Categories
Uncategorized

10 Lagu Paduan Suara Favorit Versi Pribadi

Lima tahun di sebuah paduan suara. Lebih dari 100 judul lagu. Tentu bukan jumlah yang sedikit untuk diingat kembali. Tapi di tengah begitu banyaknya judul, bolehlah kini saya pilih 10 lagu terekomendasi, yang aransemennya bisa didapat dengan relatif mudah.

Berikut adalah 10 lagu paduan suara pilihan yang terekomendasi, versi saya pribadi tentunya.

  1. Alleluia – Ralph Manuel (Jangan salah, banyak sekali lagu berjudul Alleluia, taruhlah versi Randall Thompson. Yang satu ini tapi, sangat direkomendasikan karena lagunya ‘terlalu’ indah.)
  2. The Lord Bless You and Keep You – John Rutter (Simpel, tapi sangat indah.)
  3. The Majesty and Glory of Your Name – Tom Fettke
  4. The Greatest of These is Love – Anna Laura Page
  5. As Long As I Have Music – Don Besig/Nancy Price
  6. Look at the World – John Rutter
  7. The Very Best Time of Year – John Rutter (Ini dia lagu Natal paling manis. Menyanyikannya kapanpun akan membuat anda ingin cepat-cepat Natal.)
  8. Ride the Chariot – African Spiritual Song/arr Andre Thomas
  9. We Wish You – Ruth Morris Gray
  10. The Peace of God – John Rutter

Ada yang bertanya, mengapa begitu banyak lagu karangan John Rutter di sana?

Categories
Uncategorized

Pandangan Cepat: Bagaimana Politik Luar Negeri Dijalankan Kini

Seharusnya tulisan ini menjadi tulisan yang sangat analitikal, tapi saya berpikir tidak mau terlalu banyak mengelaborasi. Adalah penting peran dari pembaca untuk memberikan sumbangsih ide terhadap bagaimana politik luar negeri RI dijalankan di masa kini, terutama untuk memenuhi seluruh kepentingan nasional Indonesia, yang sesungguhnya turut tertuang (secara normatif) dalam Pembukaan UUD 1945, alinea IV.

Apakah tujuan didirikannya Republik Indonesia?

Patut kita ingat terlebih dahulu, bahwa Indonesia didirikan dari warisan penjajahan, sehingga faktor kemerdekaan “ialah hak segala bangsa” menjadi landasan historisnya. Tujuan didirikannya Republik Indonesia sebagai sebuah entitas negara dituliskan pada alinea IV di Pembukaan (Mukadimah) UUD 1945:

  • melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia
  • memajukan kesejahteraan umum
  • mencerdaskan kehidupan bangsa
  • ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial

Tujuan negara ini harus turut menjadi dasar dilaksanakannya politik luar negeri Republik Indonesia, yaitu demi memenuhi segala tujuan di atas, yang turut dituangkan dalam kepentingan nasional (national interest) dan seluruh kebijakan nasional Indonesia.

Wajah politik luar negeri RI di masa kini?

Seakan tertinggal dari masanya, RI masih berkejaran dengan visi mendapatkan legitimasi sebagai negara demokrasi yang stabil. Kini, Indonesia merupakan demokrasi terbesar ketiga di dunia (setelah India dan AS), dan didukung dengan angka statistikal berpenduduk Muslim terbesar di dunia, ini seharusnya menjadi double advantage yang memang sedang dicari: negara berpenduduk Muslim terbesar namun bisa menjalankan demokrasi dengan baik.

Meski begitu, secara politik internasional, harus dimaklumi bahwa Indonesia masih memiliki leverage yang terbilang kurang. Hal ini perlu kita pelajari dari positioning Indonesia di dunia internasional. Indonesia memang de facto pemimpin ASEAN sejak detik pertama didirikan, tergabung dalam Organisasi Konferensi Islam (OKI/OIC), salah satu dari 20 ekonomi terbesar di dunia lewat ukuran GDP nominal (G-20), anggota PBB, APEC dan berbagai organisasi kerjasama lainnya, yang pada dasarnya memegang kunci strategis untuk meningkatkan leverage. Tapi hanya sampai situlah hal yang dimiliki Indonesia. Sulit mempertimbangkan apa yang bisa Indonesia ‘jual’ kepada dunia internasional.

