Memanfaatkan Hak

Hari ini, saya memanfaatkan hak politik saya sebagai warga negara dalam pemilihan kepala daerah serentak di Jakarta. Saya memanfaatkan hak politik saya ini dengan bahagia karena beberapa hal—yang menjadi penyebab saya menulis tulisan kali ini.

Sebagai permulaan, saya bahagia memanfaatkan hak politik saya karena ini menegaskan hak saya berpartisipasi secara politik. Saya berhak memberikan sumbang saran, buah pemikiran, gagasan, dan ide kepada pemerintah yang akan menjadi manajer daerah ini.

Saya juga berhak untuk menikmati hidup bahagia di wilayah kota ini, dengan harapan bahwa para administrator pemerintah yang saya pilih akan membawa kebahagiaannya tersebut melalui pengelolaan seluruh aparat daerah yang berada di bawah kepemimpinannya.

Lebih penting lagi, menurut saya, adalah bahwa sekarang saya punya hak untuk protes. Sebetulnya, betul jika terdapat pandangan jika Anda tidak menggunakan hak pilih Anda, dan Anda menemukan ketidaknyamanan, Anda tidak berhak protes—maksudnya adalah jika Anda secara sengaja dan sadar tidak menggunakannya, bahkan ketika Anda sebetulnya dapat dan mampu memberi suara. Jika Anda bangga menjadi ‘golongan putih’ atau golput, apa hak Anda untuk protes, sementara Anda tidak mau berpartisipasi dalam menentukan masa depan pemerintah Anda?

Namun karena saya telah memberi hak suara saya, saya berhak untuk komplain. Jika memang calon yang saya dukung terpilih, saya berhak memberi komplain padanya, karena saya memang berharap ia menjadi pengelola kota terbaik, dan karena saya telah memberi kepercayaan tersebut, dia wajib menjaga harapan saya—dan para pemilih lainnya. Jika bukan ‘jagoan’ saya yang terpilih, saya juga berhak komplain, karena meski ia bukan administrator yang saya harapkan, saya wajib berharap bahwa ia bisa melakukan pekerjaan lebih baik dari pasangan yang saya dukung.

Sederhananya, saya ikut memilih, saya berhak protes, berhak komplain.

Lalu, mengapa saya memilih pasangan yang saya pilih?

Pemilihan kepala daerah ini adalah pemilihan umum keempat yang saya ikuti—2009, 2012, 2014, dan kini 2017. Ini adalah pemilihan umum kedua di mana saya betul-betul yakin akan pilihan saya. Mengapa demikian? Pemilihan umum 2014 dan kini 2017 adalah pemilihan-pemilihan dengan polarisasi luar biasa, di mana ada satu pasang calon yang memang layak untuk dipilih dengan segala akal sehat, dan terdapat pasangan calon lainnya yang saya yakini betul lebih baik untuk tidak duduk menjadi administrator pemerintah.

Saya juga melihat bagaimana keyakinan saya terkonfirmasi melalui pemilihan ini, bahwa pemilihan umum ini bukanlah untuk mencari seorang pemimpin. Pemilihan umum ini lebih mirip audisi mencari pelayan atau ‘pembantu’. Layaknya rumah tangga, menurut saya siapapun yang terpilih tidaklah untuk ditempatkan menjadi kepala rumah tangga. Pada akhirnya, harusnya, dia yang terpilih akan menjadi jongos—memang kebetulan dibayar besar, tapi ingat pula besarnya marwah pekerjaan yang ditimpakan pada pundaknya.

Mengapa pembantu? Kalau dia yang terpilih hanya untuk duduk di menara gading, menunjuk dan memerintah, apalah gunanya? Yang saya butuhkan adalah seorang pengelola pemerintah yang berani untuk turun ke air berlumpur, bermain ke kubangan, menghajar yang salah, mengangkat yang betul. Apalah gunanya sopan santun kalau hasilnya justru menjadikan dosa lebih berat kepada jutaan masyarakat yang mengandalkannya?

Dia juga adalah jongos karena rumahnya tetap milik kita bersama. Tentu, si jongos adalah bagian dari keluarga besar kita, meskipun dia kita pilih untuk membantu. Ingat, untuk sebuah daerah, kita tidak punya kemampuan cukup untuk mengelolanya—dengan demikian, atas hak konstitusional yang diberikan pada kita, kita memilih orang yang dianggap lebih cocok mewakili kepentingan kita untuk mengelolanya. Jika orang tersebut tidak mampu mengelola dengan baik, kita punya hak untuk ‘memecatnya’—tentu saja dengan cara-cara yang sesuai dengan hukum.

