Dear Trump: Hubungan Internasional itu Ribet!

“Menurut lu, Korea bakal perang, nggak?”

Seorang kawan bertanya pertanyaan tersebut pada saya beberapa hari lalu, hanya sedikit waktu sebelum Presiden Amerika Serikat Donald Trump, dengan ‘lucunya’ memberi pertanyaan bahwa Amerika akan merespon pengembangan senjata nuklir Korea Utara dengan “api dan amarah” (fire and furry). Dua kata ini tentu akan bersaing ketat bersama ‘covfefe‘ sebagai kata(-kata) paling dikenang untuk 2017.

Selain itu, satu frase ini saja (serta bahasa tubuh Trump dengan dua tangan yang dipeluk) membuat terkejut banyak orang, termasuk para penasehat dan pejabat Amerika Serikat. Bukankah apa yang disebutkan oleh Trump begitu berbahaya? Tidakkah Amerika Serikat harus khawatir bahwa perang nuklir mungkin saja terjadi? Apalagi Korea Utara sudah punya target tersendiri: Pulau Guam, yang merupakan teritori Amerika Serikat di wilayah Samudera Pasifik, dan juga memiliki pangkalan militernya sendiri.

Singkatnya, saya hanya bisa memberi satu kesimpulan terkait: Donald Trump tidak mengerti (dan tidak ingin belajar) rumitnya hubungan internasional.

Semakin saya memikirkan masalah ini, semakin sadar pula saya, bahwa ilmu hubungan internasional tidak akan mati. Justru, ilmu ini akan mendapatkan tantangan baru ketika model jalinan hubungan antar negara memasuki babak baru yang modelnya belum pernah kita bayangkan sebelumnya. Trump dan Kim Jong-un boleh dibilang sedang ‘bermain api’, dan dunia sedang deg-degan akan babak selanjutnya dari masalah ini.

Adalah disebutkan dalam teori-teori hubungan internasional bahwa ketika negara-negara memasuki era senjata nuklir, akan terjadi keengganan lebih besar dari negara-negara pemilik senjata nuklir ini untuk saling berperang. Memang sampai sekarang, betul adanya: Mereka yang memiliki senjata nuklir tidak pernah berperang satu dengan lainnya.* Konflik justru kebanyakan terjadi ketika dua-duanya mengandalkan senjata konvensional, atau, boleh juga dibilang, jika salah satunya memiliki senjata nuklir, seperti partisipasi Amerika dalam berbagai konflik di beberapa belahan dunia.

Walau demikian, saya ingin meminjam sedikit istilah dari dunia keuangan, past trend does not indicate future performance. Apa yang sudah terjadi di masa lalu tidak akan mencerminkan apa yang mungkin terjadi di masa depan. Biarpun 10 kali kejadian di masa lalu tidak berujung pada perang, tidaklah jaminan bahwa di kesempatan kesebelas tidak akan terjadi perang.

Di sini Trump seharusnya berhati-hati, karena memang orang-orang yang belajar betul hubungan internasional sudah memperingatkan lebih dulu dalam berbagai hal. Ingat bahwa, misalnya, kebijakan luar negeri sebuah negara harusnya disusun secara rasional dengan bersandarkan pada kepentingan nasionalnya (national interest). Kepetingan nasional ini kemudian dapat diturunkan ke tingkat strategi utama (grand strategy) dan segala turunannya.

Mudah untuk menebak bahwa kepentingan nasional utama Amerika Serikat adalah menjamin keselamatannya serta keberlangsungan hidupnya sebagai negara (survival). Tanpa survival, tidak ada gunanya Amerika mengejar kepentingan lainnya, karena dengan demikian tidak ada lagi negara Amerika Serikat.

Bagaimana Amerika bisa menjamin keselamatan dan keberadaannya sebagai negara? Coba lihat apa grand strategy negara ini. Di antaranya tentu menjamin keamanan dalam negeri Amerika dari serangan musuh luar dan dalam (enemies both foreign and domestic). Yang menarik, berbagai ahli, termasuk Art serta Mearsheimer, meyakini pula bahwa Amerika harus memastikan bahwa kawasan-kawasan lain di dunia juga aman, dan mencegah lahirnya kekuatan besar di kawasan lain yang dapat menyainginya.

Misalnya saja, di Asia.

Mengapa begitu? Hal ini berkaitan pula dengan kepentingan-kepentingan Amerika Serikat lainnya. Misalnya, Amerika mau memastikan laju perdagangan internasional tidak terhambat, karena barang-barang yang diekspornya butuh pasar, dan ia juga mengimpor barang-barang yang tidak dapat diproduksinya sendiri. Tanpa lalu lintas yang aman, dan dengan mayoritas arus perdagangan dunia melalui kawasan sekitar Asia, tentu Amerika mau mengamankan kawasan ini.