Memang, legitimasi terhadap demokrasi dan ‘pengakuan’ terhadap HAM (meskipun masih banyak pasang surutnya, misalnya Indonesia tidak meratifikasi Statuta Roma) mendatangkan banyak keuntungan, misalnya insentif dan bantuan ekonomi, dan mulai meningkatnya posisi tawar Indonesia di mata dunia. Pidato Obama di salah satu universitas besar di Indonesia, November 2010 silam, lebih banyak normatif daripada realitanya, karena sebetulnya banyak fakta tersembunyi yang tidak diangkat Presiden Obama mengenai Indonesia. Menjadikan Indonesia sebagai role model seperti yang sering digaungkan Obama bukannya salah, hanya kurang tepat saja.

Tentu hal ini juga tidak dapat dilepaskan dari perspektif ‘pragmatis-oportunis’ yang diemban Indonesia. Indonesia ingin zero-enemies, menjalin hubungan persahabatan yang konstruktif dengan semua negara, dan mengusahakan tidak ada musuh (dengan beberapa pengecualian faktual). Oportunis, artinya Indonesia ingin mengambil setiap kesempatan – sekecil apapun – untuk turut berbicara di dunia internasional, lewat partisipasi aktif di berbagai forum internasional. Maka betullah sebenarnya adagium “berlayar di lautan bergelombang”, yaitu Indonesia sedang melayari lautan luas masalah global di tengah dunia yang sedang mengalami modernisasi dan globalisasi.

Tapi saya juga teringat pada salah satu tulisan dari Kishore Mahbubani, seorang akademisi terkenal dalam bidang ilmu politik di Singapura, yang berbicara tentang G-20 (di mana ada Indonesia), yang berlayar di satu perahu tapi memiliki visi berlayar yang berbeda. Apakah Indonesia dapat menjadi salah satu pemain utama yang bisa ikut ‘menyetir’ perahu itu dengan mengajak negara-negara lain untuk bersama-sama menyetir bersama Indonesia, tentu masih jauh di angan.

Jangan lupa bahwa Indonesia sebetulnya harus berhati-hati dalam menanggapi isu-isu luar negeri, terutama bagi media dan civil society yang menerimanya. Bagaimana media-media Indonesia belakangan, misalnya, menanggapi isu intervensi negara-negara barat ke Libya sebagai perang agama atau eksploitasi minyak, tentu perlu diawasi. Mengapa? Karena dunia internasional tidak semudah mengarahkannya kepada suatu faksi tertentu, atau perspektif kelompok tertentu yang dominan atau ‘besar suaranya’. Berhati-hati artinya menyeimbangkan berbagai pendapat dan perspektif terhadap suatu isu, karena memahaminya dari salah satu sisi saja bisa menjadi pedang bermata dua bagi Pemerintah RI sekalipun.

Categories
National and International Law

Sumber-sumber Hukum Republik Indonesia

Menurut Undang-undang No. 10/2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan, berikut adalah tata urutan sumber-sumber hukum di Republik Indonesia:

  1. Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 beserta Amandemennya
  2. Undang-undang / Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang
  3. Peraturan Pemerintah
  4. Penetapan Presiden
  5. Peraturan Daerah, yang dapat dibagi menjadi: Peraturan Daerah Provinsi (Tingkat I), Peraturan Daerah Kabupaten/Kota (Tingkat II), Peraturan Daerah Desa

In English, these are the legal sources of Indonesian law, following the Law No. 10/2004 concerning the Formation of Laws:

  1. The 1945 Constitution of the Republic of Indonesia and its Amendments
  2. Laws / Government Regulations in lieu of Law
  3. Government Regulations
  4. Presidential Regulations
  5. Local Regulations, in form of: Provincial Local Regulations, Municipal Local Regulations, Village Local Regulations
Categories
Uncategorized

Seminggu di WorldMUN

Saya telah mengakhiri suatu konferensi internasional 5 hari bernama “World Model United Nations Conference” (WMUN). WMUN yang diadakan 14-18 Maret 2011 ini diadakan di Singapura, melibatkan 2,255 mahasiswa dari 270+ institusi di 65+ negara. Indonesia memegang rekor tersendiri dengan mengirimkan jumlah delegasi terbesar, yaitu 200+ mahasiswa.

Sebagai oleh-oleh, saya akan menyertakan sejumlah tulisan mengenai Model United Nations secara berseri, mulai dari hal-hal yang sifatnya umum hingga sangat spesifik. Semoga berguna bagi anda yang mencari referensi untuk MUN.

