Categories
Uncategorized

MUN 101: Phrases

Kali ini, MUN 101 akan memberikan sejumlah frasa yang paling umum diucapkan selama konferensi MUN, yang pada umumnya dipakai di manapun konferensi MUN itu diadakan.

These are some of the commonly used phrases during MUN conferences, usually universally used wherever the conference is held.

“Decorum, delegates!”, or “Order! Order, delegates!”

Decorum merupakan bahasa Latin yang berarti sopan santun. Ketika chair mengetukkan gavel (palu sidang) dan mengatakan “Decorum”, berarti seluruh delegasi diharapkan dapat menjaga sopan santun dan ketertiban jalannya sidang. Hal yang sama ketika chair mengatakan “Order”.

Decorum is a Latin word meaning manners. When the chair knocks the gavel and says “Decorum”, it means that all delegates has to keep the manners and order of the session. It’s the same when the chair says “Order”.

“All those in favor?” often followed by “… please raise your placards.”

Kalimat ini diucapkan saat chair melakukan proses voting. Pada umumnya chair akan menggunakan pola kalimat demikian:

“We are going to vote on … . All those in favor (please raise your placards).”

Hal ini meminta delegasi untuk mengangkat placard mereka ketika mereka menyatakan setuju terhadap mosi yang dimaksud.

This phrase is used when the chair is to conduct a voting process. Commonly the chair will use this pattern of sentence:

“We are going to vote on … . All those in favor (please raise your placards).”

It requests the delegates to raise their placards when they are agree on certain motion being voted.

“Is there any motions on the floor?”

Hal ini diucapkan oleh chair ketika kesempatan untuk mengusulkan mosi telah dibuka. Jawaban yang diharapkan adalah mosi dari delegasi, misal:

“Is there any motions on the floor?”

“The Delegates of India would like to propose a moderated caucus for 10 minutes with 1 minute speaking time to discuss the presence of UN Peacekeeping force in Lebanon.”

“The motion is in order. Any other motions on the floor?”

Ketika chair mengatakan mosi tersebut bisa diajukan, chair biasanya akan mengatakan “the motion is in order.” Jika tidak, chair akan mengatakan “the motion is not in order”, atau seringkali menggunakan kata “I have to rule this dilatory.”

This phrase is used by the chair when the delegates are allowed to propose any motions. The expected response is on the form of motions from the Delegates, for example:

“Is there any motions on the floor?”

“The Delegates of India would like to propose a moderated caucus for 10 minutes with 1 minute speaking time to discuss the presence of UN Peacekeeping force in Lebanon.”

“The motion is in order. Any other motions on the floor?”

When the chair agrees that the motion may be proposed, the chair usually will say “the motion is in order”. If not, the chair will say “the motion is not in order”, or often use the phrase “I have to rule this dilatory.”


Categories
Uncategorized

MUN 101: Placards

Apa itu placard? Placard merupakan salah satu alat konferensi paling penting dalam Model United Nations (MUN). Pada umumnya, per delegasi dalam suatu komisi akan mendapatkan 1 placard (umumnya berbentuk kertas bertuliskan nama negara dalam Bahasa Inggris). Placard berguna sebagai alat identifikasi delegasi.

Tindakan dengan placard: delegasi mengangkat placard miliknya untuk menentukan pilihan, antara lain saat absensi (roll call), atau saat proses voting (yes/no/abstain).

Perlakuan terhadap placard: placard harus diperlakukan dengan baik selama MUN, tidak dicoret-coret atau dirusak. Rusak/hilangnya placard bisa berakibat dilarang ikut dalam sesi konferensi.

What are placards? Placard is one of the most important thing in Model United Nations conferences. One delegation at a certain committee will usually get one placard, commonly in the form of a card, printed with the name of the country in English. It is useful as identification tool.

Delegates usually raise their placards for a roll call and to cast their vote during voting (yes/no/abstain).

 

Placard should be handled with care. Do not write anything/give any marks on your placard. Losing/damaging your placard may cost you your participation in the session.

Categories
Uncategorized

Makna Denotasi v. Makna Konotasi

Apa pengertian makna “denotasi” dan “konotasi”? Apa bedanya?

Makna “denotasi” berarti makna yang sesungguhnya, makna yang jelas terlihat, makna eksplisit. Makna denotasi tidak menerjemahkan suatu frasa menjadi kiasan. Contohnya, ketika menyebut “meja hijau”, yang dimaksudkan adalah sebuah meja berwarna hijau. Atau ketika menyebut “tangan kanan”, yang dimaksudkan adalah bagian tubuh manusia berupa tangan yang terdapat pada sisi kanan tubuhnya.

