Categories
Rupa-rupa

Lulus Sekolah COVID-19

Setelah lebih dari dua tahun ekstra hati-hati, dengan sejumlah kejadian ‘nyaris’, akhirnya yang dihindari datang juga.

Saya dan istri secara bersamaan terinfeksi COVID-19, dan kami berhasil pulih bersamaan pula.

Saya tidak lagi tertarik mengetahui tertular dari siapa. Saya bersyukur karena Tuhan begitu baik: setelah orang tua kami sempat terpapar beberapa bulan lalu, kami diberi kesempatan untuk ‘berhenti’ dari keseharian kami oleh karena penyakit paling ‘trendi’ dalam dua tahun belakangan.

Memang tiga kali vaksinasi tidak menjadi jaminan. Kami sendiri merasakan sejumlah gejala. Hanya saya juga bersyukur karena kami sempat tiga kali divaksin tersebut: meski kami mengalami gejala yang sangat tidak nyaman, rasanya kami bisa saja mengalami gejala yang jauh lebih serius tanpa vaksinasi yang memadai.

Apa yang bisa dipelajari dari pengalaman ini?

Categories
Bahasa Indonesia Personal Notes

Hari-hari Setelah Divaksin

Di awal bulan Juni ini, terbuka kesempatan untuk ikut serta dalam program vaksin “2+1 di bawah 50 tahun,” yang artinya, seseorang yang ada di luar kelompok umur sasaran vaksinasi COVID-19 boleh menerima vaksin apabila membawa dua orang lain yang berusia 50 tahun. Kebetulan saja, ada persis dua orang yang bisa dibawa untuk ikut serta—jadi saya berpartisipasi pada satu hari Kamis di bulan Juni ini.

Selama ini sebetulnya saya berpikir, sepertinya banyak sekali orang yang mau untuk menerima vaksin COVID-19—apapun vaksinnya—hanya karena adanya target prioritas dan kelompok usia yang memang lebih rentan, bisa dipahami bahwa vaksinasi dilakukan kepada kelompok target ini. Betul saja, hanya beberapa menit setelah informasi soal dibukanya program “2+1” tersebut diumumkan, slot sudah habis!

Di sisi lain, saya sangat penasaran tentang satu hal: apakah saya akan mengalami kejadian ikutan pascaimunisasi (KIPI), atau semacam ‘efek samping’ dari vaksin seperti yang diberitahukan banyak orang? Lewat tulisan kali ini, saya ingin berbagi seperti apa pengalamannya.