Categories
Uncategorized

Berpaduansuara dengan iPad!

Saya mempertemukan musik dan teknologi di satu tempat ini. Saya sudah hampir lima tahun menjadi anggota paduan suara di salah satu sekolah menengah atas di Jakarta (saya masih menjadi anggota biarpun sudah lulus dari SMA tersebut). Di sisi lain, saya adalah konsumer teknologi dengan sejumlah gadget yang berguna buat kehidupan sehari-hari.

Ijinkan saya berbagi dengan anda. Saya menggunakan iPad saya sebagai alat yang berguna ketika berpaduansuara. Dengan layarnya yang besar dan terang (backlit), dengan menggunakan aplikasi yang tepat, iPad bisa sangat berguna untuk banyak kegiatan.

Ingin mengikuti langkah saya? Anda harus menyiapkan beberapa hal berikut:

  • Tentu saja, iPad. Ini bukan ajang promosi, tentunya, tapi hanya ingin berbagi kegunaan saja.
  • Komputer, dalam hal ini bisa jadi PC (dengan sistem operasi Windows) atau Mac (komputer jinjing/laptop atau komputer meja/desktop bisa dipakai). Komputer berguna untuk memasukkan data ke dalam iPad.
  • iTunes, suatu aplikasi gratis yang wajib dimiliki untuk mengorganisasi penggunaan iPad anda. Jika anda tidak memilikinya, dapat anda unduh di sini.
  • Aplikasi. Kini saya bisa menyarankan penggunaan sejumlah aplikasi. Ada tiga aplikasi yang bisa saya rekomendasikan: GoodReader for iPad ($4.99), UPAD ($4.99), atau iAnnotate PDF ($9.99).
  • Scanner.

Pada pokoknya, anda akan menggunakan iPad anda sebagai alat pembaca partitur (sheet reader). Untuk melakukannya, ikuti langkah-langkah berikut:

  • Pindai (scan) partitur cetak yang anda miliki. Untuk memanfaatkan sebaik-baiknya layar iPad, anda harus memindai partitur dengan pengaturan terbaik. Kebanyakan partitur berwarna hitam-putih, maka pindai dengan menggunakan pengaturan hitam-putih (black and white) dengan resolusi 400 dpi. Simpan dalam format .pdf (umumnya dibuka menggunakan program Adobe Reader di komputer).
  • Anda bisa juga mengunduh (download) partitur berbentuk digital, khususnya yang telah habis masa hak ciptanyanya (public domain). Salah satu sumber terbaiknya adalah dari Choir Public Domain Library.
  • Sebagai contoh, saya akan mencontohkan memasukkan berkas partitur menggunakan aplikasi GoodReader for iPad. Ada dua cara memasukkannya. Cara pertama: gunakan koneksi wi-fi. Mula-mula, buka aplikasi GoodReader for iPad dengan men-tap ikon aplikasinya. Ketika terbuka, lihat bagian kanan bawah dan anda akan temukan ikon wi-fi (seperti gambar potongan pizza dengan empat baris garis). Sentuh ikon tersebut, dan ikuti instruksi yang tersedia untuk sistem operasi masing-masing.
GoodReader1
Tampilan GoodReader for iPad
  • Cara kedua, gunakan iTunes. Hubungkan komputer dengan iPad melalui kabel USB. Pada tampilan iTunes, pilih iPad anda (dari sidebar di sebelah kiri). Ketika tampilan iPad anda muncul, pilih Apps (dari tab) di atas. Lakukan scroll ke bawah tampilan untuk melihat tampilan “File Sharing”. Silakan masukan berkas partitur anda lewat tampilan tersebut (cara ini dapat digunakan untuk aplikasi UPAD dan iAnnotate PDF, silakan pilih aplikasi yang ingin digunakan).
iTunesapps
Tampilan Memasukkan Berkas Lewat iTunes

Setelah memasukkan berkas yang diperlukan, anda dapat menggunakan iPad anda untuk:

  • Penampilan. Bagi iPad generasi pertama, Apple iPad Case ($39) dapat menyamarkan iPad anda dengan clear-holder folio yang umumnya digunakan para penyanyi saat konser. Tentu saja anda dapat menggunakan folio case sejenis.
  • Anotasi (annotate). Anotasi dapat berupa memberikan tanda, catatan, dst.
  • Menyaksikan video penampilan paduan suara, atau mendengar lagu-lagu paduan suara (membantu saat mempelajari suatu lagu baru).

