Kenali Apa yang Anda Cemaskan Saat Wicara Publik

Wicara publik (public speaking) masih menjadi salah satu hal yang paling menakutkan dari sebuah persiapan Model United Nations (MUN). Para calon delegat berlatih berpuluh-puluh jam untuk bisa berbicara dengan baik di hadapan publik, hanya untuk dihadapkan dengan ketegangan dalam bentuk lain pada saat konferensi berlangsung.

Karena itu, salah satu bagian penting dalam persiapan seorang delegat untuk sebuah konferensi MUN adalah membangun kepercayaan diri. Meski begitu, sebelum membahas bagaimana cara membangun kepercayaan diri, kenali terlebih dulu sumber kecemasan Anda.

Continue reading Kenali Apa yang Anda Cemaskan Saat Wicara Publik

Apa Isi Kindlemu?

Saya teringat di tahun 2000an, banyak orang bertanya, apa isi iPodmu? Isi iPod, pada waktu itu, dianggap bisa mencerminkan kepribadian seseorang, yang ‘ditafsirkan’ dari lagu apa saja yang terdapat dalam gawai tersebut.

Kini, mungkin pertanyaan apa isi Kindlemu? juga bisa jadi cukup relevan. Dengan semakin meningkatnya tren membaca buku elektronik, gawai seperti Kindle semakin laris di pasaran, khususnya karena kenyamanan yang dijanjikannya—semua buku, ribuan halaman, dalam satu gawai yang ringan dan mudah dipegang, bahkan bisa dibaca di mana saja dan kapan saja (tentu selama bukunya sudah diunduh dan baterainya masih ada).

Tangkapan layar dari Kindle saya, menampilkan enam dari sejumlah buku yang saya miliki dalam Kindle saya

Saya memiliki beberapa buku dalam Kindle saya, namun enam buku yang terlihat di dalam tangkapan layar di atas adalah buku-buku yang baru-baru ini saya baca atau selesaikan. Buku-buku tersebut di antaranya otobiografi Barack Obama, A Promised Land, buku sejarah umat manusia yang ditulis oleh sejarawan Yuval Noah Harari, Sapiens, dan buku Simon Kuper dan Stefan Szymanski, Soccernomics—yang menyediakan ‘prediksi’ sangat menarik mengenai apa yang terjadi pada Inggris di Euro 2020 tahun ini. Saya masih menyelesaikan buku The World yang ditulis oleh Richard Haass, sebuah buku pengantar yang ditulis dalam gaya populer untuk memberi penjelasan umum mengenai dunia hubungan internasional (dan sangat bermanfaat untuk membangun literasi terhadap hubungan internasional), The Invention of China karya Bill Hayton, sebuah buku yang menjelaskan sejarah China sebagai sebuah gagasan, dan Strategy karya Lawrence Freedman yang menceritakan evolusi konsep strategi dari masa lampau hingga kini.

Saat menulis artikel ini, saya menyadari sesuatu: enam buku yang ada dalam tangkapan layar di atas memiliki ketebalan yang bervariasi, mulai dari 320 halaman (The Invention of China) sampai dengan 767 halaman (Strategy). Jika dijumlahkan, keenam buku ini memiliki lebih dari 3.200 halaman—semuanya tersedia dalam sebuah gawai yang begitu praktis!

Ciri Khas Sebuah Negara

Apa yang menjadikan sebuah negara, negara? Selain dari syarat-syarat yang ditetapkan oleh Konvensi Montevideo (1930), terdapat berbagai ciri khas yang hanya dapat didapati pada aktor negara saja.

Mengenali ciri-ciri khas sebuah negara sangat penting untuk menjadi dasar literasi hubungan internasional, karena hubungan internasional masih melibatkan interaksi antara beberapa negara. Maka kita harus memahami ‘sifat dasar’ dari para aktor yang berinteraksi tersebut, dan tidak ada aktor yang perannya lebih signifikan daripada aktor negara.

Sementara itu, mengenali ciri-ciri khas ini sangat penting untuk delegat konferensi Model United Nations (MUN), karena pada umumnya Anda akan berperan sebagai diplomat yang mewakili suatu aktor negara di organisasi internasional. Dengan mengenali ciri khas ini, Anda akan bisa memahami apa yang bisa dan tidak bisa dilakukan suatu negara, serta apa saja yang menjadi batas dari sebuah negara di kancah internasional.

Continue reading Ciri Khas Sebuah Negara

Kabar Baik

Di tengah kondisi sekitar kita yang terlihat buruk, satu saja kabar baik bisa membawa kelegaan bagi jutaan orang. Persis, hal itu yang terjadi saat kemarin ganda putri bulu tangkis Indonesia, Greysia Polii dan Apriyani Rahayu memenangkan medali emas—secara tidak diduga pula—di Olimpiade Tokyo 2020.

Bukan unggulan di kejuaraan tersebut, dan bahkan bukan nomor yang menjadi andalan Indonesia di bulu tangkis, tiba-tiba saja pasangan ini menggilas lawan-lawannya, termasuk di antaranya unggulan pertama asal Jepang, dan di final, unggulan kedua asal Tiongkok.

