Tidak sia-sia tidur subuh untuk menyaksikan salah satu pertandingan sepak bola paling menegangkan yang pernah ada. Bagaimana tidak, perempat final Indonesia U-23 lawan Korea Selatan U-23 di Piala Asia U-23 punya segala komponen drama sepak bola yang bisa dipikirkan: Gol, gol balasan, gol bunuh diri, gol dianulir, kartu kuning, kartu merah, penalti masuk, penalti ditepis, penalti diulang. Akhirnya, si underdog Indonesia, berhasil menaklukkan raksasa Asia tersebut.
Harus diakui, menangnya Indonesia U-23—yang dilatih seorang pelatih asal Korea Selatan—ini adalah capaian yang luar biasa dalam begitu banyak aspek. Indonesia U-23 adalah debutan, dengan salah satu tim termuda dan terbilang minim pengalaman. Tak dinyana, setelah ‘dikerjai’ pada pertandingan pertama melawan tuan rumah Qatar, Indonesia main solid saat menang 1-0 lawan Australia, lalu trengginas mengungguli Yordania 4-1.
Lolos ke perempat final adalah target minimal yang ditetapkan oleh PSSI. Namun, pelatih kepala Shin Tae-yong punya pemikiran yang berbeda: Ia yakin bisa membawa Indonesia masuk semifinal. Gilanya, biarpun melawan tanah air sendiri, janji itu ditepati!
Yang terjadi pada saat Pratama Arhan menyarangkan tendangan penalti penentu yang membuat Indonesia menang adalah memberikan kesempatan bagi masyarakat—apalagi penggila sepak bola—Indonesia untuk bermimpi. Mimpi apa? Mimpi bahwa ‘si anak bawang’ di sepak bola Asia ini bisa jadi sedang mencoba menggapai langit, dan tinggal sejengkal jauhnya dari menyentuh tujuannya itu. Bahkan ketika dari awal banyak yang menganggap Indonesia tidak mungkin lolos grup, Indonesia memilih untuk melawan dan mencapai hasil yang di atas perkiraan.
Sudah pasti langkahnya sulit. Apalagi tim-tim yang tersisa boleh dibilang raksasa Asia juga, tidak ubahnya Korea Selatan. Apalagi untuk tim yang masih dalam proses ‘pembangunan’–yang banyak dibilang orang sebagai tim yang ‘mulainya dari minus’–langsung berhadapan dengan gergasi-gergasi tampaknya mustahil. Namun toh, pada saat menghadapi Korea Selatan, tidak ada satu orang pun di dalam tim yang menunduk khawatir, atau merasa inferior. Bukan saja mereka masuk ke lapangan dengan kepala tegak, mereka yakin bahwa mereka sudah setara dengan tim-tim yang sudah lebih maju langkahnya.
Untuk itulah, mereka memberi kita semua kesempatan untuk bermimpi. Maka, dalam menyambut babak semifinal, siapa pun lawannya, layak kita berbangga, layak kita percaya, dan akhirnya, layak kita bermimpi lebih jauh.
Siapa tahu, Indonesia akan punya kesempatan merasakan hangatnya kobaran api Olimpiade Paris. Siapa tahu, ada kesempatan untuk menjadi juara Piala Asia U-23. Siapa tahu, kita bisa menyentuh langit dengan daya, upaya, dan cita-cita kita bersama.
(Foto fitur: PSSI)


Leave a comment