🔗 iOS and iPadOS 15 Review [MacStories.net]

Di jagat maya, tidak ada penulis mana pun yang menulis telaah mengenai sistem operasi perangkat-perangkat portabel Apple, iOS dan iPadOS, lebih baik, atau lebih sepenuh hati, dari Federico Viticci dan MacStories. Begitu komprehensifnya review yang ditulis oleh Federico, Anda akan mengira tulisannya diterbitkan langsung oleh Apple. Bahkan saya ingin berargumen bahwa penjelasan yang diberikannya lebih jelas dari penjelasan Apple yang terdapat dalam situsnya.

Apabila Anda seorang pengguna iPhone, atau iPad (atau bahkan iPod Touch), Anda akan sangat terbantu dengan review Federico.

Federico Viticci menulis tentang iOS untuk MacStories:

iOS 15 dapat dijelaskan sebagai gabungan pembaruan kepada aplikasi yang disertakan seperti Safari, Photos, Weather, Shortcuts, Notes, dan Reminders. Dan meski saya menyatakan tahun lalu bahwa Apple yang modern perlu menyediakan sedikit untuk semua orang dalam setiap revisi besar iOS kini, ketiadaan penambahan yang besar atau mengkilap membuat iOS 15 lebih mirip iOS 12 atau iOS 10. Pembaruan yang sangat baik, dan lebih terpoles dari versi sebelumnya, dengan banyak perbaikan yang baik digunakan tapi kurang begitu mengesankan.

Mengenai iPad OS 15, Federico menambahkan:

Apa yang Apple lakukan melalui iPadOS 15 telah berhasil dalam meletakkan landasan baru untuk tugas ganda (multitasking) namun hanya memuaskan sebagian keinginan dari para pengguna yang serius. Apple mampu menghadirkan simplisitas dan konsistensi pada tugas ganda melalui menu baru untuk mengelola tampilan jendela iPad yang lebih mudah digunakan daripada seret dan taruh (drag and drop). Lebih pentingnya, Apple mengerjakan kembali tugas ganda agar ia bisa digunakan sama baiknya dengan menggunakan sentuh dan papan kunci. Bila Anda, seseorang yang membaca tinjauan tahunan ini, pernah merasakan harus menjelaskan kepada anggota keluarga Anda bagaimana menghasilkan tampilan Split View pada iPad, katakan pada mereka untuk segera memperbarui ke iPadOS 15, dan mereka pasti akan lebih menggunakan iPad sampai seluruh kemampuannya.

Untuk membaca review Federico, yang melintasi 23 halaman, kunjungi laman melalui tautan ini.

Apa Isi Kindlemu?

Saya teringat di tahun 2000an, banyak orang bertanya, apa isi iPodmu? Isi iPod, pada waktu itu, dianggap bisa mencerminkan kepribadian seseorang, yang ‘ditafsirkan’ dari lagu apa saja yang terdapat dalam gawai tersebut.

Kini, mungkin pertanyaan apa isi Kindlemu? juga bisa jadi cukup relevan. Dengan semakin meningkatnya tren membaca buku elektronik, gawai seperti Kindle semakin laris di pasaran, khususnya karena kenyamanan yang dijanjikannya—semua buku, ribuan halaman, dalam satu gawai yang ringan dan mudah dipegang, bahkan bisa dibaca di mana saja dan kapan saja (tentu selama bukunya sudah diunduh dan baterainya masih ada).

Tangkapan layar dari Kindle saya, menampilkan enam dari sejumlah buku yang saya miliki dalam Kindle saya

Saya memiliki beberapa buku dalam Kindle saya, namun enam buku yang terlihat di dalam tangkapan layar di atas adalah buku-buku yang baru-baru ini saya baca atau selesaikan. Buku-buku tersebut di antaranya otobiografi Barack Obama, A Promised Land, buku sejarah umat manusia yang ditulis oleh sejarawan Yuval Noah Harari, Sapiens, dan buku Simon Kuper dan Stefan Szymanski, Soccernomics—yang menyediakan ‘prediksi’ sangat menarik mengenai apa yang terjadi pada Inggris di Euro 2020 tahun ini. Saya masih menyelesaikan buku The World yang ditulis oleh Richard Haass, sebuah buku pengantar yang ditulis dalam gaya populer untuk memberi penjelasan umum mengenai dunia hubungan internasional (dan sangat bermanfaat untuk membangun literasi terhadap hubungan internasional), The Invention of China karya Bill Hayton, sebuah buku yang menjelaskan sejarah China sebagai sebuah gagasan, dan Strategy karya Lawrence Freedman yang menceritakan evolusi konsep strategi dari masa lampau hingga kini.

Saat menulis artikel ini, saya menyadari sesuatu: enam buku yang ada dalam tangkapan layar di atas memiliki ketebalan yang bervariasi, mulai dari 320 halaman (The Invention of China) sampai dengan 767 halaman (Strategy). Jika dijumlahkan, keenam buku ini memiliki lebih dari 3.200 halaman—semuanya tersedia dalam sebuah gawai yang begitu praktis!

Laporan Lingkungan Apple

Salah satu alasan untuk kagum pada Apple, produsen produk elektronik konsumen besar asal Amerika, adalah kepeduliannya pada lingkungan. Memang Apple sudah mencanangkan akan netral karbon dalam semua operasi dan produknya, namun saya baru saja menemukan sesuatu yang cukup menarik.

Apple rupanya merilis ‘Laporan Lingkungan untuk Produk’ (PER) untuk semua produk yang dirilisnya beberapa tahun belakangan. Laporannya cukup lengkap, termasuk rincian soal material yang digunakan, efisiensi energi, bahkan jejak karbon (carbon footprint) yang muncul—yang sebagian besar keluar untuk produksi.

Memang yang unik, Apple tidak secara besar-besaran menampilkan detail ini saat menjual produknya. Laman inipun agak tersembunyi—dibanding laman promosi produknya. Tapi menarik bagi Anda yang menggunakan produk Apple dan ingin mengetahui dampak produk yang Anda gunakan terhadap lingkungan—dan bagaimana Anda bisa ‘mengurangi’ dampak terhadap lingkungan melalui produk tersebut.

Untuk contoh, saya tampilkan (PER) untuk iPad Air 4 yang rilis September 2020 lalu. Untuk melihat PER produk-produk lainnya, silakan kunjungi www.apple.com/environment/ (berbahasa Inggris).

I’m a Happy Customer

For the past year, I have been holding on a damaged iPad Smart Keyboard. The fact that there is no Apple Store in Indonesia made it hard to just try to find a solution for this problem. Only after I googled this issue I found out that Apple has a ‘product improvement’ program—which is essentially a recall, since the Smart Keyboard was found to be faulty. I tried once in Thailand, to no avail. So this time, I was very determined to have the faulty keyboard exchanged.

Continue reading I’m a Happy Customer

Bagaimana Anda membungkus sebuah produk

Ada sedikitnya tiga cara bagi sebuah perusahaan untuk membungkus (package) produk yang dijualnya. Pertama, tidak perlu bungkus apa-apa, cukup barangnya saja. Kedua, ada bungkus biasa, standar, hanya untuk menjawab tujuan pragmatis demi penampilan luar dan perlindungan dasar. Ketiga, Anda membungkus produk untuk membangkitkan gelora konsumen dalam menggunakan produk Anda.

Mari belajar dari Apple. Continue reading Bagaimana Anda membungkus sebuah produk