Selamat malam

Selamat malam, cahaya purnama.

Aku merinding sekali saat menengadah ke atas langit, beberapa jam lalu, saat sedang kembali menuju ke rumah. Aku melihat bulan, bulat sempurna, terang benderang, menghiasi kota yang suasananya tidak karuan, dengan bising klakson, teriakan banyak orang, gaduh sana-sini, kelam kelabu dan cuaca yang berubah tak menentu. Masih ada bulan, bulat sempurna, terang benderang, mencoba berbagi cahaya yang dipantulkannya di atas kepalaku.

Aku merinding sekali saat menengadah ke atas langit, mengingat sudah dua malam cahaya purnama coba dikungkung di dalam tembok tebal. Memang, kalau palu tidak berhati, lupa akal sehat, dan seenaknya mempermainkan kalimat yang begitu agung, “Demi keadilan berdasarkan Ketuhanan yang Maha Esa,” apapun bisa terjadi. Kalau matahari bisa ditaruh di bawah mangkuk, hal itupun akan dilakukan. Sudah dua malam cahaya purnama coba dikungkung di dalam tebal, berharap hilang pendarnya dari dunia yang sudah kelabu.

Aku merinding sekali saat menengadah ke atas langit, menyadari bahwa cahaya purnama duduk sendirian, tanpa ada yang menjadi kawan. Entah sudah berganti baju apa dirinya kini, karena baju *superhero* yang dimilikinya sudah direnggut dari padanya. Hanya sedikit keberuntungannya, baju *superhero* sedang dikenakan pada seorang kawan setia, sahabat yang menaruh kasih setiap waktu.

Aku merinding sekali saat menengadah ke atas langit, mengingat bahwa masih ada orang yang meminta cahaya purnama untuk dimatikan. Dalam lubuk hati yang terdalam, siapa tidak tahu betapa cahaya purnama ini dibutuhkan. Selama ini telah menjadi penerang di dalam alam fana yang keji ini, menjadi manusia paripurna yang tidak tahu takut, tidak tahu kejamnya manusia, menerabas setiap tembok yang mencoba menghalanginya. Walau apa yang benar telah dikatakannya, walau telah ada maaf di ujung penyesalan, mereka enggan berhenti, sebelum ia jatuh dan menggelinding ke bawah, terkubur dalam bayang-bayang sejarah sebagai kegagalan.

Aku merinding sekali saat menengadah ke atas langit, teringat bahwa kasih masih ada. Saat saya pergi jauh dari rumah, di tanah yang tidak saya kenali, tak disangka umat manusia memanggil-manggil namamu. Dalam kegelapan, mereka masih mencarimu. “Kalau kalian sudah tidak mau, kirim dia ke sini,” kata mereka. Kau dicaci, kau dicari. Kau dibenci, kau dinanti.
Aku merinding sekali saat menengadah ke atas langit, teringat di pagi hari, melihat ribuan orang datang ke rumah kecilmu—rumah kecil untuk kita semua—dan memanggil agar cahaya purnama kembali menyingsing. Saya tertegun, terdiam. Melihat seorang kawan baik, dengan baju putih bersih, yang tidak ingin ia kenakan. Dari matanya, setetes, dua tetes. Teringat padamu yang tak kunjung berpendar kembali. Teringat padamu, di bawah tembok-tembok lusuh, sedang lirih berdoa mencari penciptamu. Teringat padamu, kawan susah dan senang, senasib seperjuangan. Teringat padamu, saat lagu berkumandang, bagaimana kau masih mencintai bangsa yang sudah mengoyak hatimu begitu jauh.

