Hari-hari Setelah Divaksin

Di awal bulan Juni ini, terbuka kesempatan untuk ikut serta dalam program vaksin “2+1 di bawah 50 tahun,” yang artinya, seseorang yang ada di luar kelompok umur sasaran vaksinasi COVID-19 boleh menerima vaksin apabila membawa dua orang lain yang berusia 50 tahun. Kebetulan saja, ada persis dua orang yang bisa dibawa untuk ikut serta—jadi saya berpartisipasi pada satu hari Kamis di bulan Juni ini.

Selama ini sebetulnya saya berpikir, sepertinya banyak sekali orang yang mau untuk menerima vaksin COVID-19—apapun vaksinnya—hanya karena adanya target prioritas dan kelompok usia yang memang lebih rentan, bisa dipahami bahwa vaksinasi dilakukan kepada kelompok target ini. Betul saja, hanya beberapa menit setelah informasi soal dibukanya program “2+1” tersebut diumumkan, slot sudah habis!

Di sisi lain, saya sangat penasaran tentang satu hal: apakah saya akan mengalami kejadian ikutan pascaimunisasi (KIPI), atau semacam ‘efek samping’ dari vaksin seperti yang diberitahukan banyak orang? Lewat tulisan kali ini, saya ingin berbagi seperti apa pengalamannya.

Saya menerima vaksin di Sentra Vaksinasi Serviam di Pasar Baru. Mengunjungi kembali sekolah ini setelah sekian tahun lamanya membawa banyak sekali memori—saya tidak lupa bahwa saya bersekolah di bawah naungan Ursulin selama delapan tahun. Entah mengapa saya senang bisa mendapatkan vaksin dari sentra vaksinasi ini.

Setelah menjalani proses skrining dan pelaporan mandiri (self-attestation) terkait kondisi kesehatan, tidak perlu menunggu terlalu lama, saya menerima vaksin tersebut di lengan kiri, kira-kira menjelang pukul 10 pagi. Vaksin yang diberikan adalah vaksin AstraZeneca, sesuai dengan yang disediakan oleh pemerintah. Saat periode observasi sekalipun, rasanya tidak ada apa-apa—baik-baik saja, tidak ada pusing atau kondisi tidak biasa lainnya.

Kondisi tersebut berubah kira-kira mulai pukul dua siang. Saya mulai merasa sedikit melayang, letih, bahkan mengantuk. Mulai saat-saat tersebut, saya mulai mengukur suhu tubuh selang beberapa waktu sekali. Mulanya saya menduga akan mengalami demam—atau setidaknya suhu tubuh meningkat—dalam hari pertama setelah vaksin. Yang saya dapati, kira-kira pukul 10 malam itu, suhu tubuh saya hanya mencapai 36,6ºC, sehingga saya pikir, kondisinya akan baik-baik saja.

Di hari setelahnya, kondisinya mulai sedikit tidak keruan. Selain dari rasa ‘melayang,’ suhu tubuh saya mulai berfluktuasi: mulai dari sekitar 36,7ºC pada pukul enam pagi hingga 37,6ºC empat jam kemudian. Dalam beberapa jam sepanjang hari itu, suhu tubuh saya naik-turun mulai dari 36,3ºC serendah-rendahnya hingga 37,6ºC menjelang tengah malam. Tidak berhenti di situ, rasa nyeri di bagian lengan yang divaksin semakin terasa, meskipun tidak mengganggu. Lucunya, meskipun suhu tubuh meningkat, tidak ada rasa meriang atau menggigil layaknya orang demam biasa.

Di sinilah tablet parasetamol yang diberikan menjadi berguna—setelah menyelesaikan tahap observasi di sentra vaksinasi, saya diberikan sejumlah tablet penurun panas dengan anjuran mengonsumsi sebanyak tiga kali setiap harinya. Dalam dua hari divaksin, saya mengikuti anjuran tersebut dan mengonsumsi tablet parasetamol sesuai dengan jumlah yang disarankan.

Syukurlah, di hari berikutnya—atau hari ketiga divaksin—suhu tubuh semakin kembali ke kondisi normal, sehingga pada hari itu, suhu tubuh yang saya catat setinggi-tingginya 36,6ºC. Meskipun bagian yang divaksin masih terasa nyeri, nyeri tersebut lama-lama reda dalam beberapa hari kemudian. Selebihnya, kondisi tubuh juga pelan-pelan pulih dan sehat seperti biasa.

Ada hal yang agak lucu, kalau saya pikir-pikir lagi. Saat menerima vaksin ini, sebetulnya saya bersama lima orang lain, yang berarti ada empat orang berusia di atas 50 tahun, dan dua di usia 30 tahun ke bawah. Dalam hari-hari yang saya ceritakan di atas, empat orang yang berusia di atas 50 tahun praktis tidak merasakan apa-apa—kecuali mengantuk dan lapar dalam beberapa waktu. Sebaliknya, dua orang yang berusia 30 tahun ke bawah justru mengalami demam beberapa hari—termasuk saya!

Pada akhirnya, saya senang sekali karena selain sudah menerima vaksin, KIPI yang dialami sebetulnya tidak serius dan terbilang sudah diduga. Informasi yang disediakan, dan tersedia secara luas, juga membantu untuk memahami tentang vaksin ini, apa keuntungan di balik menerima vaksin, serta risiko dan KIPI yang mungkin timbul. Seperti yang banyak disebutkan, dalam vaksinasi ini, “the benefits outweigh the risks,” keuntungannya melampaui risiko yang mungkin timbul—dan ini saya alami sendiri.

Apakah Anda akan divaksin atau tidak, sebetulnya kembali ke pilihan Anda—meskipun kalau saya harus menjawab, saya akan menyarankan Anda dengan senang hati untuk menerima vaksin. Mengapa? Vaksin berguna bagi kita pribadi untuk memberi kekebalan serta mengurangi dampak serius apabila terinfeksi. Di sisi lain, perlindungan yang kita dapatkan juga berarti tanggung jawab bagi orang-orang di sekitar kita.

Bila Anda ragu-ragu karena seliweran informasi—terutama di media sosial—yang kemudian menciptakan rasa takut akan vaksinasi, mulailah menelaah informasi dari sumber-sumber yang lebih kredibel, misalnya dari Kementerian Kesehataan, media massa arus utama, atau situs informasi kesehatan lainnya. Dengan demikian, Anda bisa mengambil keputusan yang berwawasan (informed decision) dan yang terbaik bagi Anda.

Pengalaman pribadi saya menunjukkan bahwa vaksinasi ini memang betul aman, dan saya berharap kondisi aman dan sehat yang sama juga bisa Anda alami.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s