MUN 101: Position Paper

Saya punya seorang teman yang mengatakan bahwa dalam MUN, position paper adalah tidak penting. Tentu kita harus ramai-ramai membantahnya, karena bagaimanapun juga position paper akan sangat menentukan apa yang kita lakukan pada suatu konferensi MUN.

Position paper merupakan suatu dokumen berisi bagaimana negara yang kita wakili memposisikan dirinya terhadap suatu isu, dan bagaimana negara yang kita wakili memandang isu tersebut. Position paper merupakan dokumen yang sangat ringkas, pada umumnya hanya setebal 1-2 halaman. Konferensi MUN yang berbeda menerapkan standar format yang berbeda-beda: ada MUN yang meminta diketik dengan 1 spasi, ada yang ganda. Ada juga beberapa konferensi MUN yang meminta position paper memiliki sitasi (sumber kutipan).

Bagaimana position paper menjadi penting? Dalam konferensi MUN, kita harus menyuarakan segala hal yang sesuai dengan posisi dan kepentingan negara kita di dalam konferensi tersebut, yang secara singkat dituliskan dalam position paper ini. Mereka yang membaca position paper pada umumnya mengharapkan bahwa kita selalu tetap pada posisi dalam position paper tersebut selama konferensi.

Position paper biasa mengandung:

  • Posisi negara kita terhadap suatu isu
  • Apa yang negara kita sudah lakukan terhadap isu tersebut (domestik/internasional)
  • Solusi apakah yang kita tawarkan untuk isu yang sedang dibahas tersebut

Saya akan memberikan contoh position paper yang saya buat pada salah satu MUN beberapa waktu lalu. Itu mungkin bukan yang paling baik dan sempurna, namun semoga bisa membantu memberi gambaran. Lihat contoh di bagian akhir post ini.

I have a friend who said that position paper is not important during MUN. Of course, we all have to rebut such statement, since position paper is a very determinant factor in a MUN conference.

Position paper is a brief document consisting on how our country (the country that we represent) positions itself on an issue, and how the country positions itself on the issue. Position paper is very brief, usually around 1-2 pages. Different MUN conferences demand different formatting: some requires single space, some double space. There are also several conferences that demand citations to be also written.

How position paper is important? During the MUN conference, we have to voice ourselves in accordance with our position and our interest within the conference, which is briefly stated within the position paper. Those who read the position paper will expect us to stay in the position paper.

Position paper may contain:

  • Our position on the issue
  • What has the country done for tackling the issue (either inward or outward)
  • What solutions that we provide to tackle the issue

I’ll give an example of position paper, that I made a few months ago for a MUN. It’s not the best, I believe, yet I’m trying to give an example on how position paper looks like.

POSITION PAPER

Country            : Republic of Ecuador

Committee       : Historical General Assembly (HGA)

Name                : Matthew Hanzel, Jason Robert

Topic Area: Apartheid

The Republic of Ecuador believes that all forms of discrimination based on inherent values of human being, such as ethnicity and race, should be all together eliminated from our World. Recalling the Resolution of UN General Assembly No. 3411 C (XX) (1975) which states that the crime of apartheid is a direct affront to the United Nations, this Delegation would like to press the United Nations on its support against apartheid.

The Republic of Ecuador believes in the valuation of human rights. The 1967 Constitution of Ecuador states in Article 13 that all rights granted by the Constitution are equal for all citizen of Ecuador, regardless of its different characteristics. Ecuador is a country with diversity of ethnicity, which granting equal rights and treatments to everyone regardless of its origins is also important for Ecuador’s existence and unity. This affirms the spirit of this Delegation as a founding member of the United Nations and signatory to the Universal Declaration of Human Rights (1948).

The Government of Ecuador supports and affirms the Resolution of the UN Security Council No. A/RES/392 (1976), condemning the Soweto Massacre of June 1976. However, after the event of Soweto Massacre in 1976, and after consulting the Special Report of the Special Committee Against Apartheid on “The Soweto Massacre and its Aftermath” (A/31/22/Add.1, 3 August 1976) this Delegation would like to further stress its condemnation against apartheid, while declaring that the United Nations should take further action after failing resolutions and conventions.

