Untuk teman-teman Smukiez Choir

Saya belum berhasil berbicara banyak untuk persiapan kalian ke lomba paduan suara internasional di Vietnam. Sebagai gantinya, biar tulisan pendek ini yang menjadi alat saya menghampiri kalian semua.

Saya berusaha mewakili seluruh teman-teman alumni—keluarga alumni—dari masa ke masa, khususnya mereka yang saya kenali secara langsung sejak saya bergabung bersama Smukiez Choir pada tahun 2006, atau 11 tahun yang lalu. Bermula dari penampilan Natal di dua pusat perbelanjaan, saya ikut serta dalam berbagai kegiatan, sampai kompetisi saya pertama kali di akhir tahun 2007, hampir 10 tahun lalu dari hari ini.

IMG_2363
Kompetisi perdana: Asian Choir Games (2007)

Lomba tingkat Asia tersebut bukan lomba yang mudah. Persiapannya begitu rumit, baik secara administratif maupun teknis. Materi lagu juga tidak mudah. Berbagai kesulitan juga dihadapi.

Walau begitu, secara singkat, saya ingin mengatakan bahwa kami telah mengenal yang kalian alami.

IMG_2365
Uji coba panggung sebelum berlomba di ITB International Choir Competition (2010), juga sendirinya merupakan bagian dari persiapan lomba

Persiapan lomba memang tidak pernah mudah. Semua keringat, lelah, kekecewaan, darah, dan air mata, perlu tercurah. Kadang terasa berat, karena berbulan-bulan tertatih-tatih belajar beberapa lagu demi penampilan selama lima belas menit di atas panggung, yang menentukan medali apa yang bisa dibawa pulang. Emas selalu jadi angan, walau daya kadang tak yakin mampu menggapai.

Hebatnya, seperti dahulu dan pasti sekarang, kami bersama-sama memutuskan untuk terus maju, dan berjuang mencapai kemajuan.

IMG_2366
Foto usai tampil di ITB International Choir Competition (2010) dengan pose akhir dari lagu penutup lomba, yang dilatih dengan susah payah

Lagu-lagu yang sulit dihadapi dengan berlatih berulang-ulang, menonton berbagai penampilan silam, dan terus bertemu dengan anggota suara untuk saling berbagi. Kata-kata yang susah juga coba diucap berulang-ulang. Gerakan yang rumit juga dilatih dengan jatuh dan peluh. Kebosanan karena belajar lagu ‘itu-itu saja’ digantikan dengan semangat untuk menyempurnakan, dan lagu-lagu selingan yang memberi hiburan. Bahkan nilai-nilai pelajaran yang kelihatannya sulit untuk dicapai akhirnya menjadi beban bersama, dan belajar bersama sudah menjadi kebiasaan.

Dalam jerih lelah itulah, kami bimbang. Antara mampu dan tidak mampu. Dari konduktor, penyanyi, pemain musik, penari, hingga pendamping. Selalu ada kisah kekuatirannya. Sopran yang merasa suaranya kurang tinggi menggapai not. Alto yang merasa warna suaranya tidak cocok. Tenor yang masih berkerenyit karena entah di mana nada itu ditaruh. Bass yang merasa sendawa lebih bagus bunyinya dari nada rendah yang mereka bunyikan.

Saat bertanding di Vietnam International Choir Competition (2012), ikut mendampingi purna waktu di Jakarta, dan mendengar kabar baik pula dari Hue saat mereka menjadi juara kategori

Di sinilah kita akan belajar kenapa kita bernyanyi dalam paduan suara: Bersama. Kami meyakini bahwa Smukiez Choir adalah ‘paduan’ suara, bukan ‘pacuan’ suara. Sebagai penyanyi, kita bergantung tidak hanya pada mereka yang berdiri di kanan dan kiri saja, melainkan kepada setiap individu tunggal yang menjadi bagian kesatuan dari paduan suara ini. Semurni apapun bunyi piano, jika bunyi angklungnya meleset, maka seluruh paduan suaralah yang kena dampaknya. Jika tiga puluh penyanyi bernyanyi seperti malaikat dari kahyangan namun satu orang bernyanyi seperti peserta kontes dangdut di televisi ikan terbang, apalah artinya. Maka, kami mencari kekuatan kami dari kebersamaan kami, dari apa yang sebuah paduan suara bisa lakukan dengan terbaik: memadukan suara, memadukan manusia.

