Mengejar Perubahan

Hari ini adalah hari perubahan, karena hari ini adalah hari terakhir saya bekerja di perusahaan saya kini.

Setelah tepat 73 bulan, saya melihat sudah waktunya ada perubahan. Memang lucunya, tidak ada yang percaya ketika saya menyebutkan saya belum ada pekerjaan baru. Sengaja—saya ingin mengambil beberapa minggu untuk beristirahat, melakukan beberapa hobi, dan aktivitas lain yang bukan rutin delapan jam kerja.

Perubahan memang dibutuhkan. Seperti kata orang tempo dulu, “Satu hal yang pasti adalah perubahan” (the only constant thing is change). Tanpa perubahan, semua orang akan tertinggal dalam stagnasi dan mungkin saja berdiam tetap dalam sesuatu yang monoton.

Ini bukan sekedar ikut arus great resignation. Prioritas orang juga mengalami perubahan besar, khususnya dalam masa pandemi ini. Yang perlu dilihat bukan soal pengunduran diri ribuan orang di masa-masa ini. Melainkan, bagaimana seseorang melihat perubahan makna pekerjaan, perubahan prioritas bagi keluarga, perubahan fokus pada menyeimbangkan hidup dan pekerjaan (work-life balance).

Untuk pembaca yang sedang merenungkan perubahan, saya hanya bisa menyampaikan, tetapkan hati, renungkan, dan lakukan. Apabila Anda bertanya-tanya apakah ini keputusan yang benar, saya ingin mengutip Steve Jobs, “Kita baru bisa melihat hubungannya dengan melihat ke belakang,” yang artinya, kita baru akan bisa mengetahuinya di masa yang akan datang. Memang merencanakan untuk masa depan tetap harus, di sisi lain, hidup untuk sekarang juga penting.

Mengejar, dan bahkan merayakan, perubahan, memang perlu.