The Delegation of Ecuador would first press the United Nations to pass a Resolution further emphasizing apartheid as a crime against international law, a grave violation of human rights and a threat of international peace and security. The United Nations should then further affirm the recognition of the people of South Africa, together with the African National Congress (ANC) and the discriminated ethnic groups as the sole, rightful representation of the people of South Africa, demising the incumbent regime which rules South Africa with apartheid policies.

Besides that, the Delegation of Ecuador is committed to press a strong solution for the eradication of apartheid in South Africa. In order to eliminate discrimination in South Africa, upon which the Government of South Africa has no interest and willingness to prevent apartheid, this Delegation will propose to the United Nations for establishing an Independent Committee to assess, evaluate, and properly elaborate the implementation of apartheid policies in South Africa, while also determining possible solutions for eradication of apartheid in the near future.

This Delegation also believes that the United Nations should impose a mandatory economic sanction to South Africa, especially preventing international trade of arms and other commodities supporting coercive actions in domestic South Africa. Meanwhile, the United Nations should also provide economic aid only to the recognized representation of the South African people (Resolution A/RES/3151 G (XXVIII), 14 December 1973), which are the anti-apartheid movement and the people of South Africa that are repressed.

Upon the settlement of the issue, Ecuador would like to press the United Nations upon creation of an ad-hoc, independent human rights tribunal on South Africa, especially regarding the massacres and other crimes of humanity that prevents the freedom and integrity of human values of all South Africans. This proposal would further emphasize Ecuador’s international relations commitment in the eradication of any forms of discrimination to human beings.

To further increase the support, The Delegation of Ecuador would like to engage in interaction and communication with other countries in the South American region, and our fellow partners in Africa, supporting the possible solutions proposed by the Delegation of Ecuador, in order to halt the crime of apartheid as soon as possible.


MUN 101: Quorum

Dalam konferensi MUN, quorum adalah suatu jumlah minimum yang harus dipenuhi bagi sesi sidang yang bersangkutan untuk memulai debat substantif/proses voting. Besarnya quorum mungkin berbeda-beda antar konferensi. Untuk contoh, WorldMUN menetapkan bahwa quorum untuk memulai debat substantif adalah 1/4 dari delegasi (negara-negara diwakilkan), untuk proses voting adalah 1/2. Jika quorum tidak bisa dipenuhi, maka proses yang bersangkutan tidak bisa dimulai.

Pada komite di mana satu delegasi diwakili oleh lebih dari 1 orang, dan anggota delegasi diijinkan untuk meninggalkan ruangan untuk melakukan lobi, kehadiran salah satu dari anggota delegasi tersebut sudah cukup untuk mengetahui quorum.

During MUN conferences, quorum is a minimum number of delegations (not delegates) ought to be fulfilled at a certain session to begin substantive debate or voting procedures. The quorum number may differ for each conferences. For example, WorldMUN determines that quorum for starting a substantive debate is 1/4 of the delegations, for voting procedures is 1/2. If the quorum cannot be fulfilled, the said process may not be started.

For the committee that are multi-delegates for each delegation, and when the delegates are allowed to leave the room for lobbying, the presence of at least one of the delegates from each delegation is adequate to count the quorum.

Istilah Perdagangan Internasional Menurut INCOTERMS 2000

INCOTERMS merupakan daftar istilah yang digunakan untuk menyelaraskan istilah-istilah perdagangan internasional di seluruh dunia. Istilah ini secara kebiasaan diterima oleh semua pihak yang melakukan perdagangan internasional. INCOTERMS terbagi dalam empat kelompok: E, F, C, D.

***

KELOMPOK E, meliputi:

EXW (Ex Works)

Ex works berarti tanggung jawab penjual hanya sampai suatu tempat yang telah disepakati antara penjual dan pembeli, di mana barang tersedia di tempat tersebut. Setelah barang tersedia di tempat yang dijanjikan, tanggung jawab berpindah kepada pembeli seluruhnya, termasuk pengangkutan hingga ke tempat tujuan, ijin-ijin pabean, dst.

Moda transportasi: dipilih pembeli (seluruhnya)

Tanggung jawab penjual: menyediakan barang agar siap untuk dijemput pihak pembeli.

Tanggung jawab pembeli: menaikkan barang ke angkutan, mengangkut sampai tujuan, melewati pabean, dst.