Aku merinding sekali saat menengadah ke atas langit, melihat masih ada benar cerah di kota yang kelabu ini. Saat mereka berkumpul, menyalakan lilin, dan berdoa bagi terangmu untuk bersinar kembali. Ternyata, bukan hanya untukmu, bukan sekedar agar cahaya purnama itu terbit kembali. Ternyata, mereka juga berdoa untukku. Berdoa untuk keluargaku. Berdoa untuk keluargamu. Berdoa untuk sahabatku. Berdoa untuk kita semua. Berdoa untuk sebuah bangsa yang jauh dalam dasar hatinya sedang bersedih.

Aku merinding sekali saat menengadah ke atas langit, dan saya bisa melihat seorang ibu. Ibu mana yang mau anak-anaknya bergelut mencari kuasa, menaklukkan saudaranya demi hasrat dan birahi semata? Namun ibu sudah tua, lirih pedih, dan tak kuasa lagi. Ia hanya bisa mencari pertolongan pada Yang Mulia, lewat sujud dan air matanya. Bertanyalah ia kepada tanah, kepada dinding, kepada langit, apa yang terjadi dengan anak-anaknya? Tidakkah ia telah membesarkan anak-anaknya dengan mengajarkan kesetaraan, keadilan, dan nilai-nilai kebaikan? Apalagi yang dicarinya?

Aku merinding sekali saat menengadah ke atas langit, sementara saya termenung jauh, apa yang telah ada di benak saya saat itu. Siapalah aku, begitu kecil di antara belantara buana, yang tidak punya kemampuan apapun untuk menunggang balikkan sebuah negara dari keburukan menjadi kebaikan. Siapalah aku, yang duduk diam di balik tombol-tombol papan kunci, dan hanya bisa berteriak melalui decit ketuk komputer? Sementara iri aku melihat mereka yang bernyanyi, mereka yang menyalakan lilin, mereka yang memanggil-manggil namamu dengan lantang, pula berharap kau akan mengenalinya.

Aku merinding sekali saat menengadah ke atas langit, di kala saya berseru dalam hati saya, juga kepada Penciptaku. Aku yakin, Ia tidak tidur. Ia melihat. Ia tahu. Maka aku berseru kepadanya,

“Kiranya Engkau memberkatinya berlimpah-limpah, dan memperluas daerahnya, dan kiranya, tanganMu memberkatinya dan melindunginya dari malapetaka, sehingga kesakitan tidak menimpanya.”

Aku merinding sekali saat menengadah ke atas langit, karena teringat akan bintang-bintang yang berpendar bersamamu. Keluargamu. Pendamping hidupmu. Buah kasihmu. Tidaklah salah aku berterimakasih padanya, karena telah meminjamkanmu kepada kami, untuk memberi cerah pada kisah kelabu kami. Apalah yang mereka pikirkan, pasti gundah, nestapa baru yang tak bertepi.
Aku merinding sekali saat menengadah ke atas langit, karena aku teringat apa yang kau kisahkan pada orang-orang terdekatmu. Bahkan jika ada yang menghilangkan cahayamu. Bahkan jika ada yang mencari cara melahirkan kegelapan. Rupanya pesanmu memang menjadi ketegaran. “Jangan takut, jangan kuatir,” pesanmu. Betul pula keyakinanmu, tak ada gunanya kami berkeluh-kesah—kekuatiran tidak akan menambah sehasta saja pada hidup kami.

Bangga! Harusnya kami bangga!

Aku mencari secercah harapan, apa yang harus kubanggakan? Bangga karena terangmu tak akan pudar karena kau mencuri dari matahari. Bangga karena terangmu bukan karena mencoleng dari kami. Bangga karena kau jatuh karena kebenaran. Bangga karena kau ditelikung oleh sebab kebaikan. Bangga karena saat orang melemparimu dengan batu, dan menyesahmu dengan tongkat, pesanmu tetap sama, “Saya akan melayani dengan kasih.”

