Categories
International Relations

SIHI 1: Pengantar Studi Hubungan Internasional

Sifat: Multidisipliner atau Interdisipliner?

Kedua kata ini seringkali digunakan secara bergantian untuk menyebut sifat unik studi HI. Berbeda dengan berbagai bidang studi lain seperti Matematika, atau bahkan Ekonomi atau Ilmu Politik, sifat studi HI memaksa para pembelajarnya untuk menggunakan banyak ilmu untuk mendapatkan pemahaman yang menyeluruh mengenai suatu fenomena hubungan internasional.

Jika Anda perhatikan dua kata di atas, perbedaannya terdapat pada prefiks yang melekat pada kata ‘disiplin,’ yaitu multi- dan inter-. Meskipun tampak sepele, perbedaan prefiks ini bermakna cukup penting. Jika meninjau dari New Oxford American Dictionary, prefiks ‘multi-‘ bermakna more than one atau lebih dari satu, sehingga hanya menekankan pada jumlah (kuantitas).[33] Di sisi lain, prefiks ‘inter-‘ berarti between, among, mutually, reciprocally, atau di antara, bersama, bersamaan, atau terjadi dua arah; dengan demikian prefiks inter- menekankan bukan hanya pada masalah jumlah (yang secara implisit sudah tercermin dari definisinya, tidak mungkin definisi between terjadi pada kebendaan tunggal), melainkan juga kepada hubungan di antara berbagai kebendaan tersebut.[34]

Maka, yang mana yang benar? Apakah studi HI merupakan studi yang multidisipliner, atau studi yang interdisipliner? Pengamat yang jeli akan menjawab ‘interdisipliner’ karena saya telah menyimpulkan demikian di permulaan bab ini. Meski demikian, patut kita lihat lebih dulu bagaimana studi HI lahir dari berbagai macam studi lain yang akhirnya mengarahkan kepada lahirnya studi HI.

Salah satu eksplanasi yang paling menarik mengenai hubungan studi HI dengan berbagai kajian ilmu lainnya, yang juga membuat sifat interdisiplinaritasnya tidak dapat dibantah, datang dari Christer Pursiainen, akademisi asal University of Helsinki. Dalam penjelasan Pursiainen, kelahiran disiplin HI berasal dari lima bidang ilmu utama: Ekonomi, Kajian Strategis, Sejarah, Filsafat, dan Hukum Internasional.[35]

Ilmu I: Ekonomi

Turunan pertama adalah dari Ilmu Ekonomi. Sebelum lahirnya disiplin HI pada dekade 1920an, terdapat tiga gagasan utama dari Ilmu Ekonomi yang turut melahirkan disiplin HI: (1) gagasan ekonomi kapitalis dari Adam Smith, (2) gagasan ekonomi sosialis-komunis dari Karl Marx, dan (3) teori-teori mengenai imperialisme. Usai berakhirnya Perang Dunia II dan pada masa Perang Dingin, turunan dari gagasan ekonomi ini turut melahirkan pandangan-pandangan baru dalam ranah disiplin HI, termasuk Dependensia (ketergantungan), teori-teori Kritikal (Critical Theories), serta bersinggungan dengan kajian Kemanusiaan (Humanities) dan melahirkan Feminisme, Postmodernisme, dan Poststrukturalisme.

Ilmu II: Kajian Strategis

Carl von Clausewitz (1780-1831)

Salah satu penyumbang gagasan utama dari Kajian Strategis menurut Pursiainen adalah Carl von Clausewitz, seorang ahli strategis terkenal asal Jerman, pada abad ke-19. Paska Perang Dunia II, bukan hanya memengaruhi lahirnya disiplin ilmu HI, melainkan juga bersinggungan dengan Ilmu Sejarah untuk melahirkan paham Realisme. Dalam perkembangannya di masa kini, Kajian Strategis pada konteks ilmu HI juga digagas untuk memiliki interdisiplinaritasnya sendiri, dengan demikian ketika berbicara ‘strategi’ seorang pembelajar HI tidak lagi dibatasi oleh konsepsi lama bahwa ‘strategi’ harus terkait dengan militer dan pertahanan, melainkan telah melebar kepada strategi ekonomi, perdagangan, pemasaran, dan sebagainya.