Pengalihan resiko/tanggung jawab: saat barang telah tersedia di tempat yang dijanjikan.

***

KELOMPOK F, meliputi:

FCA (Free Carrier, pada tempat yang dijanjikan)

FCA berarti tanggung jawab penjual adalah sampai penyerahan barang-barang yang dimaksud kepada suatu perusahaan pengangkutan yang akan mengantarkan ke tempat tujuan. Pengangkut, yang disebut carrier, dijanjikan oleh pihak penjual dan pembeli di dalam kontrak.

Moda transportasi: laut, udara, truk, kereta, atau semuanya

Tanggung jawab penjual: memindahtangankan barang kepada carrier, menyediakan lisensi ekspor

Tanggung jawab pembeli: memilih carrier, mengatur pengangkutan barang sampai tujuan, melewati pabean

Pengalihan resiko/tanggung jawab: saat barang diantarkan kepada carrier atau terminal operatornya

FAS (Free Alongside Ship)

Sesuai namanya, ini hanya berlaku untuk pengangkutan laut dan air. FAS berarti tanggung jawab penjual adalah sampai ketika barang tiba di sisi kapal yang telah ditentukan oleh pembeli.

Moda transportasi: hanya laut dan air

Tanggung jawab penjual: mengantarkan barang sampai tiba di sisi kapal dalam waktu yang ada di kontrak, menyediakan lisensi ekspor

Tanggung jawab pembeli: memilih pengangkut samudra, pengangkut sampai tujuan, melalui pabean

Pengalihan resiko/tanggung jawab: sampai saat barang tiba di sisi kapal yang ditentukan pembeli

FOB (Free on Board)

Free on Board juga berlaku hanya pada pengangkutan laut dan air. FOB berarti tanggung jawab penjual sampai ketika barang tiba di atas kapal (telah diangkut sampai ke atas kapal) yang telah ditentukan pembeli.

Moda transportasi: hanya laut dan air

Tanggung jawab penjual: mengangkut barang sampai berada di atas kapal, mendapatkan lisensi ekspor

Tanggung jawab pembeli: memilih pengangkut samudra, pengangkut sampai tujuan, melalui pabean

Pengalihan resiko/tanggung jawab: sampai saat barang tiba di atas kapal, sering kali didefinisikan saat barang telah melewati pagar kapal (ship’s rail) pada pelabuhan

***

KELOMPOK C, meliputi:

CFR (Cost and Freight)

CFR berarti tanggung jawab penjual adalah untuk menghubungi pengangkutan dan membayarkan biaya angkut yang dimaksud sampai ke pelabuhan tujuan yang dijanjikan dalam kontrak. Penjual juga mengatur bagaimana barang tersebut diangkut sampai berada di atas kapal, dan membayar biaya menaikkan barang sampai ke kapal yang dimaksud.

Moda transportasi: hanya laut dan air

Tanggung jawab penjual: memilih pengangkut samudra dan membayar biaya angkut smapai pelabuhan tujuan, menaikkan barang sampai ke alat angkut, mendapatkan lisensi ekspor

Tanggung jawab pembeli: menerima barang yang diangkut oleh jasa angkutan, membayar pajak impor, membayar asuransi (bandingkan dengan CIF), melewati pabean

Pengalihan resiko/tanggung jawab: saat barang melewati pagar kapal di pelabuhan pengiriman

CIF (Cost, Insurance and Freight)

CIF harus dibandingkan dengan CFR, karena pada prinsipnya CIF dan CFR sama, hanya saja CIF menambahkan kewajiban penjual untuk membayarkan biaya asuransi (insurance). Asuransi kelautan (marine insurance) umumnya sebesar harga dalam bukti pembelian (invoice) ditambah 10%.

Moda transportasi: hanya laut dan air

Tanggung jawab penjual: sama seperti CFR, dengan tambahan membayar biaya asuransi kelautan

Tanggung jawab pembeli: sama seperti CFR, namun pembeli tidak menyediakan asuransi

Pengalihan resiko: saat barang melewati pagar kapal di pelabuhan pengiriman. Jika barang hilang/rusak di tengah jalan, pembeli dapat melakukan klaim asuransi

CPT (Carriage Paid To)

CPT sama seperti CFR, hanya saja berlaku untuk semua moda transportasi. Maka penjual turut bertanggung jawab untuk menaikkan dan membayar biaya menaikkannya, termasuk mengatur dan membayar biaya pengantaran barang sampai ke pelabuhan tujuan.