Makna “konotasi” berarti makna yang tidak sesungguhnya, makna yang tidak jelas terlihat, makna implisit. Makna denotasi menerjemahkan suatu frasa menjadi kiasan, yang artinya belum tentu seperti apa yang terlihat secara eksplisit. Contohnya, ketika menyebut “meja hijau”, yang dimaksudkan secara kias adalah pengadilan (di mana meja para hakim adalah meja yang ditutupi taplak hijau, tapi frasa “meja hijau” diterjemahkan sebagai badan pengadilan tersebut). Atau ketika menyebut “tangan kanan”, yang dimaksudkan secara kias adalah seseorang yang sangat menjadi kepercayaan.

Categories
Uncategorized

10 Lagu Paduan Suara Favorit Versi Pribadi

Lima tahun di sebuah paduan suara. Lebih dari 100 judul lagu. Tentu bukan jumlah yang sedikit untuk diingat kembali. Tapi di tengah begitu banyaknya judul, bolehlah kini saya pilih 10 lagu terekomendasi, yang aransemennya bisa didapat dengan relatif mudah.

Berikut adalah 10 lagu paduan suara pilihan yang terekomendasi, versi saya pribadi tentunya.

  1. Alleluia – Ralph Manuel (Jangan salah, banyak sekali lagu berjudul Alleluia, taruhlah versi Randall Thompson. Yang satu ini tapi, sangat direkomendasikan karena lagunya ‘terlalu’ indah.)
  2. The Lord Bless You and Keep You – John Rutter (Simpel, tapi sangat indah.)
  3. The Majesty and Glory of Your Name – Tom Fettke
  4. The Greatest of These is Love – Anna Laura Page
  5. As Long As I Have Music – Don Besig/Nancy Price
  6. Look at the World – John Rutter
  7. The Very Best Time of Year – John Rutter (Ini dia lagu Natal paling manis. Menyanyikannya kapanpun akan membuat anda ingin cepat-cepat Natal.)
  8. Ride the Chariot – African Spiritual Song/arr Andre Thomas
  9. We Wish You – Ruth Morris Gray
  10. The Peace of God – John Rutter

Ada yang bertanya, mengapa begitu banyak lagu karangan John Rutter di sana?

Categories
Uncategorized

Pandangan Cepat: Bagaimana Politik Luar Negeri Dijalankan Kini

Seharusnya tulisan ini menjadi tulisan yang sangat analitikal, tapi saya berpikir tidak mau terlalu banyak mengelaborasi. Adalah penting peran dari pembaca untuk memberikan sumbangsih ide terhadap bagaimana politik luar negeri RI dijalankan di masa kini, terutama untuk memenuhi seluruh kepentingan nasional Indonesia, yang sesungguhnya turut tertuang (secara normatif) dalam Pembukaan UUD 1945, alinea IV.

Apakah tujuan didirikannya Republik Indonesia?

Patut kita ingat terlebih dahulu, bahwa Indonesia didirikan dari warisan penjajahan, sehingga faktor kemerdekaan “ialah hak segala bangsa” menjadi landasan historisnya. Tujuan didirikannya Republik Indonesia sebagai sebuah entitas negara dituliskan pada alinea IV di Pembukaan (Mukadimah) UUD 1945:

  • melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia
  • memajukan kesejahteraan umum
  • mencerdaskan kehidupan bangsa
  • ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial

Tujuan negara ini harus turut menjadi dasar dilaksanakannya politik luar negeri Republik Indonesia, yaitu demi memenuhi segala tujuan di atas, yang turut dituangkan dalam kepentingan nasional (national interest) dan seluruh kebijakan nasional Indonesia.

Wajah politik luar negeri RI di masa kini?

Seakan tertinggal dari masanya, RI masih berkejaran dengan visi mendapatkan legitimasi sebagai negara demokrasi yang stabil. Kini, Indonesia merupakan demokrasi terbesar ketiga di dunia (setelah India dan AS), dan didukung dengan angka statistikal berpenduduk Muslim terbesar di dunia, ini seharusnya menjadi double advantage yang memang sedang dicari: negara berpenduduk Muslim terbesar namun bisa menjalankan demokrasi dengan baik.

Meski begitu, secara politik internasional, harus dimaklumi bahwa Indonesia masih memiliki leverage yang terbilang kurang. Hal ini perlu kita pelajari dari positioning Indonesia di dunia internasional. Indonesia memang de facto pemimpin ASEAN sejak detik pertama didirikan, tergabung dalam Organisasi Konferensi Islam (OKI/OIC), salah satu dari 20 ekonomi terbesar di dunia lewat ukuran GDP nominal (G-20), anggota PBB, APEC dan berbagai organisasi kerjasama lainnya, yang pada dasarnya memegang kunci strategis untuk meningkatkan leverage. Tapi hanya sampai situlah hal yang dimiliki Indonesia. Sulit mempertimbangkan apa yang bisa Indonesia ‘jual’ kepada dunia internasional.

