img_0382

Untuk Ibu Kota, Saya Menyokong Petahana

Jika Anda mengira bahwa pemilihan umum kepala daerah (pilkada) DKI Jakarta empat tahun lalu begitu ‘memecah belah’, pikirkan lagi. Pilkada ibu kota awal tahun depan akan menjadi salah satu pemilihan pemimpin pemerintah yang paling memecah belah dalam sejarah republik ini. Begitu banyak alasan, bahkan ‘selentingan’ yang bisa dimanfaatkan untuk mengadu satu orang dengan yang lainnya.

Namun, untuk pemilihan ini, saya dengan mantap akan menyokong salah satu pasangan calon—yang kebetulan merupakan para petahana, dan memegang nomor urut dua, kebetulan pula untuk periode kedua, Basuki Tjahaja Purnama dan Djarot Saiful Hidayat.

Walau demikian, daripada berfokus berargumentasi memilih petahan dengan melihat pada keburukan lawan-lawannya, mari kita melihat akan apa yang ada dalam benak Ahok dan Djarot. Tentu, empat orang calon lainnya adalah orang-orang baik, dengan visi dan cita-cita mereka sendiri—dan tentu, dengan cara mereka sendiri pula. Baik atau tidaknya, bukan ranah tulisan ini untuk membahasnya. Saya ingin berfokus pada mereka yang saya sokong.

Sejak Joko Widodo bersama Ahok menjadi pemimpin ibu kota, dan dua tahun kemudian Ahok menjadi gubernur, saya melihat sendiri berbagai perbedaan dari wajah ibu kota ini, mulai dari hal-hal yang kecil. Beberapa jalan di ibu kota mulai begitu rapi, bersih dari sampah, tertata dan orang-orang yang tumpah ruah di pinggir jalan. Jalan-jalan yang berlubang mulai dirapikan. Taman-taman kota yang tadinya hampir tidak ada kemudian dibentuk kembali.

Salah satu hal yang paling saya ingat adalah bertemu birokrasi. Suatu waktu saat harus mengurus sebuah surat di kantor kelurahan setempat, saya terburu-buru di pagi-pagi benar—matahari baru saja nampak—karena dalam beberapa jam saya harus terbang ke luar kota. Tidak saya sangka, bahkan ketika hari belum terik benderang, kantor kelurahan sudah buka, dengan para aparatur sipil sudah mengenakan seragam cokelat muda yang begitu rapi. Saya masuk, kemudian menjelaskan keperluan saya, dan pegawai tersebut memberikan sebuah formulir untuk diisi. Formulir pendek tersebut saya isi dan tanda tangani, kemudian dalam waktu kira-kira lima belas menit, surat tersebut selesai diketik, dimintai tanda tangan dari lurah, dan diberikan kepada saya dalam wujud yang sangat rapi. Bahkan dengan senyuman, pegawai tersebut memberikan saya salam, diiringi, “Semoga beruntung, Mas!” dari mulutnya.

Pengalaman ini begitu berkesan, padahal berlangsung tidak lebih dari tiga puluh menit. Beberapa tahun sebelumnya, membayangkan harus melakukan seperti ini saja rasanya begitu membebani, membayangkan bertemu ‘oknum’ ASN yang ogah-ogahan bekerja, dengan baju yang nyantai, dan melayani seadanya—belum lagi kalau ada insinuasi ‘amplop’, ‘seikhlasnya’, dan sejenisnya. Hal ini sama sekali tidak ditemui pada pengalaman tersebut. Sebaliknya, interaksi saya kali ini begitu mudah dan mulus, justru sampai membuat saya terheran-heran.

Begitu pula jika mengamati mereka yang di jalan. Para ‘pasukan oranye’ yang begitu rajin menyapu jalan, atau membantu mengeruk selokan-selokan agar tidak banjir. Begitu pula dengan petugas parkir—khususnya mereka yang berada di zona-zona khusus dengan mesin parkir. Mesin parkir ini saja sudah merupakan kemajuan pesat untuk Jakarta, yang anehnya, membuat membayar parkir begitu menyenangkan (memencet tombol dan menekan kartu, rasanya psikologi manusia terkadang suka girang dengan hal-hal seperti ini). Namun yang menarik adalah mereka yang berseragam biru, yang tetap membantu mengarahkan parkir. Mereka menghampiri dengan senyuman. Jika tidak membawa kartu uang elektronik, mereka dengan senang hati meminjamkan, dengan kemudian pengemudi membayar langsung kepadanya. Tiket parkir juga dikeluarkan, sehingga jika pengemudi memang melampaui dua jam, maka tarif parkir dua jam akan ditagihkan. Saat akan mengemudi pulang, petugas parkir tersebut kemudian tersenyum dan mengatakan, “Terima kasih, Pak, hati-hati di jalan.”