Moda transportasi: laut, air, truk, kereta, atau semua

Tanggung jawab penjual: sama seperti CFR, hanya saja untuk semua moda transportasi

Tanggung jawab pembeli: sama seperti CFR

Pengalihan resiko: saat barang tiba pada jasa angkut pertama

CIP (Carriage and Insurance Paid To)

CIP sama seperti CIF, hanya saja berlaku untuk semua moda transportasi (bandingkan juga dengan CPT).

Moda transportasi: laut, air, truk, kereta, atau semua

Tanggung jawab penjual: sama seperti CIF, hanya saja untuk semua moda transportasi

Tanggung jawab pembeli: sama seperti CIF

Pengalihan resiko: saat barang tiba pada jasa angkut pertama. Jika barang rusak/hilang di tengah jalan, pembeli dapat mengajukan klaim asuransi.

***

KELOMPOK D, meliputi:

DAF (Delivered at Frontier)

DAF berarti penjual bertanggung jawab untuk pengangkutan dan membayar biaya angkutnya sampai pada suatu titik perbatasan pada negara pengimpor. Penjual juga melewatkan barang tersebut melalui pabean.

Moda transportasi: bisa semua, umumnya untuk pengangkutan kereta internasional

Tanggung jawab penjual: pengangkutan sampai titik batas negara pengimpor, melalui pabean

Tanggung jawab pembeli: pengangkutan dari titik batas sampai tempat tujuan, membayar bea impor

Pengalihan resiko/tanggung jawab: ketika barang siap diserahkan dari penjual pada pembeli di titik batas negara pengimpor

DES (Delivered Ex Ship)

DES berarti penjual mengatur pengangkutan dan pembayarannya sampai ketika kapal yang dimaksud tiba di pelabuhan tujuan dan barang siap diturunkan dari kapal.

Moda transportasi: laut dan air

Tanggung jawab penjual: mengatur pengangkutan hingga pelabuhan tujuan

Tanggung jawab pembeli: membongkarmuat dari kapal dan membayarnya, melalui pabean

Pengalihan resiko/tanggung jawab: ketika barang sudah siap dibongkarmuat saat tiba di pelabuhan tujuan

DEQ (Delivered Ex Quay)

DEQ berarti penjual mengatur pengangkutan dan pembayarannya sampai ketika barang tersebut dibongkarmuat pada dermaga di pelabuhan tujuan.

Moda transportasi: laut dan air

Tanggung jawab penjual: mengatur pengangkutan hingga pelabuhan tujuan, membongkarmuat barang sampai ada di dermaga pelabuhan tujuan

Tanggung jawab pembeli: menerima barang dan melalui pabean, membayar bea impor, mengantarkan barang sampai tujuan terakhir di place of business pembeli

Pengalihan resiko/tanggung jawab: saat barang diturunkan sampai pada dermaga. Penjual umumnya mengasuransikan barangnya.

DDU (Delivery Duty Unpaid)

DDU sifatnya sama seperti DEQ, hanya saja berlaku untuk semua moda transportasi.

Moda transportasi: laut, air, truk, kereta, atau semua

Tanggung jawab penjual: sama seperti DEQ.

Tanggung jawab pembeli: menerima barang sampai pada tempat yang dijanjikan, melalui pabean dan membayar bea impor

Pengalihan resiko/tanggung jawab: saat barang telah tiba di barang yang dijajikan. Penjual umumnya mengasuransikan barangnya.

DDP (Delivery Duty Paid)

DDP sifatnya sama dengan DDU, hanya saja penjual mengusahan lisensi impor, membayar bea impor, dan melalui barang lewat pabean. Pada umumnya barang dikirimkan sampai tempat tujuan akhir, yaitu place of business dari si pembeli.

Moda transportasi: laut, air, truk, kereta, atau semua

Tanggung jawab penjual: sama seperti DDU, hanya saja penjual mengurusi semau proses pengangkutan sampai tempat tujuan akhir

Tanggung jawab pembeli: menerima barang sampai pada tempat yang dijanjikan

Pengalihan resiko/tanggung jawab: ketika barang diantarkan dan tiba sampai tempat tujuan. Penjual umumnya mengasuransikan barangnya.

