Lulus Sekolah COVID-19

Setelah lebih dari dua tahun ekstra hati-hati, dengan sejumlah kejadian ‘nyaris’, akhirnya yang dihindari datang juga.

Saya dan istri secara bersamaan terinfeksi COVID-19, dan kami berhasil pulih bersamaan pula.

Saya tidak lagi tertarik mengetahui tertular dari siapa. Saya bersyukur karena Tuhan begitu baik: setelah orang tua kami sempat terpapar beberapa bulan lalu, kami diberi kesempatan untuk ‘berhenti’ dari keseharian kami oleh karena penyakit paling ‘trendi’ dalam dua tahun belakangan.

Memang tiga kali vaksinasi tidak menjadi jaminan. Kami sendiri merasakan sejumlah gejala. Hanya saya juga bersyukur karena kami sempat tiga kali divaksin tersebut: meski kami mengalami gejala yang sangat tidak nyaman, rasanya kami bisa saja mengalami gejala yang jauh lebih serius tanpa vaksinasi yang memadai.

Apa yang bisa dipelajari dari pengalaman ini?

Pertama, banyak mengucap syukur. Saya seperti diingatkan berulang-ulang sepanjang dua minggu berada di kamar isolasi. Dalam kondisi sakit pun, mengucap syukur.

Kedua, pandemi belum selesai. Dalam tiga bulan terakhir, saya berkesempatan untuk berkunjung ke Amerika Serikat dan Singapura. Di kedua negara tersebut—lalu bahkan di Indonesia kini—semakin banyak orang yang ‘santai’ dan merasa pandemi sudah selesai. Saya bisa menyatakan dengan yakin: belum!

Ketiga, vaksinasi manjur. Saya sulit membayangkan apa yang akan terjadi pada kami apabila kami belum divaksinasi. Maka sejak awal vaksinasi tersedia, saya sangat bersemangat untuk mendapatkan vaksin, karena saya yakin sains bisa menyelamatkan. Terbukti.

Keempat, miliki asuransi kesehatan. Saya bukan agen asuransi dan saya tidak berjualan asuransi. Namun, pengalaman hiduplah yang menunjukkan bahwa adalah baik memiliki asuransi kesehatan—di luar jaminan kesehatan semesta seperti BPJS Kesehatan—karena Anda tidak akan tahu kapan Anda akan membutuhkannya.

Kelima dan yang terakhir, ambil waktu untuk beristirahat dari rutinitas. Saya mendapatkan kesempatan, di tengah-tengah kondisi yang sangat tidak nyaman di rumah sakit, untuk mendalami lagi makna istirahat. Tak peduli betapa sibuknya kita bekerja, ada tubuh dan jiwa yang perlu dirawat baik. Sempat atau tidak, mari paksa diri untuk beristirahat dengan baik dan cukup.

Akhirnya, kami lulus dari ‘sekolah’ COVID-19. Saya berharap ini akan menjadi pertemuan pertama dan satu-satunya dengan penyakit menyebalkan ini.

Semoga Anda dan keluarga selalu sehat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: