Maskot Pemilu 2014 dengan sebutan Sikora (Si Kotak Suara) berbaris saat sosialisasi dan deklarasi kampanye partai politik di Silang Monas, Jakarta, Sabtu (15/3).

Meletakkan Angka dalam Konteks: Hasil Pilpres 2014

Komisi Pemilihan Umum telah menetapkan pemenang pemilihan umum presiden dan wakil presiden 2014, yaitu pasangan calon nomor urut 2: Joko Widodo (Jokowi) dan Jusuf Kalla (JK). Pasangan calon ini memenangkan pemilihan umum dengan selisih 6.30% dari sekitar 130 juta suara sah dari seluruh Indonesia dan para pemilih di luar negeri.

Hasil dari pemilihan umum presiden, sesuai dengan rekapitulasi nasional adalah sebagai berikut:

1: Prabowo Subianto-Hatta Rajasa: 62,576,444 (46.85%)
2: Joko Widodo-Jusuf Kalla: 70,997,833 (53.15%)

Hasil pemilihan umum presiden ini adalah popular vote, yang merupakan jumlah suara langsung dari para pemberi suara (voter).

Meski demikian, untuk sekedar hiburan, mari kita coba hitung-hitung apabila pemilihan umum presiden di Indonesia menggunakan sistem semi tidak langsung seperti di Amerika Serikat. Sistem pemilihan umum presiden di Amerika Serikat menggunakan sistem electoral college yang menyerahkan pemilihan presiden kepada sekelompok orang dari setiap negara bagian, yang jumlahnya sesuai dengan jumlah alokasi kursi di DPR (House of Representatives) ditambah jumlah alokasi kursi di Senat. Melihat popular vote, kemudian sekelompok orang ini memberikan suaranya kepada salah satu pasangan calon. Menariknya, di tingkat nasional, pemilihan umum tidak melihat jumlah suara electoral college secara agregat, melainkan menggunakan sistem winner takes all.

Sebut saja negara bagian A, yang memiliki 30 kursi electoral college. Pasangan X mendapatkan 18 kursi (60%), pasangan Y mendapatkan 12 kursi (40%). Maka, untuk negara bagian A, pasangan X akan otomatis mendapatkan seluruh 30 kursi tersebut, sementara kursi pasangan Y otomatis hilang.

Kalau melihat alokasi kursi DPR Indonesia menurut propinsinya (560 kursi) ditambah kursi di DPD (4 per propinsi), maka masing-masing propinsi memiliki jumlah kursi sebagai berikut:

Aceh: 13+4 = 17
Sumatera Utara: 30+4 = 34
Sumatera Barat: 14+4 = 18
Riau: 11+4 = 15
Jambi: 7+4 = 11
Sumatera Selatan: 17+4 = 21
Bengkulu: 4+4 = 8
Lampung: 18+4 = 22
Bangka Belitung: 3+4 = 7
Kepulauan Riau: 3+4 = 7
DKI Jakarta: 21+4 = 25
Jawa Barat: 91+4 = 95
DI Yogyakarta: 8+4 = 12
Jawa Timur: 87+4 = 91
Banten: 22+4 = 26
Bali: 9+4 = 13
Nusa Tenggara Barat: 10+4 = 14
Nusa Tenggara Timur: 13+4 = 17
Kalimantan Barat: 10+4 = 14
Kalimantan Tengah: 6+4 = 10
Kalimantan Selatan: 11+4 = 15
Kalimantan Timur: 8+6 = 14
Sulawesi Utara: 6+4 = 10
Sulawesi Tengah: 6+4 = 10
Sulawesi Selatan: 24+4 = 28
Sulawesi Tenggara: 5+4 = 9
Gorontalo: 3+4 = 7
Sulawesi Barat: 3+4 = 7
Maluku: 4+3 = 7
Maluku Tenggara: 3+4 = 7
Papua: 10+4 = 14
Papua Barat: 3+4 = 7

Total: 560+132 = 692

Dengan mengasumsikan bahwa pemenang popular vote sama dengan pemenang electoral vote pada skenario ini, maka hasilnya adalah sebagai berikut:

227

Pada peta di atas, yang berwarna merah adalah wilayah-wilayah yang dimenangkan oleh pasangan calon nomor urut 1, sementara yang berwarna biru adalah wilayah-wilayah yang dimenangkan oleh pasangan calon nomor urut 2. Selain itu, terdapat dua warna lain, yaitu kuning dan hijau, di mana keduanya digunakan untuk melambangkan swing states, yaitu wilayah-wilayah yang selisih suaranya relatif kecil (di bawah 5%). Warna kuning melambangkan wilayah swing yang dimenangkan pasangan calon nomor urut 1, sementara warna hijau melambangkan wilayah swing yang dimenangkan pasangan calon nomor urut 2.

Dengan demikian, mari kita hitung jumlah suara menurut electoral votes hipotetikal yang kita gunakan:

1: Prabowo Subianto-Hatta Rajasa: 214 (31%)
2: Joko Widodo-Jusuf Kalla: 478 (69%)

Simpulannya, ternyata jika menggunakan sistem pemilihan semi langsung serupa di Amerika Serikat, selisih kemenangannya akan menjadi lebih jauh.

Sekali lagi, ini hanya untuk sekedar hiburan, hanya untuk menambah pengetahuan kita bersama. Kerja kita selanjutnya tinggal mendukung presiden dan wakil presiden yang terpilih, baik dengan menyumbangkan saran-saran konstruktif, dan menjalankan fungsi kontrol masyarakat dengan mengkritisi berbagai kebijakannya yang tidak dianggap baik bagi banyak orang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s