific Economic Cooperation, APEC) sejak akhir tahun 1980-an, ditandatanginya Kesepakatan Perdagangan Bebas Amerika Utara (North American Free Trade Agreement, NAFTA) pada tahun 1994, serta kerjasama Uni Eropa meniad contoh-contoh baik fenomena ini. Meski demikian, pada saat hampir bersamaan muncul pandangan bahwa konflik di masa modern akan terjadi bukan karena masalah kepentingan atau masalah ekonomi atau masalah militer, melainkan akan didasarkan pada ‘benturan peradaban’ (clash of civilizations).[8]

Serangan teroris pada 11 September 2001 yang menghantam dua menara World Trade Center di New York, Amerika Serikat.

Pandangan ini seolah terbukti pada awal abad ke-21, ketika pada tahun 2001 sekelompok teroris fundamentalis menabrakkan pesawat penumpang sipil ke menara World Trade Center di kota New York, gedung Pentagon di Washington D.C., dan menjatuhkan yang lain di Pennsylvania.[9] Pada titik inilah dunia dihadapkan pada ancaman internasional yang baru, yaitu terorisme. Meski ancaman serius ini bermula dari Amerika Serikat pada September 2001, dunia kemudian sadar betapa besarnya masalah ini, ketika kasus terorisme bermunculan di belahan dunia lain, misalnya di India (2008), Spanyol (2004), Britania Raya (2005), dan termasuk Indonesia (2002, 2005). Negara-negara sibuk berusaha mengatasi kasus terorisme, sementara mereka tetap aktif dalam melakukan kerjasama ekonomi.

Pengaruh teknologi juga membuat studi HI, dan bagaimana kita memelajari hubungan internasional, menjadi lebih dinamis. Masyarakat semakin mudah mengetahui perkembangan dunia melalui jejaring sosial populer seperti Facebook dan Twitter. Berita baru dapat diketahui hanya dalam hitungan detik ribuan kilometer jauhnya. Semakin mudahnya masyarakat mendapatkan informasi, semakin mudah pula masyarakat memberikan tekanan (pressure) pada aktor-aktor sentral hubungan internasional, seperti para pembentuk kebijakan (policy makers) di tataran negara. Hal ini telah terjadi berulang kali, menunjukkan bahwa kita, anggota masyarakat pada umumnya, semakin tidak terpisahkan dari fenomena hubungan internasional pada umumnya di masa modern ini.

Keterbukaan ini juga membuat paparan akan isu-isu hubungan internasional (exposure) kepada masyarakat semakin tinggi, sehingga tidak saja masyarakat menjadi semakin ingin tahu terhadap perkembangan berbagai isu hubungan internasional, namun kini dengan mudah masyarakat dapat terlibat dalam berbagai diskursus mengenai isu-isu tersebut. Salah satu contoh yang menarik adalah bagaimana ketika Perang Irak II bermula pada Maret 2003, berbagai stasiun televisi beramai-ramai menayangkan ulang siaran dari kanal-kanal asal Timur Tengah, melayani dahaga masyarakat Indonesia akan informasi mengenai Irak. Pakar-pakar dan pengamat-pengamat hubungan internasional dari berbagai bidang spesialisasi juga dimintai pendapatnya. Hal ini menunjukkan bagaimana masyarakat semakin ingin tahu dan semakin ingin terlibat dalam fenomena hubungan internasional di sekitarnya.

Kembali kepada pertanyaan awal kita, bagaimana fenomena-fenomena yang terjadi ini menjawab kepentingan kita untuk memelajari studi HI? Pada prinsipnya, kita membutuhkan studi HI untuk bisa beradaptasi dengan situasi dunia di masa modern ini. Ketika kita menghadapi berbagai fenomena seperti perdagangan internasional, ketakutan akan ancaman terorisme, dan sebagainya, sebagai anggota masyarakat kita memiliki kebutuhan untuk mengetahui, memahami, dan merespon dengan tepat perkembangan yang ada. Pengetahuan tentang HI yang tepat akan membantu kita untuk memahami situasinya dengan lebih baik,

Pembelajaran HI juga bisa berperan sangat signifikan untuk melengkapi pengetahuan kita yang terfokus pada satu bidang tertentu. Salah satu contoh favorit saya adalah bagaimana studi HI dapat mendukung para pembelajar Ilmu Ekonomi. Seorang akademisi Ilmu Ekonomi dapat memahami permintaan dan penawaran, masalah uang dan inflasi. Meski demikian, ilmunya tidak akan lengkap jika tidak turut memelajari HI, misalnya mengenai krisis global, sistem perbankan internasional, kondisi politik negara adikuasa, dan sebagainya. Studi HI dengan demikian dapat memperluas khazanah pengetahuan yang dimiliki seseorang.

One reply on “SIHI 1: Pengantar Studi Hubungan Internasional”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s