A money changer employee puts a stamp on Indonesia rupiah in Jakarta, September 29, 2015. Indonesian government officials on Tuesday announced a series of new economic stimulus measures, the second such package in three weeks, to help prop up the battered rupiah and revive growth in Southeast Asia's largest economy.  REUTERS/Nyimas Laula

Ayo Nge-Bank: Apa Itu Bank?

Pada tulisan pertama dari seri ini, saya ingin memerkenalkan Anda kepada lembaga yang disebut sebagai bank.

Saya menulis tulisan ini, dan mudah-mudahan seri Ayo Nge-Bank sebagai cara saya berbagi gagasan kepada teman-teman saya, para pembaca sekalian, mengenai apa yang dimaksud dengan bank. Karena saya baru saja memulai bekerja di salah satu bank di Indonesia, tentu saja masih belajar banyak mengenai bidang usaha tempat saya bekerja ini. Sementara itu, seperti janji saya untuk blog ini, blog ini adalah jurnal belajar saya, dan dengan demikian, Anda juga ikut serta dengan saya dalam perjalanan belajar mengenai lembaga finansial ini. Jika Anda adalah mahasiswa dan sedang mengambil kelas-kelas seperti Perbankan, Lembaga dan Sistem Keuangan, dan kelas-kelas sejenis, mudah-mudahan tulisan (dan seri) ini bermanfaat bagi Anda semua, sekaligus dapat dijadikan tempat berbagi gagasan bagi semua.

Memori saya mengenai bank tidak begitu jernih dalam pikiran saya. Menurut cerita kedua orang tua saya, salah satu hal yang paling pertama bisa saya baca—tentu sebelum buku-buku dan surat kabar—adalah nama-nama dari banyak bank yang tersebar di Jakarta pada awal dekade 1990-an. Di dalam mobil, sepanjang jalan, setidaknya begitu ceritanya, saya senang ‘mengabsen’ nama-nama bank yang ada, tentu berdasarkan logonya. Saya tentu tidak ingat persis akan hal tersebut, tentu karena memori masa kecil.

Entah kapan saya memiliki tabungan di bank pertama kali. Jika tidak salah, saya pernah memiliki tabungan yang diampu oleh orang tua saya, tentu pada saat saya belum cukup umur untuk memiliki tabungan dengan nama sendiri. Di masa sekolah dasar, bahkan sekolah saya membuat sebuah program tabungan bersama dengan salah satu bank pemerintah yang cukup besar, dengan buku tabungan yang bersampul abu-abu. Beberapa tabungan yang saya buka berikutnya banyak berhubungan dengan hadiah dari beberapa lomba yang saya ikuti, karena yang hadiahnya mengikuti tabungan dari bank yang juga menjadi sponsor.

Hidup kita di era ini sangat sulit untuk dilepaskan dari sebuah entitas yang bernama bank. Jika mau ditelusuri seperti cerita saya di atas, saya telah berinteraksi dengan bank bahkan sejak usia saya masih sangat kecil—masa di mana saya belum mengerti bank dan tabungan. Hampir semua (jika bukan semua) pembaca tulisan ini pasti memiliki setidaknya satu rekening tabungan di salah satu bank. Beberapa dari Anda bahkan mungkin memiliki produk perbankan lainnya, seperti deposito dan rekening giro.

Begitu pula dengan macam-macam bank. Pergilah ke jalan protokol manapun di kota-kota besar di Indonesia dan Anda akan menemukan setidaknya satu papan reklame bank. Di jalan yang sama, mungkin akan ada lebih dari satu anjungan tunai mandiri (ATM) dari salah satu bank di Indonesia, jika tidak lebih banyak. Nama-nama bank dan warna-warninya begitu beragam, kini Anda akan sangat hafal dengan nama-nama, bahkan gambar logo, dan skema warnanya. Jika tidak percaya, mari coba: Bank-bank apa saja yang memiliki skema warna biru? Saya yakin Anda akan mampu menyebutkan setidaknya satu nama bank dengan skema warna biru.

