Laporan Lingkungan Apple

Salah satu alasan untuk kagum pada Apple, produsen produk elektronik konsumen besar asal Amerika, adalah kepeduliannya pada lingkungan. Memang Apple sudah mencanangkan akan netral karbon dalam semua operasi dan produknya, namun saya baru saja menemukan sesuatu yang cukup menarik.

Apple rupanya merilis ‘Laporan Lingkungan untuk Produk’ (PER) untuk semua produk yang dirilisnya beberapa tahun belakangan. Laporannya cukup lengkap, termasuk rincian soal material yang digunakan, efisiensi energi, bahkan jejak karbon (carbon footprint) yang muncul—yang sebagian besar keluar untuk produksi.

Memang yang unik, Apple tidak secara besar-besaran menampilkan detail ini saat menjual produknya. Laman inipun agak tersembunyi—dibanding laman promosi produknya. Tapi menarik bagi Anda yang menggunakan produk Apple dan ingin mengetahui dampak produk yang Anda gunakan terhadap lingkungan—dan bagaimana Anda bisa ‘mengurangi’ dampak terhadap lingkungan melalui produk tersebut.

Untuk contoh, saya tampilkan (PER) untuk iPad Air 4 yang rilis September 2020 lalu. Untuk melihat PER produk-produk lainnya, silakan kunjungi www.apple.com/environment/ (berbahasa Inggris).

The update

iOS 10 is finally here, and I have to admit, this is the release that I’ve been expecting the most—even more than iOS7, and I am truly satisfied. This is perhaps the first major upgrade of iOS that feels logical. It tidies things, refine the smallest of details, and small but surely, improves my workflow as well. 

I definitely cannot get those who label this update sucks, or not revolutionary. Sure, Apple is a revolutionary company in itself, but changes for the better need not always come in giant leaps. Sometimes, smaller refinements are what we actually need, and I believe iOS 10 makes the “most advanced mobile operating system” to become more polished, and again I say logical, purposeful, and you know it just by feeling it—even I cannot elaborate why do I think this way. 

If this is a good sign for many things to come, boy, I can’t wait!

Buku Elektronik, Tren Baru

Teknologi buku elektronik (e-book) sebetulnya bukan teknologi sama sekali baru. Anda mungkin akrab dengan format .pdf yang mengijinkan buku tersedia dalam bentuk e-book. Namun, beberapa tahun terakhir tren ini semakin meningkat, dengan munculnya persaingan sejumlah penyedia e-book komersil yang menyajikan tidak hanya bukunya, namun juga alatnya.

Ada tiga ‘pemain’ besar. Amazon, yang sejak tahun 2008 meraja dengan alat ‘Kindle’nya. Amazon Kindle boleh dibilang merupakan alat pembaca buku elektronik komersil dengan teknologi tinta elektronik (e-ink) pertama yang betul-betul sukses. E-ink merupakan teknologi yang belum lama populer dan belum begitu matang, di mana tampilan menggunakan display rendah energi, sehingga alat bisa menghemat baterai dalam jangka panjang. E-ink juga tidak sama seperti layar liquid color display, di mana penggunakan pencahayaan dari layar (backlit) menyebabkan perih di mata untuk penggunaan jangka panjang, sementara e-ink dipersepsikan sebagai ‘just like real book‘.

Pemain kedua adalah gerai Barnes & Noble, dengan produk andalannya Nook. Secara umum, B & N memiliki dua jenis Nook, dengan teknologi e-ink dan LCD (langkah yang kemudian diikuti Amazon dengan Kindle Fire di tahun ini). Terakhir, adalah Apple dengan iBookstore-nya, yang relatif masih baru, dan buku-bukunya bisa dibaca di alat-alat iOS, semisal iPhone, iPod Touch, dan iPad.

Kenapa kisah soal e-book ini menarik? Saya merasa cukup beruntung dapat menggunakan – dan membandingkan – dua jenis alat dari dua teknologi berbeda, yaitu e-ink dari Amazon Kindle, serta LCD dari Apple iPad. Dan saya berani menyimpulkan, teknologi e-ink menyediakan masa depan kita untuk membaca lebih banyak buku. Format e-book di masa kini mengijinkan buku untuk menjadi lebih fleksibel (yaitu buku yang dominan teks, dengan tidak banyak pengaturan layout), antara lain dengan mengganti font dan ukurannya sesuai dengan kenyamanan pembaca. Hal ini mengijinkan begitu banyak jumlah novel dan buku-buku berbasis teks lainnya untuk dijual ketiga toko di atas. Amazon sendiri memiliki lebih dari 1 juta judul buku, termasuk semua bestseller dari New York Times.