Memang, legitimasi terhadap demokrasi dan ‘pengakuan’ terhadap HAM (meskipun masih banyak pasang surutnya, misalnya Indonesia tidak meratifikasi Statuta Roma) mendatangkan banyak keuntungan, misalnya insentif dan bantuan ekonomi, dan mulai meningkatnya posisi tawar Indonesia di mata dunia. Pidato Obama di salah satu universitas besar di Indonesia, November 2010 silam, lebih banyak normatif daripada realitanya, karena sebetulnya banyak fakta tersembunyi yang tidak diangkat Presiden Obama mengenai Indonesia. Menjadikan Indonesia sebagai role model seperti yang sering digaungkan Obama bukannya salah, hanya kurang tepat saja.

Tentu hal ini juga tidak dapat dilepaskan dari perspektif ‘pragmatis-oportunis’ yang diemban Indonesia. Indonesia ingin zero-enemies, menjalin hubungan persahabatan yang konstruktif dengan semua negara, dan mengusahakan tidak ada musuh (dengan beberapa pengecualian faktual). Oportunis, artinya Indonesia ingin mengambil setiap kesempatan – sekecil apapun – untuk turut berbicara di dunia internasional, lewat partisipasi aktif di berbagai forum internasional. Maka betullah sebenarnya adagium “berlayar di lautan bergelombang”, yaitu Indonesia sedang melayari lautan luas masalah global di tengah dunia yang sedang mengalami modernisasi dan globalisasi.

Tapi saya juga teringat pada salah satu tulisan dari Kishore Mahbubani, seorang akademisi terkenal dalam bidang ilmu politik di Singapura, yang berbicara tentang G-20 (di mana ada Indonesia), yang berlayar di satu perahu tapi memiliki visi berlayar yang berbeda. Apakah Indonesia dapat menjadi salah satu pemain utama yang bisa ikut ‘menyetir’ perahu itu dengan mengajak negara-negara lain untuk bersama-sama menyetir bersama Indonesia, tentu masih jauh di angan.

Jangan lupa bahwa Indonesia sebetulnya harus berhati-hati dalam menanggapi isu-isu luar negeri, terutama bagi media dan civil society yang menerimanya. Bagaimana media-media Indonesia belakangan, misalnya, menanggapi isu intervensi negara-negara barat ke Libya sebagai perang agama atau eksploitasi minyak, tentu perlu diawasi. Mengapa? Karena dunia internasional tidak semudah mengarahkannya kepada suatu faksi tertentu, atau perspektif kelompok tertentu yang dominan atau ‘besar suaranya’. Berhati-hati artinya menyeimbangkan berbagai pendapat dan perspektif terhadap suatu isu, karena memahaminya dari salah satu sisi saja bisa menjadi pedang bermata dua bagi Pemerintah RI sekalipun.

Categories
National and International Law

Sumber-sumber Hukum Republik Indonesia

Menurut Undang-undang No. 10/2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan, berikut adalah tata urutan sumber-sumber hukum di Republik Indonesia:

  1. Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 beserta Amandemennya
  2. Undang-undang / Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang
  3. Peraturan Pemerintah
  4. Penetapan Presiden
  5. Peraturan Daerah, yang dapat dibagi menjadi: Peraturan Daerah Provinsi (Tingkat I), Peraturan Daerah Kabupaten/Kota (Tingkat II), Peraturan Daerah Desa

In English, these are the legal sources of Indonesian law, following the Law No. 10/2004 concerning the Formation of Laws:

  1. The 1945 Constitution of the Republic of Indonesia and its Amendments
  2. Laws / Government Regulations in lieu of Law
  3. Government Regulations
  4. Presidential Regulations
  5. Local Regulations, in form of: Provincial Local Regulations, Municipal Local Regulations, Village Local Regulations
Categories
Uncategorized

Seminggu di WorldMUN

Saya telah mengakhiri suatu konferensi internasional 5 hari bernama “World Model United Nations Conference” (WMUN). WMUN yang diadakan 14-18 Maret 2011 ini diadakan di Singapura, melibatkan 2,255 mahasiswa dari 270+ institusi di 65+ negara. Indonesia memegang rekor tersendiri dengan mengirimkan jumlah delegasi terbesar, yaitu 200+ mahasiswa.

Sebagai oleh-oleh, saya akan menyertakan sejumlah tulisan mengenai Model United Nations secara berseri, mulai dari hal-hal yang sifatnya umum hingga sangat spesifik. Semoga berguna bagi anda yang mencari referensi untuk MUN.

Categories
Uncategorized

Berpaduansuara dengan iPad!