Calon yang saya pilih kini adalah calon yang membiarkan kita berteriak-teriak meminta, siap memberi, dan bahkan mengizinkan kita untuk ‘memecatnya’ jika memang ia bertindak sembarangan. Toh dirinya memang sudah mengakuinya, ia tak lebih dari jongos.

Lebih lanjut, sayapun percaya akan sesuatu yang lebih spesial lagi. Saya membayar pajak kepada pemerintah. Uang yang saya bayarkan ini lari ke berbagai tempat—mulai dari menggaji gubernur, aparatur sipil, membangun infrastruktur, dan lainnya. Untuk pertama kalinya, saya senang sekali membayangkan bahwa jumlah uang yang saya bayarkan tersebut memang akan dimanfaatkan untuk kebaikan. Saya membayangkan bahwa sejumlah kecil uang yang saya bayarkan ini akan menyediakan sepatu sekolah kepada seorang anak sekolah dasar melalui Kartu Jakarta Pintar. Saya membayangkan bahwa uang pajak yang saya bayarkan akan digunakan menggaji seorang anggota ‘pasukan oranye’ (PPSU) yang bekerja keras mencegah banjir di kota langganan genangan ini. Saya membayangkan bahwa bagaimanapun kecil kontribusi saya, mungkin akan digunakan untuk membeli mur dan baut untuk terowongan mass rapid transit yang sedang dibangun dengan luar biasa di bawah tanah Jakarta. Rupaya seluar-biasa itu pajak yang saya bayarkan.

Walau demikian, kali ini saya meyakini, bahwa pajak yang saya bayarkan tersebut akan tiba pada peruntukannya. Mengapa demikian? Karena orang yang saya percayai ini akan menjadi garda terdepan untuk mengawal uang pajak saya—dan uang pajak Anda yang Anda bayarkan dari jerih lelah Anda—dari para maling, garong, dan pencoleng. Mereka yang tamak dan tidak bisa dipuaskan oleh kecukupan yang dimilikinya, justru memanfaatkan birahi binatang untuk mengembat uang yang begitu berat dibayarkan oleh masyarakat. Setiap kata-kata jahat yang dikeluarkan dari mulutnya kepada para buaya bersolek kesantunan ini bukan tanpa maksud. Sederhana sekali hasrat hatinya, bahwa tidak boleh orang-orang merasakan kesengsaraan—bahkan yang tersulit hidupnya harus bisa diangkat sedikit demi sedikit.

Saya pernah bercerita sebelumnya bagaimana saya telah merasakan sendiri perbaikan di kota tempat saya lahir ini. Para birokrat pemerintahan bekerja layaknya emban rakyat. Jika ada masalah di sekitar saya, saya tinggal gunakan aplikasi untuk melaporkannya, dan ia akan ditanggapi—bahkan, siapapun dapat mengontak langsung gubernur untuk menyampaikan protes, dan jaminan mutu, akan sigap ditanggapi. Tidak lama belakangan, jalanan di sekitar lingkungan saya kembali ditinggikan dan diperhalus. Wilayah saya yang adalah langganan banjir—bahkan supir ojek seantero Jakarta tahu bahwa lingkungan saya mengalami banjir tahunan—dulu pernah semi-tenggelam. Saya ingat banjir besar sekali tahun 2007 yang menyebabkan mati listrik total, bahkan untuk pertama kalinya banjir masuk ke dalam rumah saya.

Kini, lingkungan saya sudah bebas dari banjir, dan seluruh jalanan di daerah saya menjadi halus. Kini pula, setiap saya menumpang ojek pulang dari berbagai penjuru Jakarta, para supir akan berkata, “Wah, jalannya halus banget nih! Udah gak pernah banjir ya?” Dari mana sumber kekaguman mereka? Bukan dari sumber aneh-aneh: Dari kerja keras seorang emban yang mau membuat kotaku lebih baik.