Ilmu III: Sejarah

Peran Ilmu Sejarah dalam perkembangan studi HI sangat tidak dapat dipisahkan. Sebagaimana telah ditelaah secara cukup mendetail oleh Mas’oed, studi mengenai fenomena hubungan internasional, khususnya pada sebelum Perang Dunia II sangat terkait dengan pembelajaran Sejarah, sehingga studi demikian diidentikkan, atau menjadi bagian dari Ilmu Sejarah yang lebih luas. Sulit pula untuk menghindari fakta bahwa pemahaman hubungan internasional kita di masa sekarang berasal dari para sejarawan masa lalu, yang “… telah menimbun catatan tentang berbagai peristiwa (,) dan dengan kumpulan data itulah ilmu ini dikembangkan.”[36] Metode historispun telah menjadi salah satu bagian besar dari ilmu HI hingga kini. Bahkan peran Ilmu Sejarah di pembelajaran HI masa modern ini tidak terlepaskan. Umumnya, para pembelajar HI akan memelajari sejarah masa lalu untuk memahami berbagai fenomena yang terjadi, dan untuk mendapatkan kesimpulan. Realisme dan Liberalisme/Utopianisme pada lahirnya merupakan hasil dari pembelajaran Sejarah yang sangat intensif.[37]

Ilmu IV: Filsafat

Memelajari Filsafat, khususnya Filsafat Politik, juga sangat dibutuhkan dalam studi HI. Berbagai teori dan paradigma dalam studi HI masa kini pada dasarnya merupakan turunan, adaptasi, atau pengembangan dari berbagai perspektif filsafat politik di masa lalu. Misalnya, cara kita memahami konflik (perang) pada masa kini, sangat mungkin dipengaruhi dengan cara manusia memahami konflik (perang) sejak dulu, seperti Sun Tzu yang menganggap bahwa perang merupakan salah satu alat terpenting bagi suatu negara untuk memengaruhi (menaklukkan) lawannya.

Ilmu V: Hukum Internasional

Hugo Grotius (1583-1645)

Gagasan bahwa Hukum Internasional sangat berperan dalam perkembangan dan aplikabilitas studi HI kini bukan untuk membuat pretensi adanya tendensi terhadap pandangan Liberalisme yang sangat mengagungkan hukum internasional. Peran Hukum Internasional di sini lebih penting dari sekedar untuk dimanfaatkan: Hukum Internasional meletakkan berbagai dasar keteraturan bahkan sebelum hukum internasional mendapatkan bentuknya masa kini, dalam traktat, konvensi, hukum kebiasaan, dan lain sebagainya. Filsafat Hukum Internasional yang diutarakan oleh beberapa pakar, misalnya Hugo Grotius dan pandangannya mengenai hukum alam memengaruhi cara pandang para pembelajar mengenai hubungan internasional.

Bagaimana Kini?

Bahkan jika kita menilai studi HI masa kini, sulit untuk mengisolasi pembelajaran HI hanya pada salah satu unsur dari kelima ilmu di atas. Sulit memelajari hukum internasional dalam konteks HI jika Anda hanya berfokus pada hukumnya saja: Terdapat unsur-unsur politis, ekonomi, dan sebagainya dalam penyusunan hukum internasional. Fenomena politik yang terjadi, keputusan-keputusan yang diambil oleh pemerintah suatu negara, juga tidak mungkin ‘diisolasi’ pada faktor politik semata, sementara mengabaikan faktor-faktor lainnya.