Pengalaman-pengalaman kecil ini menunjukkan pada saya, secara pribadi, bagaimana orang yang tepat sebetulnya bisa membuat perubahan bahkan pada sistem dan orang yang sudah begitu ngelotok dengan ketidakberesan. Begitu sulitnya kita mengatakan ‘perubahan’ atau bahkan nuclear change yang butuh penjungkirbalikan secara luar biasa, sehingga kita gagal untuk menyadari hal-hal kecil, perubahan-perubahan yang sepertinya tidak berarti, namun begitu bermakna.

Tentu, ada masalah-masalah ‘klasik’ seperti banjir dan macet. Sudah bisa diatasikah? Belum, dan saya termasuk salah satu orang yang suka ngedumel ketika terjebak di antara keduanya. Namun, jika kepala kita cukup dingin, ingatlah apa yang dikatakan John F. Kennedy saat ia dilantik menjadi presiden Amerika Serikat pada 20 Januari 1961, “Jangan tanyakan apa yang telah pemerintah berikan padamu, tanyakan apa yang sudah kau berikan untuk negaramu!” Kalau memang ada masalah banjir, sudahkah kita membuang sampah pada tempatnya? Kalau memang macet, masihkah kita mengemudi seolah-olah jalan ini milik kita sendiri? Jika kadang kita masih suka ‘lupa’ dan melakukannya sekali atau berulang kali, maka ingatlah, kitalah bagian dari masalah itu (dan ya, termasuk saya juga). Kalau kita sudah ingat tidak membuang sampah sembarangan, atau jika kita ingat mengemudi dengan tertib, itulah kontribusi kecil kita kepada kota kita ini. Bukankah kontribusi-kontribusi kecil ini, jika dikumpulkan, akan menjadi besar?

Ahok adalah gubernur ibu kota pertama yang saya hadapi dalam masa hidup saya yang melahirkan keyakinan bahwa masih ada harapan untuk kota yang sudah ndak karuan ini. Saya pernah berpikir bahwa jika seseorang mau betul-betul membereskan Jakarta, ia harus memulainya dari 0 besar—sama saja dengan membom nuklir habis kota ini sampai rata, kemudian membangunnya ulang. Tentu tidak mungkin, bukan? Namun memang, hanya dibutuhkan satu orang yang punya itikad, visi, dan harapan untuk menggerakkan satu kota untuk menjadi the enabler, yang memampukan.

Bagi saya, Ahok ini ada miripnya dengan dua tokoh dunia yang saya kagumi, Steve Jobs dan Lee Kuan Yew. Steve Jobs misalnya, adalah orang dengan visi. Ia ingin perusahaannya menghasilkan hanya barang-barang yang ia sendiri ingin gunakan. Tentu demikian pula dengan Ahok, visinya adalah membuat kota yang ia ingin tempati, yang seluruh warga Jakarta ingin tempati. Dengan janjinya bahwa dompet penuh, perut kenyang, dan otak terasah baik, Ahok mencoba mendorong bahwa dengan kerja keras, manusia Jakarta bisa tercukupi baik secara finansial, fisikal, dan intelektual.

Lee Kuan Yew membangun Singapura hampir dari 0, dan ia pula telah melihat bagaimana pemimpin sebelumnya—kebetulan pada saat itu penjajah—telah memimpin Singapura. Dengan visi ingin menjadikan Singapura menjadi titik tengah dari lalu lintas dunia yang sibuk, Lee membangun Singapura sebagaimana yang ia lihat, yaitu Singapura yang ia ingin tinggali, dan sama pula, memastikan bahwa rakyatnya terpenuhi secara finansial, fisikal, dan intelektual. Maka teringat salah satu kutipannya, “Saya menghabiskan seluruh hidup saya membangun ini (Singapura).” Di lain kesempatan iapun mengatakan, “Apa yang telah saya dapatkan? Singapura yang maju. Apa yang saya kehilangan? Hidup saya.”

Maka Ahokpun pasti bercermin dari sosok Lee, yang berhasil menjadikan Singapura sebagaimana adanya kini (dan tidak, daging Singapura tidak lebih murah dari daging Jakarta). Bedanya, Ahok harus menghadapi sistem demokrasi yang sangat terbuka, dengan kritik yang tidak ada habisnya, dan ia harus menghadapi pemilu terbuka yang pada setiap kesempatannya punya kemungkinan sangat terbuka untuk kalah. Walau demikian, keduanya berbagi visi yang sama: Visi untuk membentuk kota tempatnya tinggal sebagai kota terbaik bagi warganya untuk tinggal.