Greysia Polii dan Apriyani Rahayu setelah memenangkan medali emas di nomor ganda putri bulu tangkis Olimpiade Tokyo 2020 (Yves Lacroix/Badmintonphoto)

Menyaksikan pertandingan final yang dilakukan persis di jam makan siang kemarin, betul-betul menyenangkan. Biarpun ada keyakinan bahwa mereka akan menang, tetap saja ada sedikit kekhawatiran, mengingat lawan yang dihadapi adalah pasangan yang sangat kuat. Rupanya, pasangan Indonesia ini bisa menang dalam dua set langsung, membuatnya terlihat lebih mudah dari apa yang terjadi sebetulnya di lapangan.

Kedua pemain bulu tangkis ini betul-betul mencerminkan pepatah Jepang yang cukup terkenal, 七転び八起き(nana korobi ya oki), yang artinya, ‘jatuh tujuh kali, bangkit delapan kali.’ Kalau membaca kisah hidup keduanya, Anda akan sangat memahami mengapa. Apriyani, yang muncul dari kesederhanaan, berlatih dengan raket kayu, dengan tekad untuk tumbuh bersabar bersama Greysia yang sudah jauh lebih ‘berumur.’ Greysia, yang pernah mendapat diskualifikasi dari Olimpiade 2012, mengalami cedera, hingga kehilangan orang tersayang, nyaris pensiun setelah beberapa kali ganti pasangan, hingga akhirnya dipasangkan dengan Apriyani.

Def Sukumar menulis untuk BWF:

“Berlarilah dengan saya,” Polii megatakan kepada mitranya [Apriyani Rahayu] saat mereka dipasangkan empat tahun lalu. Polii, yang lebih tua dan lebih bijaksana karena pengalamannya, mendekati akhir karirnya, diminta untuk berpasangan dengan seorang pemukul keras yang baru muncul, Rahayu, untuk mengembangkan pemain-pemain muda dalam tantangan di kemudian hari.

Jadi apa yang kamu mau? Polii bertanya kepada Rahayu. Kamu mau menjadi juara? Apapun yang terjadi, kalau saya mendorong batasmu, kita harus siap melakukan segalanya bersama-sama. Apriyani menjawab iya, saya akan melakukan segalanya, kamu bisa lakukan apa saja kepadaku.

“Apriyani memaksa saya untuk berada di sini. Karena saya mengatakan padanya, saya sudah tidak muda lagi. Saya bukan lagi 20 tahun, jadi kamu harus benar-benar siap berlari denganku. Bukan berjalan. Berlarilah dengan saya,” kenang Polii.

Memang kalau memang sudah ‘berjodoh’ dengan medali emas, tidak ada tantangan yang terlalu sulit untuk dilampaui. Berkumandangnya Indonesia Raya dalam upacara medali kemarin menjadi bukti.

Selamat dan terima kasih untuk kabar baiknya: Greysia Polii, Apriyani Rahayu, dan pelatih Eng Hian, bersama dengan para pembela tanah air lainnya di Olimpiade Tokyo 2020. Terima kasih sudah memberi kabar baik dan alasan untuk berbahagia dalam masa-masa suram ini.

Catatan akhir: Seperti biasa, harian KOMPAS punya tajuk yang terbaik ketika merayakan momen-momen bersejarah. Sederhana, tapi cukup untuk menggambarkan semua emosi yang harus kita resapi dari kemenangan ini.

🔗 Greysia/Apriyani Seolah Tak Akan Bermain Lagi [Kompas, 30 Juli 2021]

Agung Setyahadi menulis untuk Harian KOMPAS:

Terkait dengan pencapaian sebagai ganda putri pertama Indonesia yang mencapai semifinal Olimpiade, mereka menilai tidak ingin terlena dengan itu. Mereka membuang pikiran tersebut agar tetap fokus di setiap pertandingan, seperti perjuangan mereka di babak perempat final.

”Kami tidak ingin memikirkan itu, kami hanya ingin bermain seperti kami tidak akan bermain lagi, dan saya pikir itu yang paling memengaruhi permainan kami hari ini,” ungkap Greysia. ”Kuncinya adalah kami lebih memiliki passion dan lebih konsisten dalam menerapkan strategi daripada mereka,” katanya.

Mencetak sejarah—tim ganda putri bulu tangkis pertama asal Indonesia yang lolos ke semifinal Olimpiade Musim Panas sejak pertama kali digelar tahun 1992—adalah satu hal, tapi mentalitas luar biasa yang dibangun adalah sesuatu yang sangat spesial. “… bermain seperti kami tidak akan bermain lagi…” memang adalah kunci mental yang penting—kalau ini adalah kesempatan yang sangat, sangat terakhir, tentu ada keinginan lebih besar untuk finis dengan cara yang benar.

Mereka berhasil, dan saya berharap sekali mereka akan lanjut terus sampai ke podium teratas.