Saya mempertemukan musik dan teknologi di satu tempat ini. Saya sudah hampir lima tahun menjadi anggota paduan suara di salah satu sekolah menengah atas di Jakarta (saya masih menjadi anggota biarpun sudah lulus dari SMA tersebut). Di sisi lain, saya adalah konsumer teknologi dengan sejumlah gadget yang berguna buat kehidupan sehari-hari.

Ijinkan saya berbagi dengan anda. Saya menggunakan iPad saya sebagai alat yang berguna ketika berpaduansuara. Dengan layarnya yang besar dan terang (backlit), dengan menggunakan aplikasi yang tepat, iPad bisa sangat berguna untuk banyak kegiatan.

Ingin mengikuti langkah saya? Anda harus menyiapkan beberapa hal berikut:

  • Tentu saja, iPad. Ini bukan ajang promosi, tentunya, tapi hanya ingin berbagi kegunaan saja.
  • Komputer, dalam hal ini bisa jadi PC (dengan sistem operasi Windows) atau Mac (komputer jinjing/laptop atau komputer meja/desktop bisa dipakai). Komputer berguna untuk memasukkan data ke dalam iPad.
  • iTunes, suatu aplikasi gratis yang wajib dimiliki untuk mengorganisasi penggunaan iPad anda. Jika anda tidak memilikinya, dapat anda unduh di sini.
  • Aplikasi. Kini saya bisa menyarankan penggunaan sejumlah aplikasi. Ada tiga aplikasi yang bisa saya rekomendasikan: GoodReader for iPad ($4.99), UPAD ($4.99), atau iAnnotate PDF ($9.99).
  • Scanner.

Pada pokoknya, anda akan menggunakan iPad anda sebagai alat pembaca partitur (sheet reader). Untuk melakukannya, ikuti langkah-langkah berikut:

  • Pindai (scan) partitur cetak yang anda miliki. Untuk memanfaatkan sebaik-baiknya layar iPad, anda harus memindai partitur dengan pengaturan terbaik. Kebanyakan partitur berwarna hitam-putih, maka pindai dengan menggunakan pengaturan hitam-putih (black and white) dengan resolusi 400 dpi. Simpan dalam format .pdf (umumnya dibuka menggunakan program Adobe Reader di komputer).
  • Anda bisa juga mengunduh (download) partitur berbentuk digital, khususnya yang telah habis masa hak ciptanyanya (public domain). Salah satu sumber terbaiknya adalah dari Choir Public Domain Library.
  • Sebagai contoh, saya akan mencontohkan memasukkan berkas partitur menggunakan aplikasi GoodReader for iPad. Ada dua cara memasukkannya. Cara pertama: gunakan koneksi wi-fi. Mula-mula, buka aplikasi GoodReader for iPad dengan men-tap ikon aplikasinya. Ketika terbuka, lihat bagian kanan bawah dan anda akan temukan ikon wi-fi (seperti gambar potongan pizza dengan empat baris garis). Sentuh ikon tersebut, dan ikuti instruksi yang tersedia untuk sistem operasi masing-masing.
GoodReader1
Tampilan GoodReader for iPad
  • Cara kedua, gunakan iTunes. Hubungkan komputer dengan iPad melalui kabel USB. Pada tampilan iTunes, pilih iPad anda (dari sidebar di sebelah kiri). Ketika tampilan iPad anda muncul, pilih Apps (dari tab) di atas. Lakukan scroll ke bawah tampilan untuk melihat tampilan “File Sharing”. Silakan masukan berkas partitur anda lewat tampilan tersebut (cara ini dapat digunakan untuk aplikasi UPAD dan iAnnotate PDF, silakan pilih aplikasi yang ingin digunakan).
iTunesapps
Tampilan Memasukkan Berkas Lewat iTunes

Setelah memasukkan berkas yang diperlukan, anda dapat menggunakan iPad anda untuk:

  • Penampilan. Bagi iPad generasi pertama, Apple iPad Case ($39) dapat menyamarkan iPad anda dengan clear-holder folio yang umumnya digunakan para penyanyi saat konser. Tentu saja anda dapat menggunakan folio case sejenis.
  • Anotasi (annotate). Anotasi dapat berupa memberikan tanda, catatan, dst.
  • Menyaksikan video penampilan paduan suara, atau mendengar lagu-lagu paduan suara (membantu saat mempelajari suatu lagu baru).

Saya juga melihat ada satu aplikasi lain yang potensial, bernama GigBook ($4.99). Secara garis besar, cara kerjanya sama dengan langkah-langkah di atas. Hanya saja, GigBook memang ditujukan untuk para musisi dalam menyimpan partitur, sementara aplikasi-aplikasi di atas ditujukan untuk penggunaan umum.

Satu lagi catatan, pada dasarnya anda dapat menggunakan aplikasi “PDF Reader” apapun. Tiga aplikasi di atas hanya bagian dari rekomendasi saya.

Selamat mencoba!