Apakah Ahok sempurna? Tidak juga. Kalau bilang mulutnya kasar, betul juga. Dia memang suka marah-marah, dan temperamen mungkin bukan salah satu bakatnya. Walau begitu, apakah mungkin hanya kuping-kuping kita saja yang mudah ‘panas’ dan perasaan kita yang mudah baper? Apalah gunanya sopan santun dan senyum manis kalau di belakang punggungnya memegang belati tak bersangkur? Apalah gunanya politisi yang berkampanye memuji namun mencuri uang tanpa berujar?

Ya, masalah reklamasi masih tanda tanya, dan sayapun belum tahu persis harus berposisi seperti apa. Ahok juga terkadang memiliki jari tangan yang ‘lemas’, mudah menunjuk ketika sebuah masalah terjadi. Soal gusur-menggusur juga menjadi kontroversial, dan sayapun masih ada mixed feelings tentang hal ini.

Meski begitu, Ahok sudah berkali-kali terbukti ‘benar’. Kasus UPS? Sudah ada terdakwanya, dan bukan Ahok. Kasus rumah sakit? Tidak ada mens rea dari Ahok. Malah mereka yang rajin teriak Ahok Korupsi inilah ada yang sudah masuk bui.

Ini mengingatkan saya juga pada suatu cerita menarik, saat saya berpartisipasi dalam Pesta Paduan Suara Gerejawi Nasional di Ambon, Maluku. Saya teringat pada upacara pembukaan, di hadapan Presiden Joko Widodo, nama kontingen DKI Jakarta dipanggil dan disambut riuh hadirin di Stadium Karang Panjang. Menariknya, saat kontingen DKI Jakarta melewati tribun penonton masyarakat Ambon dan sekitarnya, hampir semua berteriak, “Ahok! Ahok!” Dan terdengar pula dari mereka yang duduk di tribun, “Kalau Jakarta sudah tidak mau Ahok, kirim dia ke Ambon.”

Kadang, pemimpin yang baik dimulai dari sekedar niat. Niat untuk berbuat yang terbaik. Niat yang tulus. Niat untuk tidak korupsi. Ketika niat-niat tersebut diterjemahkan kepada perbuatan, lihatlah, ada pemimpin yang bisa memberi harapan.

Pada akhirnya, Ahok bukan malaikat. Ia bukan dewa, bukan nabi, bukan malaikat. Ia adalah manusia, dan semuanya sudah berdosa, bersalah, dan jauh dari sempurna. Walau begitu, makhluk fana ini tidak memedulikan sifat dananya tersebut—saya meyakini Ahok begitu mengagumkan karena ialah pemimpin yang sama sekali tidak takut mati. Begitu ditanya beberapa kali, “Apa Pak Ahok tidak takut mati atau dibunuh karena blak-blakan seperti ini?” Jawaban Ahok sangat sederhana, dan mengutip salah satu ayat Kitab Suci, Matius 6:27, “Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan seharga saja pada jalan hidupnya?” Bahkan ia sudah memersiapkan keluarganya jika hal tersebut terjadi, dan mengatakan, “Setidaknya bapak lu mati jadi pahlawan.”

Inilah Ahok. Jikalaupun calon-calon lainnya memang begitu baik, Ahok tetap ada above and beyond yang lainnya, bukan sekedar karena apa yang sudah saya lihat tercipta di Jakarta pada hari ini. Lebih dari itu, Ahok adalah sosok harapan—orang yang begitu lempeng, terlihat apa adanya, mengatakan apa adanya, tidak membungkus agar terlihat cantik di depan mata, membiarkan sampah terlihat seperti sampah, dan emas seperti emas.

Tanyakanlah kepada para aparatur sipil yang kini telah ditingkatkan kesejahteraannya. Tanyakanlah kepada para marbot yang telah diberangkatkan Umrah gratis. Tanyakanlah kepada para penjaga makam yang juga diberangkatkan ke Tanah Suci. Tanyakanlah kepada ‘pasukan oranye’ yang mencoba menjaga Jakarta bersih. Tanyakanlah kepada para petugas parkir yang juga dibayar lebih layak. Tanyakan pula kepada teman-temanmu, sudahkah mereka merasakan satu hal lebih baik dari pemerintah provinsi. Tanyakanlah kepada dirimu sendiri, sudahkah kau melihat setitik kebaikan diberikan kepada kota ini beberapa tahun terakhir.

Jika jawabannya adalah ya, saya sangat sulit—terkecuali ada hal-hal luar biasa ‘aneh’ di kemudian hari—untuk tidak memilih petahana. Jika semua alasan tersebut tidak valid, maka biar ini menjadi alasannya: Setidaknya saya melihat kota ini masih punya harapan.

Saya menyokong petahana, Basuki Tjahaja Purnama dan Djarot Saiful Hidayat, untuk memimpin ibu kota DKI Jakarta, 2017-2022.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s