Apa dampak interdisiplinaritas HI pada para pembelajar HI? Terdapat beberapa hal di bawah ini yang menjadi dampak penting interdisiplinaritas:

  1. Penting bagi seorang pembelajar HI untuk setidaknya memahami dasar-dasar dari berbagi ilmu utama yang membentuk ilmu HI tersebut. Jika seorang pembelajar HI hanya memelajari salah satu di antaranya, sangat sulit baginya untuk bisa memahami hubungan internasional secara menyeluruh.
  2. Penting pula bagi pembelajar HI tersebut untuk mengamati setiap fenomena dalam keterkaitan, bukan dalam suatu unit yang tersendiri. Dengan demikian, misalnya jika seorang pembelajar HI ingin memahami bagaimana suatu negara bisa menentukan kebijakan politik luar negeri tertentu, sulit jika hanya mempertimbangkan penyebab politiknya saja, melainkan harus dilihat juga faktor-faktor lain seperti ekonomi, sejarah, dan sebagainya.
  3. Fakta interdisiplinaritas memampukan pembelajar HI untuk mengetahui secara lebih luas suatu fenomena yang seolah-olah berada di luar lingkup studinya. Hal ini umumnya terlihat jika misalnya pembelajar tersebut mengamati fenomena kebijakan ekonomi suatu negara (yang seringkali tidak diidentikkan dengan ruang lingkup studi HI). Jika seorang ahli ekonomi bisa memandang hal tersebut dari sudut pandangan ekonomi, seorang pembelajar HI dapat memberikan gambaran lebih menyeluruh, misalnya dari sisi politik, hukum, dan sebagainya.

[1] Stanley Hoffmann, “An American Social Science: International Relations,” dalam Daedalus 106, no. 3 (musim panas 1977), 41-60.

[2] Barry Buzan dan Richard Little, International Systems in World History: Remaking the Study of International Relations (Oxford: Oxford University Press, 2000), 1.

[3] Charles A. McClelland, “International Relations: Wisdom or Science?,” dalam James N. Rosenau (ed.), International Politics and Foreign Policy (Free Press, 1969), sebagaimana dikutip dalam Mohtar Mas’oed, Ilmu Hubungan Internasional: Disiplin dan Metodologi, Edisi Revisi (Jakarta: Pustaka LP3ES, 1994), 64.

[4] Mas’oed 1994, ibid., ix.

[5] Mas’oed 1994, ibid., ix-x.

[6] Joshua S. Goldstein dan Jon C. Pevehouse, International Relations: Tenth Edition, 2013-2014 Update (Upper Saddle River: Pearson, 2014), 4.

[7] Sebagaimana ditulis dalam sebuah karya terkenal dari Francis Fukuyama, berjudul The End of History and the Last Man (Akhir Sejarah dan Manusia Terakhir).

[8] Sarjana Amerika Serikat Samuel Huntington mulanya menulis artikel mengenai benturan peradaban ini pada jurnal Foreign Affairs, yang kemudian dikembangkannya menjadi sebuah buku, The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order.

[9] Pesawat yang terakhir, penerbangan United Airlines 93, diduga akan ditabrakkan ke Gedung Putih, sebelum para penumpang yang berani melawan para pembajak dan menjatuhkan pesawat tersebut di sebuah ladang di Pennsylvania.

[10] Pada beberapa tahun terakhir berkembang gagasan dari beberapa sarjana kontemporer HI yang menyebutkan bahwa anggapan Perdamaian Westphalia sebagai titik awal lahirnya studi HI sebagai sebuah mitos belaka, yang dikenal sebagai Mitos Westphalia atau Mitos 1648 (Westphalian Myth, Myth of 1648).

[11] Robert H. Jackson dan Patricia Owens, “The Evolution of International Society,” dalam John Baylis dan Steve Smith (ed.) The Globalization of World Politics, Third Edition (New York: Oxford University Press, 2005), 54.

[12] Jackson dan Owens, ibid., 53.

[13] Jackson dan Owens, ibid., 56-57.

