Alangkah Indahnya Kalau Suara Dipadu!

Saya bergabung bersama sebuah paduan suara sebelas tahun yang lalu, di penghujung tahun 2006. Tepatnya, sebuah paduan suara sekolah menengah atas. Setelah itu, saya tetap aktif bersama paduan suara tersebut hampir 10 tahun lamanya, bahkan lama seusai saya lulus dari sekolah tersebut.

Beberapa hari ini, saya ikut merenung sejenak, apa sih hebatnya paduan suara? Lama berpikir sambil mendengarkan lagu-lagu paduan suara nan indah, saya menemukan beberapa titik terang.

Singkatnya, bersyukurlah Anda jika Anda bernyanyi.

Entah Anda menyadarinya atau tidak, manusia adalah instrumen musik terbaik yang pernah muncul di kolong langit ini. Apapun instrumen musik, dalam bentuk apapun, yang pernah diciptakan oleh manusia, mulai dari harpsikord, biola Stradivarius, hingga timpani, tidak ada yang lebih indah dan menakjubkan dari manusia.

Betul memang jika ada seseorang—saya lupa siapa dia—yang mengatakan bahwa, “Bukanlah suara manusia yang hebat yang bisa meniru suara alat-alat musik yang indah, melainkan hebatlah manusia menciptakan alat musik yang suaranya bisa meniru suara manusia.” Begitu menakjubkannya suara manusia.

Dengarkanlah misalnya kelompok-kelompok penyanyi tanpa instrumen, yang dikenal sebagai a cappella, termasuk yang populer seperti Pentatonix atau Voctave. Bagaimana mungkin mereka bisa bernyanyi tanpa instrumen apapun, namun dengan bunyi sekaya itu? Hanya kombinasi dari mulut beberapa orang yang bernyanyi dengan lirik, bersenandung, berdehem, bahkan berbunyi ketukan. Luar biasa sekali, bukan?

Memang ajaib Sang Pencipta kita saat mereka-reka seperti apa makhluk manusia ini saat diciptakan. Bagaimana kita dapat diberikan tidak hanya suara yang indah saja, namun juga persepsi dalam kepala untuk membunyikan not dan harmoni yang tepat, kecerdasan untuk menuangkan nada dalam not, keahlian untuk menerjemahkan musik ke dalam instrumen. Manusia mendapatkan karunia untuk bernyanyi—bermusik.

Walau begitu, saya rasa selain berpikir, bernyanyi menjadikan manusia, manusia. Lihatlah kehidupan umat beragama, misalnya. Paduan suara yang bernyanyi di dekat altar. Suara menara masjid menyanyikan doa yang indah kepada Maha Agungnya. Para biksu mendaraskan doa ke Nirwana juga dengan nada-nada. Bahkan mereka yang tidak percaya akan Ilahi juga harus mengakui bahwa alam semesta bernyanyi, dan khususnya manusia, bernyanyi pula.

Saya di depan mengawali tulisan ini dengan paduan suara. Paduan suara adalah aktivitas bernyanyi terbaik yang pernah diciptakan umat manusia. Mengapa demikian? Seperti yang sudah dibahas tadi, sebetulnya sudah terlalu alami jika manusia bernyanyi, karena ia sendiri diciptakan sebagai makhluk yang memiliki kemampuan itu. Biar begitu, paduan suara tidaklah ciptaan alam semesta. Ada wujud upaya dan pemikiran dari manusia untuk menjadikannya terjadi. Ketika bernyanyi bersama-sama tidaklah cukup, kemudian muncul nada-nada bersusun yang terdengar indah dan saling mengisi—harmoni.

Sulitkah? Saya sudah membantu melatih cukup banyak orang untuk mengetahui bahwa itu sangat, amat sulit. Sebetulnya, falsafahnya sederhana: Jika sekelompok orang tidak punya keinginan untuk bersatu, janganlah bicara paduan suara. Tidak mungkin. Jika memang ada keinginan, barulah bisa muncul keinginan untuk berlatih, keinginan untuk memadukan, keinginan untuk memadankan.

Tugas seorang pelatih paduan suara adalah menyulap yang tidak mungkin menjadi mungkin—bukan sekedar menyatukan puluhan penyanyi menjadi sebuah tim. Ingat, menyatukan puluhan suara menjadi satu sebenarnya tidak mungkin terjadi, dan kita pada dasarnya tidak diciptakan untuk melakukannya. Entah bagaimana, memang mungkin semesta yang menjadikannya mungkin, kita berani menyatukan suara, dan inilah paduan suara.

Lalu, apa peran Anda dalam paduan suara tersebut? Saya sering berucap pada mereka yang saya bantu latih untuk perlombaan—dan saya melakukan parafrase dari bagaimana tentara di Amerika Serikat dilatih, ”Lihatlah mereka yang ada di sebelah, di depan, dan di belakang kalian. Sepanjang perjalanan ini, kalian akan sangat bergantung pada mereka. Berjalanlah bersama-sama.” Tidak ada satu suara (atau orang) yang terlalu kecil dalam sebuah paduan suara. Mereka ada untuk satu alasan: memadukan suara dengan indah. Biarpun Anda membunyikan not yang suaranya seperti orang tercekik atau seperti suara orang bersendawa, tidak ada yang terlalu rendah. Semua sama-sama berkarunia, bersumbangsih untuk sebuah lagu yang indah.

Kalau Anda merasa Anda tidak berarti, saya ingin memberi Anda imaji atas satu lagu klasik yang cukup terkenal, Spem in Alium karya Thomas Tallis. Kalau biasanya mungkin Anda mengenal lagu paduan suara dalam 4 suara saja (soprano, alto, tenor, bass), bayangkan sebuah lagu yang punya bukan 4, bukan 8, tapi 40 divisi suara sekaligus! Saya pernah mengira-ngira, apa sih bedanya kalau dari 40 suara itu, salah satu suara tidak bunyi? Apa dengan 39 suara yang sudah begitu ramai, lagu tersebut akan sumbang? Namun, kalau dipikir lagi, mungkin justru itulah—Tallis, dengan segala karunia kecerdasan yang ia miliki, menjamin bahwa 40 suara akan membuat lagu itu sempurna, bukan 39, bukan 41, tapi 40. Sebegitu signifikannya satu suara.

Masih banyak kisah yang dapat terurai mengapa bernyanyi di paduan suara lebih indah dari sekedar apa yang Anda dengar. Satu, dua, empat nada. Dua, tiga, bahkan delapan harmoni. Tidakkah Anda bertanya-tanya mengapa kita, manusia, bisa mengenali harmoni secara alami—bahkan jika Anda bukan orang yang paling pakar sekalipun dalam dunia musik, Anda tahu sesuatu harmonis ketika Anda mendengar nada-nada yang memang harmonis ‘dari sananya’.

Begitulah sekilas cerita. Kalau Anda diberkati dengan anugereah untuk berpaduan suara, nikmatilah, dan bersukacitalah. Ialah sebuah privelese yang tidak tentu bisa dinikmati oleh sebuah orang. Bolehlah paduan suara gereja, di lingkungan Anda, di sekolah Anda, di kampus Anda, atau bahkan paduan suara profesional yang berkompetisi di dalam dan luar negeri. Kompetisi ataupun tidak, berbahagialah karena Anda mendapatkan kehormatan untuk menjadi satu bagian dari kehebatan peradaban umat manusia—bernyanyi.

Maka, bersyukurlah! Teruslah bernyanyi!

(Foto bersumber dari Wikimedia Commons)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s