Saya juga melihat ada satu aplikasi lain yang potensial, bernama GigBook ($4.99). Secara garis besar, cara kerjanya sama dengan langkah-langkah di atas. Hanya saja, GigBook memang ditujukan untuk para musisi dalam menyimpan partitur, sementara aplikasi-aplikasi di atas ditujukan untuk penggunaan umum.

Satu lagi catatan, pada dasarnya anda dapat menggunakan aplikasi “PDF Reader” apapun. Tiga aplikasi di atas hanya bagian dari rekomendasi saya.

Selamat mencoba!

Categories
National and International Law

Pembukaan UUD 1945 (dan Terjemahan Bahasa Inggris)

Pembukaan UUD 1945 (dikenal juga sebagai ‘Mukadimah’ atau Preamble) merupakan tulisan pembuka dari UUD 1945. Teks pembukaan ini tidak mengalami perubahan dalam proses Amandemen UUD 1945. Tidak dilakukannya perubahan terhadap Pembukaan ini dapat dipahami karena beberapa alasan:

  1. Pembukaan UUD 1945 mencantumkan landasan (historis) berdirinya Republik Indonesia, yaitu kemerdekaan, yang menjadi hak segala bangsa.
  2. Pembukaan UUD 1945 mengsahkan pembentukan Pemerintahan Republik Indonesia yang berdaulat.
  3. Pembukaan UUD 1945 mencantumkan tujuan negara Republik Indonesia.
  4. Pembukaan UUD 1945 mencantumkan bahwa Indonesia adalah negara yang berkedaulatan rakyat (menegaskan politik demokrasi di Indonesia).
  5. Pembukaan UUD 1945 mencantumkan landasan idiil kehidupan berbangsa dan bernegara warga negara Indonesia, yaitu Pancasila, yang dijabarkan di Alinea 4.

Berikut ini merupakan teks Pembukaan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dalam Bahasa Indonesia, beserta terjemahannya dalam Bahasa Inggris.

Catatan: terjemahannya dalam Bahasa Inggris dikutip dari sejumlah sumber, dan ditulis sebagai official translation. Seandainya di masa yang akan datang diadakan pembaruan terhadap translasi tersebut, hasil pembaruannya akan turut dicantumkan di sini beserta dengan pernyataan pembaruannya.

***

Naskah Bahasa Indonesia:

UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945

PEMBUKAAN

Bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan dan peri-keadilan.

Dan perjuangan pergerakan Kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentausa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan Negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.

Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu Pemerintahan Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-undang Dasar Negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasarkan kepada: Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, dan Kerakyatam yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

***

Naskah Bahasa Inggris/English Translation

1945 CONSTITUTION OF THE REPUBLIC OF INDONESIA

PREAMBLE

Whereas independence is a genuine right of all nations and any form of alien occupation should thus be erased from the earth as not in conformity with humanity and justice,

Whereas the struggle of the Indonesian independence movement has reached the blissful point of leading the Indonesian people safely and well before the monumental gate of an independent Indonesian State which shall be free, united, sovereign, just and prosperous,

By the grace of God Almighty and urged by the lofty aspiration to exist as a free nation,

Now therefore, the people of Indonesia declare herewith their independence,

Pursuant to which, in order to form a Government of the State of Indonesia that shall protect the whole people of Indonesia and the entire homeland of Indonesia, and in order to advance general prosperity, to develop the nation’s intellectual life, and to contribute to the implementation of a world order based on freedom, lasting peace and social justice, Indonesia’s National Independence shall be laid down in a Constitution of the State of Indonesia, which is to be established as the State of the Republic of Indonesia with sovereignty of the people and based on the belief in the One and Only God, on just and civilized humanity, on the unity of Indonesia and on democratic rule that is guided by the strength of wisdom resulting from deliberation / representation, so as to realize social justice for all the people of Indonesia.

Categories
Uncategorized

Partai Politik di Indonesia (dan Namanya dalam Bahasa Inggris)

Beberapa kawan mungkin mencari nama-nama partai politik di Indonesia (dalam hal ini: peserta Pemilihan Umum 2009 lalu). Tidak hanya itu, anda juga mungkin mencari apakah nama Partai Politik yang bersangkuta dalam Bahasa Inggris. Jadi, saya mengkompilasi beberapa nama-nama Partai Politik tersebut beserta namanya dalam Bahasa Inggris, yang cukup umum digunakan di media massa dsb.