Aku mencari secercah harapan, apa yang harus kubanggakan? Bangga karena rupanya ada yang masih mencintai negaranya begitu hebatnya—biarpun negaranya telah menjejak kaki untuk menyandungnya jatuh. Bangga karena bukan ambisi kekuasaan yang dia cari. Bangga karena tidak ingin dia lari dari perkara. Bangga karena bukan alasan sakit dicarinya. Bangga karena apapun yang orang katakan atasnya, ia tetap berjalan di atas jalan kebenaran. Bangga karena kasihnya tidak mengenal suku, tidak mengenal ras, tidak mengenal agama, tidak mengenal kelas, tidak mengenal perbedaan.

Bangga! Harusnya kami bangga!

Siapakah yang dapat mengekang cahaya ketika memang ia diciptakan untuk berpendar? Adalah banyak hati yang harus dikorek dalam-dalam, menggali kotoran-kotoran dengki, emosi, ambisi pribadi, egoisme, dan pikiran-pikiran najis. Apalah susahnya duduk diam, mendengarkan, dan berpikir lurus, melihat bahwa akal sehat harusnya menuntun ke jalan yang benar?
Walau bangga, tak kuasa air mataku terbendung.

Sebutir. Dua butir. Aku tahu air mataku, air matamu, air mata banyak orang yang jatuh ke tanah, berteriak keras ke takhta surga. Dalam teriakannya, ia mengadu, cahaya purnama, yang dilahirkan untuk menjadi terang, kini sedang dihadang. Dalam teriakannya, ia memohon, agar kebenaran segera menang. Dalam teriakannya, ia menjerit atas ketidakadilan. Dalam teriakannya, ia banding kepada Penguasa Jagat Semesta, agar Ia memberi jawab dan membiarkan kebaikan menang.

Aku merinding sekali saat menengadah ke atas langit, karena angan untuk pergi selalu ada. Tak patut harga yang ternampak, kala mereka menjerat terangmu dengan rantai logam. Namun kini, aku berteriak dalam kata-kata, walau dunia sudah sunyi, saat aku mencari jawab, dan memberi keyakinan, “Tidak sia-sia mencintai negeri ini.”

Saat aku menengadah ke langit malam yang kelabu, aku melihat cahaya purnama, terang benderang, menembus awan-awan gelap. Aku teringat pada cahaya purnama, yang sedang terduduk di dalam tembok-tembok yang dingin. Doamu adalah doaku, dan doa kami yang bernafas lega namun tertindas dalam hati. Jeritanmu kepada Sang Khalik adalah jeritan kami juga. Saat kami berteriak bebaskan, bebaskan, agar engkau ingat, ini bukan sekedar untuk cahayamu, namun agar negeri ini kembali bersinar terang di antara bangsa-bangsa.

Selamat malam, cahaya purnama. Terima kasih telah mau duduk di dalam tembok-tembok dingin menggantikan kami. Hilangnya engkau dari mata kami untuk saat ini adalah kerugian kami, bukan kerugianmu. Apapun yang kami telah perbuat rasanya tak layak untuk menggantikan, atau bahkan untuk sekedar berterimakasih. Jika ini bagian dari rencanaNya untuk menjadikan bangsa ini mulia, aku tersungkur di hadapanNya, dalam kesunyian, lewat huruf dan kata, agar Ia mendengar seruan kami.

Selamat malam, cahaya purnama. Beristirahatlah sebentar, dalam lelahmu. Sementara kami berjuang, dalam cara-cara kecil kami, untuk membawa terang itu kembali. Jika ada sesuatu yang sedang kami doakan pula, agar terangmu bersinar lebih kuat pada waktunya. Agar negeri ini dapat melihat, apa harta berharga yang dimilikinya, hilang, dan dapat ditemukan kembali.

Dari aku yang bersedih. Dari kami yang berdukacita.

Dari kami yang kecewa. Dari kami yang menjerit pilu.

Juga dari kami, yang masih percaya, kebaikan pada akhirnya akan menang.

Selamat malam, cahaya purnama. Beristirahatlah sebentar.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s