Ketika kita berlomba, setiap not kecil adalah satu langkah kecil menuju kemenangan. Seluruh not yang dibunyikan itu terus membawa semakin dekat menuju juara. Meleset beberapa, dan semakin meleset pula dari gelar. Manusia, memang, adalah instrumen terbaik yang alam semesta pernah ciptakan. Maka paduan suara memang kuat dari setiap unsur terkecilnya, yang tanpanya, tidak ada angan menggapai apapun juga.

“Di kandang sendiri”, yaitu Festival Paduan Suara PENABUR (2013)

Untuk itulah, dengan segala persiapan yang telah dijalani, dan segala pikiran dan kekuatiran yang sedang dijalani, kami hanya dapat mengatakan: Kami telah merasakannya. Beberapa dari kami sudah menjalaninya lebih dari satu kali. Kami telah melihat segalanya.

Karena itulah, kami bisa berkata dengan yakin: Apapun yang kalian rasakan beberapa hari sebelum lomba ini, jangan membuat kalian terbeban. Semua akan menjadi baik pada waktunya. Anda tentu sudah berjerih lelah, dan kini saatnya Anda untuk bersinar. Kami telah berhasil melakukannya dalam kompetisi-kompetisi terdahulu. Kini, lampu sorotnya ada pada Anda.

Foto tak terlupa: Usai pelepasan kontingen DKI Jakarta menuju Pesta Paduan Suara Gerejawi (2015), acara yang juga dihadiri Gubernur Basuki Tjahaja Purnama

Kami hanya bisa memberikan tongkat estafet ini. Membawa Smukiez Choir pada prestasi, dan memberi kemuliaan hanya bagi namaNya. Berjalanlah teguh menuju pentas, dan berdirilah dengan kokoh, membawa keyakinan bahwa kalian siap. Segala kekuatiran yang ada, singkirkan untuk sementara waktu. Saat waktunya tiba, bahkan orang yang sakitpun bisa jadi sembuh, siap untuk membawa piagam pulang ke rumah.

Lima belas menit itu, manfaatkan dengan baik. Bukan karena sekedar ingin menang. Bukan karena sekedar ingin membuat orang tua bangga. Bukan karena sekedar ingin mendapat ucapan selamat dari kepala sekolah saat pulang. Lebih dari itu. Inilah ucapan syukur, bagaimana Anda—kita semua—mendapat anugerah bermusik luar biasa dari Maha Pencipta. Inilah ucapan syukur karena kita semua diciptakan dengan kemampuan berseni. Inilah cara kita memberi kembali padaNya dan pada alam semesta, bahwa semua not yang menjadi musik akan menjadi bau yang harum di pelataranNya. Akhirnya, kalianpun akan berbangga karena telah melakukan segala yang benar.

Di atas panggung, semua mata—dan telinga—akan ada padamu. Biarkan mereka mendengar segala buah lelah yang telah kalian lewati berminggu-minggu ini. Apapun yang menjadi bebanmu, singkirkanlah sesaat, dan biarkan semesta ikut bersenandung bersamamu. Buat mereka mendengar mengapa kalian layak untuk mendapatkan nilai tertinggi. Berjalanlah seperti pemenang, bernyanyilah seperti pemenang.

Saat di atas panggung, kalianlah paduan suara terbaik di dunia.

Semuanya akan berakhir. Kalian akan pulang kembali ke Jakarta, mendapatkan ucapan selamat, dan lagu “Segala pujian bagi Tuhan” akan menjadi penutup yang sempurna. Kalianpun berpisah, kembali ke rumah masing-masing, dan bertemu orang tua kalian. Semuanya akan selesai pada waktunya.

Walau begitu, percayalah. Saya bisa bercerita seperti ini juga karena kami pernah merasakannya. Kebersamaan itu tidak tergantikan. Setiap lomba unik, layaknya kejadian apapun dalam sejarah umat manusia, tidak ada duanya. Anda dapat melihat ke belakang dan memahami perjuangan yang telah dilewati. Lelah tidak ada yang sia-sia.

Akhirnya, hanya akan ada satu hal yang dirindukan, “Yuk, kita mulai latihan.”

Selamat bertanding, dan Tuhan selalu beserta Smukiez Choir. Kini, kami hanya bisa mendukung dan mendoakan. Kami juga hanya dapat memberikan kebanggaan dan keyakinan kami, bahwa tidak ada yang mustahil, dengan kerja keras, keyakinan, kepercayaan, dan kebersamaan.

Karena tidak ada lagi yang kalian miliki, apalagi di atas pentas, selain anggota keluarga kecil kalian: Smukiez Choir.

Dari kami yang selalu bangga pada kalian, pada paduan suara ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s