Apa pasal dengan mulutnya? Ya, mulutnya itu memang minta disambelin, saya tidak membantah. Walau begitu, lagi-lagi, apa guna mulut sopan namun menjilat para buaya tengik bersolek bak kelinci? Jika memang ada jalan untuk menjadi bersih, akuntabel, dan bertanggung jawab, saya dukung dirinya menghardik habis siapapun yang mau merajalela atas kepercayaan dan uang yang saya bayarkan pada pemerintah ini. Menggusur, ya itu juga masalah. Saya sendiri juga masih berpikir apakah pendekatan yang dilakukan sudah tepat atau tidak. Meski begitu pula, dengan seluruh rumah susun yang disiapkan, dan sungai-sungai yang sekarang bersih, saya bisa memaklumi sikapnya. Macet juga jadi masalah. Namun lihatlah, transportasi publik sedang dikejarnya sambil berlari—yang sudah begitu lama mangkrak. Lalu juga, siapa sebenarnya penyebab macet? Bukankah kita semua punya sedikit tetesan dosa di dalamnya (termasuk saya sendiri)?

Orang ini memang pro-kontra, dan gilalah orang yang bisa mengguncang satu negara begitu hebatnya. Namun betul memang, segala yang bisa diguncang akan diguncang, dan dia yang tidak rubuh karena guncangan itu yang akan kokoh untuk waktu yang lama. Kalau kita lulus ujian ini bersama-sama, kita tahu bersama bahwa tidak ada hal yang terlalu sulit untuk dilakukan bangsa yang besar ini.

Dan jika Anda berpikir pilihan saya adalah karena agama—maaf, Anda salah besar. Kesamaan iman hanyalah kebetulan yang sama, dan baik saya ataupun dirinya tidak meminta untuk memiliki iman yang sama. Walau demikian, tiliklah kembali dirinya, hanya berdasarkan nilai yang terdapat pada dirinya. Jika memang ia dapat membawa rahmat bagi sebanyak-banyaknya manusia, apalah artinya sesuatu yang harusnya ia resapi secara personal dengan Ilahnya?

Teman-temanku, perjuangan memang belum selesai. Kerja masih sangat berat. Para calon kepala daerah telah berjuang dengan sendirinya, dan di tengah segala kehormatan dan hal-hal abu-abu yang telah dilakukan, saya memberikan hormat saya. Seiring saya mendengar hasil quick count dari berbagai lembaga survei, pemilihan umum akan masuk ke tahap kedua beberapa bulan kemudian. Fakta bahwa salah satu pasangan calon telah mengaku kalah secara terhormat adalah sesuatu yang maha elegan di tengah kondisi politik yang tidak jarang menjijikkan ini. Saya menyampaikan salam hormat saya dan salut saya.

Saya ingin mengundang Anda untuk bergabung dalam pergerakan untuk memilih pasangan calon yang telah saya ceritakan di atas—yang telah saya percayakan dengan sangat bangga untuk menjadi kepala daerah—dan jongos daerah—karena alasan-alasan tersebut di atas. Bukan karena mereka sempurna, namun justru karena ketidaksempurnaannya. Di antara segala kelemahan mereka sebagai manusia, mereka mencoba melakukan pekerjaan manusia super yang tidak mungkin terlaksana menjadi mungkin, dan mencoba memberi kita, yang percaya padanya, hidup yang sedikit lebih baik.

Dan jika Anda belum yakin benar, dengarkanlah apa yang telah ia berikan pada kita dengan akal sehat. Sadari betul mengapa suara hatinya telah bercerita, bagaimana ia menginginkan keadilan sosial. Keadilan sosial berarti Anda dan saya, yang ingin merasakan betul bahwa kota ini adalah milik semua, bukan milik beberapa orang. Bagaimanapun gaduhnya, tenangkan diri sejenak dan resapilah kontribusinya kepada kota yang kita tinggali ini.

Lebih lagi, jika Anda melihat tidak ada yang baik di antara para pasangan calon, setidaknya cegahlah pasangan yang lebih kurang baik untuk tidak menjadi pengelola kota tempat Anda tinggal ini.

Jika Anda bangga akan ‘golput’, sadarlah bahwa dengan melakukannya, Anda tidak punya hak apa-apa untuk komplain di saat Anda menghadapi kondisi tidak menyenangkan, karena Anda justru memilih tidak berkontribusi apa-apa terhadap bagaimana politik kita dibentuk. Berikan suara Anda, karena memang betul, tindakan memberi suara selama lima menit tersebut akan beri pengaruh pada banyak sekali hal, lima tahun, bahkan puluhan tahun ke depan.

Akhirnya, terima kasih semua, telah menjaga hari ini menjadi hari yang menyenangkan. Saya bangga dan berbahagia telah memanfaatkan hak politik saya.

Semoga Anda juga bangga karena telah melakukannya.

* Tulisan ini adalah opini pribadi saya dan tidak, dengan cara apapun, merepresentasikan pandangan atau sikiap badan, organisasi, atau afiliasi apapun. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s