  1. Partai Demokrat (PD), Democratic Party.
  2. Partai Golongan Karya (Golkar, PG), Functional Groups. Party (catatan: kata “Golkar” juga kadang dipakai sebagai proper name, sehingga jangan heran melihat translasi “Golkar Party” dalam tulisan).
  3. Partai Demokrasi Indonesia-Perjuangan (PDI-P), Indonesian Democratic Party-Struggle, ada media yang menggunakan nama Indonesian Democratic Party of Struggle.
  4. Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Prosperous Justice Party.
  5. Partai Amanat Nasional (PAN), National Mandate Party.
  6. Partai Persatuan Pembangunan (PPP), United Development Party.
  7. Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), National Awakening Party.
  8. Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), Great Indonesia Movement Party.
  9. Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura), People’s Conscience Party.
  10. Partai Bulan Bintang (PBB), Crescent Star Party.
  11. Partai Damai Sejahtera (PDS), Prosperous Peace Party.
Categories
Uncategorized

Social Research Method (Mid-Term Examination)

Herewith a number of questions to be answered as a material for my Mid-Term Examination, on the subject of Social Research Method.

***

Describe how scientific inquiry differs from non-scientific inquiry.

One of the most defining features of scientific inquiry is that scientific inquiry uses certain criteria that must be met before the reality is accepted. The assertion must be both logical and empirically supported, not contradicting actual observation. It uses methodologies to find out things.

Non-scientific inquiry, on the other hand, uses no methodologies, nor have any criteria in defining the reality. It commonly falls into these forms: [1] ordinary human inquiry (basic phenomenon that any human beings may discover from daily life), or in the form of agreement reality (those things we “know” as part of the culture that we share); [2] tradition (inheritance of a culture); [3] authority (dependence on the status of the discoverer)

Discuss how scientific inquiry tries to avoid the common pitfall that produces error in non-scientific inquiry.

There are four errors in inquiry, each with its own solution(s):

  1. Inaccurate observations, i.e. often observations are made casually, without proper conscious planning to observe and record. Solution: usage of measurement devices to ad the degree of precision which beyond the capacity of unassisted human senses.
  2. Overgeneralization, i.e. assuming that a few similar events provide evidence of a general pattern, only on the basis of very limited observations. Solution: using sufficiently large and representative sample of observations, repeating the study.
  3. Selective observation, i.e. prejudice, after creating overgeneralization, observers tend to focus on those patterns replicating, ignoring those that do not. Solution: deliberately finding for the deviation (something outside the pattern), planning in advance the number and kind of observations to be made as basis for reaching a conclusion.
  4. Illogical reasoning, i.e. observations that happen to be in contradiction of common understanding of the observer. Solution: usage of system of logic, consciously and explicitly, keeping the scientists’ honesty.

Contrast in inductive model of theory construction with the deductive model. Give example of researches that use each of these models.

Inductive reasoning (induction method) is the logical model in which general principles are developed from specific observations. E.g. the believe that more Papuans watch the TV channel A, could lead to the conclusion that the population outside Java are more likely to watch TV channel A.

Deductive reasoning (deduction method) is the logical model in which specific expectations of hypotheses are developed on the basis of general principles. E.g. The believe that most students of the West Java province enrolled in public schools, may lead to the expected hypothesis that most students of the city of Bandung enrolled in public schools.

Discuss the three purposes for doing research. Describe a study that illustrative each purpose.

There are three purposes of research. They are:

  1. Exploration, i.e. to start familiarize a researcher to a certain topic, which commonly a new interest or when the subject is relatively new. Exploration is also useful to more persistent phenomena (what is happening to a certain phenomenon, why it is happening, etc). It serves the purpose of (1) to satisfy researcher’s curiosity, (2) to test the feasibility of undertaking a more extensive study, (2) to develop the methods to be employed in any subsequent study. E.g. a student in a school wants to examine whether the education fair held annually in his school gives direct impact when students are enrolling for university.
  2. Description, i.e. to describe certain situations and events. Scientific descriptions are typically more accurate and precise. E.g. the five-yearly census in Indonesia gives the description of the composition of the population, occupation, etc.
  3. Explanation, i.e. explaining certain things. Commonly, explanation answers the explanatory questions of “why”, i.e. the reasoning behind a certain phenomenon. E.g. in the Tangerang Selatan election for mayor, surveys try to answer why the Candidate no. 4 wins over Candidate no. 3 (which coincidentally a very popular public figure).