***

Terima kasih juga kepada buku Schaffer, Agusti and Earle. International Business Law and its Environment, 7e. 2009. Mason, OH: Cengage Learning.

 

MUN 101: Phrases

Kali ini, MUN 101 akan memberikan sejumlah frasa yang paling umum diucapkan selama konferensi MUN, yang pada umumnya dipakai di manapun konferensi MUN itu diadakan.

These are some of the commonly used phrases during MUN conferences, usually universally used wherever the conference is held.

“Decorum, delegates!”, or “Order! Order, delegates!”

Decorum merupakan bahasa Latin yang berarti sopan santun. Ketika chair mengetukkan gavel (palu sidang) dan mengatakan “Decorum”, berarti seluruh delegasi diharapkan dapat menjaga sopan santun dan ketertiban jalannya sidang. Hal yang sama ketika chair mengatakan “Order”.

Decorum is a Latin word meaning manners. When the chair knocks the gavel and says “Decorum”, it means that all delegates has to keep the manners and order of the session. It’s the same when the chair says “Order”.

“All those in favor?” often followed by “… please raise your placards.”

Kalimat ini diucapkan saat chair melakukan proses voting. Pada umumnya chair akan menggunakan pola kalimat demikian:

“We are going to vote on … . All those in favor (please raise your placards).”

Hal ini meminta delegasi untuk mengangkat placard mereka ketika mereka menyatakan setuju terhadap mosi yang dimaksud.

This phrase is used when the chair is to conduct a voting process. Commonly the chair will use this pattern of sentence:

“We are going to vote on … . All those in favor (please raise your placards).”

It requests the delegates to raise their placards when they are agree on certain motion being voted.

“Is there any motions on the floor?”

Hal ini diucapkan oleh chair ketika kesempatan untuk mengusulkan mosi telah dibuka. Jawaban yang diharapkan adalah mosi dari delegasi, misal:

“Is there any motions on the floor?”

“The Delegates of India would like to propose a moderated caucus for 10 minutes with 1 minute speaking time to discuss the presence of UN Peacekeeping force in Lebanon.”

“The motion is in order. Any other motions on the floor?”

Ketika chair mengatakan mosi tersebut bisa diajukan, chair biasanya akan mengatakan “the motion is in order.” Jika tidak, chair akan mengatakan “the motion is not in order”, atau seringkali menggunakan kata “I have to rule this dilatory.”

This phrase is used by the chair when the delegates are allowed to propose any motions. The expected response is on the form of motions from the Delegates, for example:

“Is there any motions on the floor?”

“The Delegates of India would like to propose a moderated caucus for 10 minutes with 1 minute speaking time to discuss the presence of UN Peacekeeping force in Lebanon.”

“The motion is in order. Any other motions on the floor?”

When the chair agrees that the motion may be proposed, the chair usually will say “the motion is in order”. If not, the chair will say “the motion is not in order”, or often use the phrase “I have to rule this dilatory.”


MUN 101: Placards

Apa itu placard? Placard merupakan salah satu alat konferensi paling penting dalam Model United Nations (MUN). Pada umumnya, per delegasi dalam suatu komisi akan mendapatkan 1 placard (umumnya berbentuk kertas bertuliskan nama negara dalam Bahasa Inggris). Placard berguna sebagai alat identifikasi delegasi.

Tindakan dengan placard: delegasi mengangkat placard miliknya untuk menentukan pilihan, antara lain saat absensi (roll call), atau saat proses voting (yes/no/abstain).

Perlakuan terhadap placard: placard harus diperlakukan dengan baik selama MUN, tidak dicoret-coret atau dirusak. Rusak/hilangnya placard bisa berakibat dilarang ikut dalam sesi konferensi.

What are placards? Placard is one of the most important thing in Model United Nations conferences. One delegation at a certain committee will usually get one placard, commonly in the form of a card, printed with the name of the country in English. It is useful as identification tool.

Delegates usually raise their placards for a roll call and to cast their vote during voting (yes/no/abstain).

 

Placard should be handled with care. Do not write anything/give any marks on your placard. Losing/damaging your placard may cost you your participation in the session.