Mengenal Penetapan Agenda

Permulaan dari sebuah konferensi MUN adalah penetapan agenda (agenda setting). Penetapan agenda langsung diadakan setelah panggilan kehadiran (roll call) pertama pada sesi sidang pertama komite tertentu. Agenda (yang juga sering disebut topic atau topic area) merujuk pada topik pembahasan atau perdebatan pada suatu komite.

Umumnya, komite akan menetapkan dua atau lebih agenda sementara (provisional agenda), yaitu pilihan topik yang akan diperdebatkan sepanjang konferensi berlangsung. Apabila terdapat dua atau lebih agenda sementara, proses penetapan agenda akan dilakukan. Sementara, apabila hanya terdapat satu agenda sementara, agenda sementara tersebut akan secara otomatis ditetapkan menjadi agenda tetap.

Dalam proses penetapan agenda, salah satu delegasi akan mengajukan mosi untuk menetapkan salah satu dari agenda sementara untuk menjadi agenda tetap dan dibahas pada sidang tersebut. Tujuan dari mosi ini sebetulnya hanya untuk ‘mendorong’ satu dari beberapa agenda sementara tersebut agar diperdebatkan lebih dulu (dan mungkin akan menjadi satu-satunya agenda yang diperdebatkan) dalam sepanjang konferensi. Mosi untuk menetapkan salah satu agenda ini dapat berbentuk seperti, “Egypt proposes to move topic A to be discussed first in this committee.” (Mesir mengajukan topik A untuk didiskusikan lebih dulu dalam komite ini)

Egypt proposes to move topic A to be discussed first in this committee.

Contoh mosi untuk mengajukan salah satu agenda sementara/topik pada tahap penetapan agenda

Umumnya ketua sidang hanya akan menerima satu mosi jenis ini dan tidak akan menerima mosi untuk mengajukan topik lainnya.[1] Usai menerima mosi tersebut, ketua sidang akan membuka sebuah daftar pembicara yang akan membagi pembicara dalam dua kelompok: delegasi yang menyetujui mosi (atas topik yang diajukan) (delegates speaking for) serta delegasi yang tidak menyetujui mosi (delegates speaking against)—‘tidak menyetujui’ di sini tidak berarti menyatakan hal-hal negatif mengapa topik yang diajukan tidak boleh dibahas, sebaliknya, ‘tidak menyetujui’ maksudnya adalah menjelaskan alasan mengapa pilihan topik sementara lainnya (yang tidak dipilih) perlu untuk diajukan dan dibahas dalam sidang komite. Ketua sidang akan menanyakan delegasi mana saja yang akan berpidato untuk menyetujui mosi dan tidak menyetujui mosi. Setelah daftar pembicara ini rampung—umumnya ketua sidang akan mengambil jumlah pembicara yang sama di kedua sisinya—ketua sidang akan mulai memanggil secara berurutan mereka yang terdaftar dalam daftar pembicara. Untuk memastikan adanya perdebatan dan keseimbangan antara kedua sisi, ketua sidang mungkin memanggil para delegasi secara bergantian, yaitu yang menyetujui, diikuti yang tidak menyetujui, diikuti yang menyetujui, dan seterusnya.

Setelah selesainya seluruh pembicara dalam daftar pembicara, ketua sidang bisa langsung melanjutkan ke tahapan pemungutan suara, atau bisa mengundang delegasi untuk mengajukan mosi mengakhiri debat (motion to close the debate). Mosi mengakhiri debat ini digunakan untuk menutup secara resmi daftar pembicara di atas. Apabila terdapat mosi untuk mengakhiri debat, dimungkinkan bagi ketua sidang untuk membuka secara terpisah sebuah daftar pembicara baru untuk memperdebatkan mereka yang menyetujui mengakhiri debat atas topik serta mereka yang tidak menyetujui. Usai daftar pembicara ini selesai, maka akan dilakukan pemungutan suara untuk mengakhiri debat dan melanjutkan ke proses pemungutan suara untuk topik. Bila mendapatkan mayoritas yang dibutuhkan, maka pemungutan suara bisa dilakukan.[2]

Malaysia proposes to close the debate.

Contoh mosi untuk mengakhiri debat

Setelah ditutupnya daftar pembicara dan berakhirnya debat, ketua sidang akan mengambil suara untuk melihat apakah mosi pengajuan topik tersebut diterima oleh mayoritas delegasi atau tidak. Apabila mendapatkan mayoritas, maka agenda sementara tersebut diadopsi menjadi topik tetap dan akan diperdebatkan dalam sidang. Apabila tidak mendapatkan mayoritasnya, maka terdapat beberapa kemungkinan:

  • Apabila hanya terdapat dua agenda sementara, maka topik yang tidak diajukan akan otomatis menjadi topik yang dibicarakan.
  • Apabila terdapat lebih dari dua agenda sementara, maka proses penetapan agenda mungkin diulang terhadap agenda sementara yang belum diajukan.
Sebuah ilustrasi proses penetapan agenda

[1] Jangan heran ketika ketua sidang membuka kesempatan untuk mengajukan penetapan agenda, praktis semua delegasi mengangkat plakatnya—delegasi manapun yang dipilih oleh ketua sidang sangat bersifat acak dan tidak dipilih berdasarkan kriteria tertentu.

[2] Memaksakan adanya daftar pembicara khusus untuk menutup debat bisa berakhir buruk. Dalam salah satu konferensi, saya melihat salah satu komite yang tidak bisa menetapkan satupun agenda setelah lebih dari delapan jam persidangan karena komite tidak bisa meloloskan mosi untuk menutup debat! Ada kalanya, diskresi ketua sidang dibutuhkan untuk mengatasi kebuntuan ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s