Sumber-sumber Hukum Republik Indonesia

Menurut Undang-undang No. 10/2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan, berikut adalah tata urutan sumber-sumber hukum di Republik Indonesia:

  1. Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 beserta Amandemennya
  2. Undang-undang / Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang
  3. Peraturan Pemerintah
  4. Penetapan Presiden
  5. Peraturan Daerah, yang dapat dibagi menjadi: Peraturan Daerah Provinsi (Tingkat I), Peraturan Daerah Kabupaten/Kota (Tingkat II), Peraturan Daerah Desa

In English, these are the legal sources of Indonesian law, following the Law No. 10/2004 concerning the Formation of Laws:

  1. The 1945 Constitution of the Republic of Indonesia and its Amendments
  2. Laws / Government Regulations in lieu of Law
  3. Government Regulations
  4. Presidential Regulations
  5. Local Regulations, in form of: Provincial Local Regulations, Municipal Local Regulations, Village Local Regulations

Seminggu di WorldMUN

Saya telah mengakhiri suatu konferensi internasional 5 hari bernama “World Model United Nations Conference” (WMUN). WMUN yang diadakan 14-18 Maret 2011 ini diadakan di Singapura, melibatkan 2,255 mahasiswa dari 270+ institusi di 65+ negara. Indonesia memegang rekor tersendiri dengan mengirimkan jumlah delegasi terbesar, yaitu 200+ mahasiswa.

Sebagai oleh-oleh, saya akan menyertakan sejumlah tulisan mengenai Model United Nations secara berseri, mulai dari hal-hal yang sifatnya umum hingga sangat spesifik. Semoga berguna bagi anda yang mencari referensi untuk MUN.

Berpaduansuara dengan iPad!

Saya mempertemukan musik dan teknologi di satu tempat ini. Saya sudah hampir lima tahun menjadi anggota paduan suara di salah satu sekolah menengah atas di Jakarta (saya masih menjadi anggota biarpun sudah lulus dari SMA tersebut). Di sisi lain, saya adalah konsumer teknologi dengan sejumlah gadget yang berguna buat kehidupan sehari-hari.

Ijinkan saya berbagi dengan anda. Saya menggunakan iPad saya sebagai alat yang berguna ketika berpaduansuara. Dengan layarnya yang besar dan terang (backlit), dengan menggunakan aplikasi yang tepat, iPad bisa sangat berguna untuk banyak kegiatan.

Ingin mengikuti langkah saya? Anda harus menyiapkan beberapa hal berikut:

  • Tentu saja, iPad. Ini bukan ajang promosi, tentunya, tapi hanya ingin berbagi kegunaan saja.
  • Komputer, dalam hal ini bisa jadi PC (dengan sistem operasi Windows) atau Mac (komputer jinjing/laptop atau komputer meja/desktop bisa dipakai). Komputer berguna untuk memasukkan data ke dalam iPad.
  • iTunes, suatu aplikasi gratis yang wajib dimiliki untuk mengorganisasi penggunaan iPad anda. Jika anda tidak memilikinya, dapat anda unduh di sini.
  • Aplikasi. Kini saya bisa menyarankan penggunaan sejumlah aplikasi. Ada tiga aplikasi yang bisa saya rekomendasikan: GoodReader for iPad ($4.99), UPAD ($4.99), atau iAnnotate PDF ($9.99).
  • Scanner.

Pada pokoknya, anda akan menggunakan iPad anda sebagai alat pembaca partitur (sheet reader). Untuk melakukannya, ikuti langkah-langkah berikut:

  • Pindai (scan) partitur cetak yang anda miliki. Untuk memanfaatkan sebaik-baiknya layar iPad, anda harus memindai partitur dengan pengaturan terbaik. Kebanyakan partitur berwarna hitam-putih, maka pindai dengan menggunakan pengaturan hitam-putih (black and white) dengan resolusi 400 dpi. Simpan dalam format .pdf (umumnya dibuka menggunakan program Adobe Reader di komputer).
  • Anda bisa juga mengunduh (download) partitur berbentuk digital, khususnya yang telah habis masa hak ciptanyanya (public domain). Salah satu sumber terbaiknya adalah dari Choir Public Domain Library.
  • Sebagai contoh, saya akan mencontohkan memasukkan berkas partitur menggunakan aplikasi GoodReader for iPad. Ada dua cara memasukkannya. Cara pertama: gunakan koneksi wi-fi. Mula-mula, buka aplikasi GoodReader for iPad dengan men-tap ikon aplikasinya. Ketika terbuka, lihat bagian kanan bawah dan anda akan temukan ikon wi-fi (seperti gambar potongan pizza dengan empat baris garis). Sentuh ikon tersebut, dan ikuti instruksi yang tersedia untuk sistem operasi masing-masing.
GoodReader1
Tampilan GoodReader for iPad
  • Cara kedua, gunakan iTunes. Hubungkan komputer dengan iPad melalui kabel USB. Pada tampilan iTunes, pilih iPad anda (dari sidebar di sebelah kiri). Ketika tampilan iPad anda muncul, pilih Apps (dari tab) di atas. Lakukan scroll ke bawah tampilan untuk melihat tampilan “File Sharing”. Silakan masukan berkas partitur anda lewat tampilan tersebut (cara ini dapat digunakan untuk aplikasi UPAD dan iAnnotate PDF, silakan pilih aplikasi yang ingin digunakan).
iTunesapps
Tampilan Memasukkan Berkas Lewat iTunes

Setelah memasukkan berkas yang diperlukan, anda dapat menggunakan iPad anda untuk:

  • Penampilan. Bagi iPad generasi pertama, Apple iPad Case ($39) dapat menyamarkan iPad anda dengan clear-holder folio yang umumnya digunakan para penyanyi saat konser. Tentu saja anda dapat menggunakan folio case sejenis.
  • Anotasi (annotate). Anotasi dapat berupa memberikan tanda, catatan, dst.
  • Menyaksikan video penampilan paduan suara, atau mendengar lagu-lagu paduan suara (membantu saat mempelajari suatu lagu baru).

Saya juga melihat ada satu aplikasi lain yang potensial, bernama GigBook ($4.99). Secara garis besar, cara kerjanya sama dengan langkah-langkah di atas. Hanya saja, GigBook memang ditujukan untuk para musisi dalam menyimpan partitur, sementara aplikasi-aplikasi di atas ditujukan untuk penggunaan umum.

Satu lagi catatan, pada dasarnya anda dapat menggunakan aplikasi “PDF Reader” apapun. Tiga aplikasi di atas hanya bagian dari rekomendasi saya.

Selamat mencoba!

[Diperbarui] UUD 1945 dalam Bahasa Inggris

Pembaruan: Laman ini kini dilengkapi dengan naskah Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (setelah amandemen) dalam Bahasa Inggris. Terjemahan ini diambil dari Constitute Project (constituteproject.org).

Laman ini semula menampilkan Pembukaan UUD 1945 dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Kini, saya melengkapi laman ini untuk menampilkan pula naskah UUD 1945 (setelah amandemen keempat) dalam bahasa Inggris.

Continue reading [Diperbarui] UUD 1945 dalam Bahasa Inggris

Seni dan Diplomasi

Tulisan ini merupakan kutipan dari sejumlah bagian dari tulisan ilmiah yang pernah saya buat berjudul “Art Equals Diplomacy”.

***

Bagi Indonesia, diplomasi sudah berada pada suatu tahap yang sama sekali baru: bagaimana menggunakan diplomasi dalam bidang-bidang lain selain politik dan ekonomi. Sudah banyak buktinya. Indonesia mungkin merupakan salah satu pengguna terbaik dari metode diplomasi yang sama sekali berbeda, yang alasannya akan dijelaskan berikut ini. Dalam satu kalimat: Indonesia memiliki kapasitas untuk menjalankan ‘diplomasi yang lain’ ini.

Indonesia memiliki prinsip dasar politik luar negeri bebas aktif untuk politik luar negerinya. Prinsip ini harusnya diterjemahkan sebagaimana pepatah lama “action speaks louder than words.” Terjemahan bebasnya: tindakan lebih dibutuhkan dibandingkan negosiasi di meja perundingan [1].

Secara umum Indonesia memiliki semua potensi untuk melakukan ‘soft diplomacy‘ melalui media musik, tarian, film, dan sastra. Ada beberapa alasan mengapa ini sangat mungkin terjadi:

  1. Multikulturalisme. Salah satu karakter khas Indonesia yang tidak dimiliki negara lain adalah keberagaman budayanya di seluruh Indonesia. Ini sangat bisa menjadi keuntungan, karena dengan diversitas demikian, selalu ada sesuatu yang baru untuk ditemukan, sesuatu lagu untuk dinyanyikan, suatu cerita baru untuk disebarkan, dan seterusnya. Sekitar 13.000 pulau dengan ratusan bahasa, ratusan etnis dan kelompok masyarakat, banyak agama, dan keragaman lainnya yang menjadikan multikulturalisme menyatu dengan Indonesia.
  2. Keyakinan dalam soft diplomacy. Sepanjang menjadi negara berdaulat,Indonesia hanya mengalami 4 konflik fisik serius: Revolusi Nasional Indonesia[1] (1945-1949), pembebasan Irian Barat[2](1961-1963), Konfrontasi dengan Malaysia[3] (1965-1967), dan pendudukan Timor Lester (1975-1976)[4]. Sejak saat tersebut upaya diplomasi melalui perundingan dan perjanjian sudah banyak dilakukan di mana-mana, untuk menyelesaikan permasalahan. Contohnya adalah penyelesaian konflik Sipadan-Ligitan[5].

Kalau kita percaya bahwa ‘musik adalah bahasa universal’, maka Indonesia punya kapasitas untuk memanfaatkan bahasa universal ini demi kepentingannya. Keragamannya tidak dapat ditemui di tempat lain: bahkan Indonesia menggunakan kedua skala musik diatonis dan pentatonis. Keberagaman ini begitu mewarnai musik Indonesia[1].

Mari kita lihat dua hal menarik mengenai musik dan diplomasi Indonesia. Yang pertama adalah pengakuan terhadap talenta-talenta Indonesia. Ada sejumlah talenta musik Indonesia yang diakui secara internasional. Diantaranya, pianis Ananda Sukarlan; penyanyi-penyanyi Indonesia Harvey Malaiholo, Krisdayanti, dan Agnes Monica; dan sejumlah band asal Indonesia yang terkenal dari AS sampai Malaysia. Sejumlah mereka tampak seperti ‘relawan diplomatik’ yang membawa pesan baik untuk hubungan antar negara, seringkali dengan musisi dari negara sahabat juga[2].

Hal kedua adalah musik paduan suara. Indonesia melahirkan banyak sekali paduan suara bertalenta, yang diakui bukan hanya dari mulut, tapi juga dari pencapaian. Di masa lampau, Indonesia mengirimkan banyak paduan suara ke negara lain, seringkali untuk festival internasional. Di antara mereka: Gracioso Sonora Choir dari Malang, Batavia Madrigal Singers dari Jakarta, Paduan Suara Mahasiswa Universitas Tarumanegara dari Jakarta, Paduan Suara Mahasiswa Universitas Katolik Parahyangan dari Bandung, Paduan Suara Mahasiswa Institut Teknologi Bandung, dan Elfa Singers.


[1] This paper, of course, is not a discussion on music. To give readers a brief insight, diatonic scale is the scale that we use the most, consists of seven different tones, while the pentatonic scale is a scale used mainly in traditional music (such as Sundanese music), with only five different tones.

[2] Contoh: Krisdayanti, penyanyi Indonesia, berkolaborasi dengan Siti Nurhaliza, asal Malaysia.


[1] Revolusi Nasional Indonesia terjadi antara Tentara Nasional Indonesia dibantu dengan pejuang dari masyarakat RI melawan tentara Sekutu, di antaranya Belanda, yang berupaya menguasai Indonesia setelah merdeka di tahun 1945.

[2] Pembebasan Irian Barat terjadi 1961-1963, sebagai upaya RI untuk mengembalikan Irian Barat dari tangan Belanda ke Indonesia.

[3] Konfrontasi adalah perintah Presiden Soekarno untuk menahan laju neo-kolonialisme di Asia Tenggara yang datang melalui pembentukan Federasi Malaysia. Konfrontasi akhirnya diakhiri Presiden Soeharto di tahun 1967.

[4] Okupasi Timor Leste di bawah pemerintahan Presiden Soeharto, tahun 1975-1976.

[5] Kasus Sipadan-Ligitan diselesaikan oleh Mahkamah Peradilan Internasional (ICJ), yang akhirnya menyerahkan kedua pulau pada Pemerintah Malaysia.

[6] Santosa, E. (2009, December 19). Gamelan Jadi Materi Ujian Akhir Universitas La Sapienzia. Retrieved September 4, 2010, from Detik News: http://www.detiknews.com/read/2009/12/19/035810/1262564/10/gamelan-jadi-materi-ujian-akhir-universitas-la-sapienzaf


[1] Nau, S. C. (2010, Februari 19). Sejarah Politik Luar Negeri Bebas Aktif. Retrieved September 3, 2010, from Kompasiana: http://umum.kompasiana.com/2010/02/19/sejarah-politik-luar-negeri-bebas-aktif/