[14] Sebagai ironi yang paling besar, Kongres Amerika Serikat kemudian menolak meratifikasi Piagam Liga Bangsa-bangsa, sehingga negara yang sebetulnya membidani lahirnya Liga Bangsa-bangsa justru membuat dirinya sendiri tidak menjadi bagian dari organisasi tersebut. Hal ini sangat mengecewakan Presiden Woodrow Wilson, yang kemudian menerima Nobel Perdamaian pada tahun 1919.

[15] Dalam Konferensi San Francisco pada bulan Juni 1945, hanya 50 negara yang hadir. Meski demikian, sejarah mencatat bahwa Perserikatan Bangsa-bangsa didirikan oleh 51 negara pendiri.

[16] James E. Dougherty dan Robert L. Pfatzgraff, Jr., Contending Theories of International Relations: A Comprehensive Survey, 5th edition (New York: Addison Wesley Longman, Inc., 2001), 8-9.

[17] Mohtar Mas’oed, Ilmu Hubungan Internasional: Disiplin dan Metodologi (Jakarta: LP3ES, 1990), 14.

[18] Robert Jackson dan Georg Sørensen, Introduction to International Relations, 5th Edition (New York: Oxford University Press, 2013), 36-37.

[19] Jackson dan Sørensen, ibid., 36.

[20] Dikutip dari Mas’oed 1994, op. cit., 15.

[21] Jackson dan Sørensen, op. cit., 39.

[22] Jackson dan Sørensen, ibid., 40-41.

[23] Beberapa tahun terakhir, terdapat berbagai akademisi yang membantah atau berusaha menghilangkan gagasan Perdebatan Besar dari historiografi HI, khususnya mengenai Perdebatan Besar pertama, yang seringkali dianggap tidak pernah ada. Meski demikian, tampaknya cukup sulit untuk membantah bahwa Perdebatan Besar ini justru mengantarkan kepada lahirnya berbagai perspektif dalam HI pada dekade-dekade berikutnya.

[24] Mas’oed 1994, op. cit., 19.

[25] Lihat misalnya Mas’oed 1994, ibid., 18.

[26] Mas’oed 1994, ibid., 20.

[27] Mas’oed 1994, ibid., 12.

[28] Bob Sugeng Hadiwinata, “Pembelokan Linguistik” (The Linguistic Turn) dan Munculnya Teori-teori Reflektivis dalam Studi Hubungan Internasional, dipresentasikan dalam Simposium Hubungan Internasional “Menjawab Tantangan Ilmu Hubungan Internasional dalam Sketsa Kontemporer”, Universitas Paramadina, 2013, 4.

[29] Hadiwinata 2013, ibid., 4-6.

[30] Jackson dan Sørensen 2013, op. cit., 56-57.

[31] Jackson dan Sørensen 2013, ibid., 311.

[32] Karl W. Deutsch, The Analysis of International Relations (Prentice Hall, 1978), sebagaimana dikutip dari Mas’oed 1994, ibid., 29-34.

[33] New Oxford American Dictionary, s.v. multi-.

[34] New Oxford American Dictionary, s.v. inter-.

[35] Penjelasan akan karya Pursiainen di bawah ini didasarkan pada potongan skema yang dikutip oleh Mohtar Mas’oed, Sejarah Studi Hubungan Internasional, dipresentasikan pada Simposium Hubungan Internasional, “Menjawab Tantangan Ilmu Hubungan Internasional dalam Sketsa Kontemporer”, 2013. Sumber yang diberikan oleh Mas’oed dalam kutipannya tersebut, sebuah laman situs internet, sudah tidak ada.

[36] Mas’oed 1994, ibid., 13.

[37] Misalnya, Morgenthau dalam bukunya Politics Among Nations sangat banyak menggunakan contoh-contoh dari sejarah untuk menjelaskan (atau membuktikan?) berbagai premis politik internasional yang digagasnya. Contoh ini tentu diikuti oleh banyak sarjana HI kemudian, seperti John J. Mearsheimer dalam The Tragedy of Great Power Politics.

One reply on “SIHI 1: Pengantar Studi Hubungan Internasional”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s