Lalu, apa yang dimaksud dengan bank—sesuatu yang telah begitu dekat dengan kita sehingga kita sering lupa berhenti untuk memahami ‘makhluk’ apa bank ini? Kata bank merupakan sebuah kata pinjaman. Penggunaan kata bank dalam bahasa Indonesia mengambil dari penggunaannya dalam bahasa Inggris, yang sendirinya berasal dari kata Inggris kuno, dan berasal dari kata Perancis kuno banque, dan berasal dari kata Italia kuno banca, yang berarti meja, serta berasal pula dari bahasa Jerman kuno banc, yaitu kursi. Penggunaan kata tersebut berasal dari praktek yang dilakukan oleh orang-orang Italia di masa abad pertengahan, yang melakukan aktivitas sejenis perbankan kita di masa kini, meskipun dengan bentuk yang jauh lebih sederhana, di atas meja-meja.

Menurut Undang-undang Republik Indonesia nomor 10 tahun 1998 (yang merupakan perubahan dari Undang-undang nomor 7 tahun 1992) mengenai Perbankan, bank didefinisikan sebagai, “Badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak.” Dari definisi ini, mari kita lihat tiga elemen penting yang menjadikan sebuah lembaga keuangan sebagai sebuah bank.

Badan usaha. Tanpa mengingat bahwa bank pada dasarnya merupakan sebuah badan usaha (corporation atau business entity), Anda tidak akan dapat memahami sifat dasar dari sebuah institusi perbankan. Karena bank adalah sebuah badan usaha, sifat utama yang dimilikinya adalah bahwa ia berorientasi pada mencari keuntungan (profit-oriented). Bank tidak menjalankan aktivitasnya sekedar untuk mengulurkan tangan dan menggerakkan dana yang ada, melainkan juga mengandalkan kelangsungan hidup perusahaan bank tersebut melalui pencarian keuntungan. Sebagaimana yang akan kita lihat nanti, bank memiliki berbagai sumber keuntungan, yang berasal dari bunga (interest) dan bukan bunga (non-interest).

Menghimpun dana dari masyarakat. Tugas bank di satu sisi adalah menjadi penerima serta pengumpul dana dari masyarakat, yaitu khususnya nasabah bank tersebut. Terdapat berbagai motif mengapa seorang nasabah memercayakan uang yang dimilikinya kepada bank. Inilah satu sisi dari perekonomian bank, yang menjadi alat masukan (input), sekaligus menjadi bagian kewajiban bagi sebuah bank, untuk di suatu saat di kemudian hari untuk membayarkan kembali (atau mengembalikan) uang yang dipercayakan tersebut kembali kepada pemiliknya—nasabah.

Menyalurkannya kepada masyarakat. Usai menerima dana dari masyarakat, tentu tidak mungkin bank tersebut membiarkan dana yang dititipkan padanya mengendap tanpa menghasilkan apa-apa—lagipula, dengan hanya menerima dana tersebut saja, bank sudah memiliki beban pengeluaran berupa bunga yang diberikan pada nasabah sebagai ‘keuntungan’ menitipkan dana padanya. Untuk itu, bank harus dapat mengelola dana yang dipegangnya dengan baik, dengan cara mengeluarkan sebagian dari dana yang diterimanya tersebut untuk menjadi pinjaman dana bagi pihak lain. Dari pinjaman inilah bank akan mendapatkan salah satu sumber pendapatan terbesar bagi bank, yaitu pendapatan bunga (interest income), di samping pendapatan-pendapatan lainnya yang diperoleh bank.


 

Sanggahan: Tulisan ini adalah buah pemikiran, pembelajaran, pandangan, dan gagasan saya pribadi, dan tidak, dalam kesempatan dan cara apapun, mewakili nilai-nilai, ide, dan gagasan, dari perusahaan di mana saya bekerja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s