Rupanya kenyamanan membaca e-book di teknologi e-ink bukan mengada-ada, lebih nyaman di mata. Saya pernah selama beberapa waktu mencoba membaca intensif di iPad, dan memang cukup menusuk di mata untuk penggunaan jangka panjang, khususnya ketika ruangan anda kurang diterangi (karena sinar dari LCD menjadi sangat terang, tidak ada pengimbang relatif yaitu penerangan ruangan). Teknologi e-ink di sisi lain tidak menusuk mata (bandingkan dengan penerangan dari LCD), karena nyaris sama dengan bentuk cetakan. Di saat gelap, anda tidak akan dapat membaca apa-apa kecuali menggunakan lampu baca.

Tidak hanya soal teknologinya, format e-book masa kini, di antaranya .epub dan .mobi, mengijinkan buku untuk memiliki ukuran (filesize) yang sangat kecil. Tidak heran, Amazon menggadang-gadang Kindle buatannya dapat dimuat buku sampai 3,500 buku dalam Kindle-nya yang bermemori 4 gigabita. Bayangkan ketika anda keluar rumah anda membawa 3,500 buku di dalam tas anda, yaitu dalam 1 alat yang ukurannya lebih kecil dari sebuah buku novel. Menggiurkan!

Masih banyak keunggulan (dan juga kekurangan, tentunya) dari teknologi e-book ini. Saya akan berpindah ke tiga diskusi berikutnya.

LCD? Layar sentuh?

Sungguh aneh bagi saya, terutama apa yang dilakukan Amazon dan B & N, setelah suksesnya alat berteknologi e-ink mereka, justru mengeluarkan alat berjenis tablet. Lebih aneh lagi rasanya, ketika B & N memposisikan produk Nook Color sebagai pembaca buku. Tentu saya memang alat ini dapat dimanfaatkan sebagai pembaca buku, tapi membicarakan kenyamanannya saya merasa LCD menjadi satu langkah mundur, ketika teknologi e-ink sebetulnya menyediakan kenyamanan lebih. Memang, sayang sekali teknologi e-ink masih muda, di mana hanya dapat menghasilkan tampilan hitam-putih, tapi bagi banyak orang itu sudah lebih dari cukup.

DRM

Salah satu hal yang masih menghambat menjamurnya e-book adalah perlindungan hak cipta, atau digital rights management (DRM). Masalahnya, jika anda membeli e-book di salah satu toko, misal Amazon, anda tidak akan bisa membacanya di perangkat non-Amazon (kecuali jika anda mengunduh aplikasi khusus keluaran toko tersebut, yang berarti perlu extra effort). Masih panjang jalan untuk e-book dijual non-DRMed, karena prevalensi tersebarnya buku bajakan.

Di Indonesia?

Teknologi e-book belum banyak terdengar di Indonesia, kecuali jika anda pernah mendengar soal “Buku Sekolah Elektronik” (BSE), program dari Kementerian Pendidikan Nasional (dulu). Di pertengahan tahun ini, sejumlah penerbit Indonesia mengeluarkan aplikasi e-book mereka untuk perangkat iPad (dan sejumlah perangkat Android), yang mengijinkan pengunjung membeli buku terbitan mereka untuk dibaca di perangkat mereka. Sayangnya, tidak begitu jelas buku ini dalam format apa, khususnya buku ini tidak begitu fleksibel (malah terlihat seperti dalam format .pdf).

Satu-satunya toko buku yang menawarkan integrasi toko-alat adalah Papataka, meskipun koleksinya masih terbilang sangat sedikit, dan belum menghadirkan penerbit-penerbit besar di Indonesia. Alatnya sendiri bukan keluaran Papataka, melainkan keluaran sebuah perusahaan bernama iRiver.

Sekian sedikit soal buku elektronik. Saya masih menanti kapan teknologi ini betul-betul menjamur di Indonesia, dan kita bisa menikmati konten-konten Indonesia dalam banyak perangkat, baik berteknologi e-ink maupun LCD. Tulisan ini tidak akan memberikan gambaran lengkap soal plus minus teknologi e-book, tapi blog ini terbuka untuk diskusi soal e-book, lewat kolom komentar.