Celakalah Amerika Serikat jika Amerika tidak dapat menjamin dua hal ini: Keamanan dirinya sendiri, dan keamanan kawasan lain yang memang penting bagi kepentingan nasionalnya. Atau, meminjam kata yang sering dipakai P. K. Ojong dalam buku seri perangnya yang sangat nikmat dibaca, “Lacur bagi Amerika!”

Apakah memancing perang tindakan yang bijaksana bagi Trump? Sekelibat mata, tentu saja tidak! Apa yang terjadi jika terjadi serangan pada home soil, sementara para pakar menduga bahwa hulu nuklir antar benua (ICBM) Korea Utara sudah bisa mencapai tanah Amerika? Tentu tidak bijaksana kalau sampai Kim Jong-un benar-benar melakukannya, bukan?

Selain itu, penting pula bagi Anda melihat semantika. Dunia hubungan internasional adalah dunia penuh semantika, dengan sedikit perbedaan pada pilihan kata yang dapat berdampak maha fatal. Saya mengajar Model United Nations untuk mahasiswa, di mana mereka bertindak sebagai ‘diplomat’ dari berbagai negara dan mencoba menyelesaikan masalah-masalah dunia. Salah satu hal yang selalu saya tekankan pada mereka adalah pemilihan kata-kata. Orang mengartikan apa yang ingin mereka artikan, dan terkadang, salah pilih kata bisa berdampak pada ujung yang mengerikan.

Begitu pula dengan mengatakan “api dan amarah” ini. Sungguh tidak diplomatis! Tidak mengherankan jika Menteri Luar Negeri Tillerson buru-buru mengatakan bahwa diplomasi masih menjadi langkah utama yang diambil. Kasihan sekali orang-orang di Foggy Bottom, yang jumlahnya saja sudah mulai mengkhawatirkan, harus dipusingkan lagi melihat chief diplomat mereka, yaitu kepala negara, justru mengeluarkan posisi tubuh yang terkesan angkuh dan menggunakan kata-kata yang memancing amarah negara lain?

Memang, ada hal-hal lain yang tidak boleh dilupakan pula. Asumsikan bahwa Trump dan Kim sama-sama orang yang betul-betul rasional, setidaknya rasional menurut pemahaman kita, maka seharusnya konflik tidak akan terjadi. Trump harusnya tahu bahwa peperangan, apalagi perang nuklir, akan terlalu mahal biayanya dan terlalu besar dampaknya (itupun kalau ia belum terpancing ego atau emosinya, atau kalau-kalau ia belum terpercik keinginan menonjolkan machismo yang ingin ia coba angkat). Bahkan seorang Kim, yang banyak diduga sebaliknya, juga tentu rasional: Ia tahu bahwa berperang melawan Amerika adalah fighting a losing wara lost cause, tidak ada gunanya. Ia tahu ia pasti kalah. Satu saja serangan nuklir ke arah Pyongyang akan menghancurkan tidak hanya negara dan rakyatnya, tapi juga seluruh kekuasaan Kim, dinasti, dan ambisinya. Apa gunanya?

Sampai saat ini saya masih meyakini, dengan deg-degan, bahwa perang tidak akan sampai terjadi. Para aktor seharusnya sadar akan rasionalitas tindakan mereka, dan tetap menjunjung kepentingan nasional yang tidak menghancurkan negara lain saat mengambil kebijakan luar negeri apapun. Jawaban saya untuk pertanyaan tadi adalah tetap percaya bahwa konflik tidak akan menjadi jawaban dari masalah ketegangan ini.

Biar bagaimanapun, saya harus mengatakan bahwa Trump harus belajar lebih banyak mengenai hubungan internasional yang belibet ini. Empat tahun saya belajar hubungan internasional dan itupun masih belum bisa banyak mengenali seluk-beluk isu internasional yang terjadi. Biar begitu, rasa-rasanya semua anak setingkat strata satu ilmu hubungan internasional akan sepakat bahwa pada akhirnya apa yang dilakukan Trump menunjukkan abai luar biasa terhadap fakta kompleksitas dunia internasional saat ini. Setidaknya mayoritas dari populasi ini tentu akan berpandangan bahwa diplomasi masih menjadi solusi satu-satunya, tentu saja, untuk menghindari terjadinya perang luar biasa yang dampaknya entah ke mana.

We only have this one earth, for crying out loud!

Pak Trump, saran saya, dan mudah-mudahan mewakili banyak orang, adalah: Pelajari lebih lanjut mengenai hubungan internasional, dan apa peran negara Anda dalam sistem dunia yang kompleks ini. Anda tidak bisa ingin berdiri sendiri dan meyakini diri Anda ‘kebal’ dari mekanisme hubungan internasional yang sudah berhasil mengelola dunia selama ratusan tahun. Rasionalitas Anda dalam mengambil kebijakan luar negeri adalah batas tipis antara perang dan damai.

Semoga Anda akhirnya paham, bahwa memimpin negara bukan sekedar grasa-grusu saja. Berpikir itu penting.

Mari minum teh dulu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s