Sekitar pukul 05:30 pagi, saat pertandingan final Piala Dunia FIFA antara Spanyol dan Argentina sudah selesai, saya memejamkan mata saya. Sambil terbayang kurangnya tidur gegara pertandingan ini, saya hanya dapat menyebutkan satu hal dalam hati: “Pertandingan apa itu tadi?”
Sebelum membahas tentang Piala Dunia FIFA 2026 yang secara keseluruhan tidak mengesankan, saya ingin membahas sedikit tentang pertandingan final ini. Dalam kebanyakan kompetisi sepakbola, pertandingan final memang seringkali bukan yang paling menyenangkan untuk ditonton. Partai final hampir selalu berlangsung dengan ketat, seperti pertempuran antartaktik, di mana masing-masing peserta sangat berhati-hati untuk tidak membuat kesalahan. Akibatnya, final menjadi membosankan, kurang menghibur, dan cekak gol menjadi bagian dari fitur partai final kebanyakan.
Partai final Piala Dunia FIFA yang pertama kali saya tonton adalah final Piala Dunia 2006 di Jerman, di mana Italia mengalahkan Prancis lewat adu tendangan penalti. Sejak saat itu, saya menyaksikan berbagai partai final dari rupa-rupa kompetisi, termasuk Piala Asia, Piala Eropa, Liga Champions, dan tentu saja, Piala Dunia. Percayalah, tidak ada yang seburuk final semalam. Bahkan, pertandingan play-off perebutan juara ketiga antara Prancis dan Inggris di malam sebelumnya malah terlihat seperti final sesungguhnya—meskipun, karena memang kedua pihak sudah nothing to lose, mereka bertanding sejadi-jadinya, berakhir dengan skor yang lebih mirip skor tenis dibandingkan skor sepakbola: 6-4 untuk kemenangan Inggris.
Mengapa pertandingan semalam sangat tidak enak ditonton? Kalau boleh saya rangkum dalam satu kalimat: hanya salah satu finalis yang bermain untuk menang. Pertandingan sangat, sangat dikendalikan oleh Spanyol. Mulai dari penguasaan bola, operan, hingga terutama tembakan ke gawang. Sementara itu Argentina, mereka bermain untuk menang dengan cara yang menyakitkan, yaitu menahan saja gempuran Spanyol, seperti berharap pertandingan akan terus imbang hingga adu tendangan penalti, di mana harapannya, mereka bisa tiba-tiba menang tanpa mencetak gol secara terbuka.
Bayangkan saja, sampai dengan menit ke-117 (dua babak penuh waktu dan satu setengah babak perpanjangan waktu), Argentina tidak menendang sekali pun ke arah gawang Spanyol—ketika semua orang tahu, untuk menang pertandingan sepakbola, tim harus mencetak gol ke gawang lawan, dan hal itu bisa dilakukan hanya jika tim tersebut menendang ke arah gawang lawan! Meskipun harus diakui Spanyol punya setelan taktik yang praktis sempurna dalam mengunci gerakan Argentina, tetap saja Argentina sudah tidak punya ide melawan Spanyol, atau kreativitas untuk menciptakan bahkan setengah saja peluang untuk menjadi gol.
| Statistik | 2002 | 2006 | 2010 | 2014 | 2018 | 2022 | 2026 |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Skor Akhir | 0 – 2 | 1 – 1 | 0 – 1 | 1 – 0 | 4 – 2 | 3 – 3 | 1 – 0 |
| Tendangan ke Gawang | 12 – 9 | 5 – 13 | 13 – 18 | 10 – 10 | 8 – 15 | 20 – 10 | 20 – 2 |
| Tendangan Akurat ke Gawang | 4 – 7 | 3 – 6 | 5 – 6 | 7 – 2 | 6 – 3 | 10 – 5 | 12 – 0 |
| Penguasaan Bola | 56% – 44% | 55% – 45% | 43% – 57% | 60% – 40% | 39% – 61% | 54% – 46% | 65% – 35% |
| Tendangan Penjuru | 13 – 3 | 5 – 7 | 6 – 8 | 5 – 3 | 2 – 6 | 6 -5 | 9 – 4 |
| Pelanggaran | 21 – 19 | 17 – 24 | 28 – 19 | 20 – 16 | 14 – 13 | 26 – 19 | 21 – 25 |
| Offside | 1 – 0 | 4 – 2 | 7 – 6 | 3 – 2 | 1 – 1 | 4 – 4 | 4 -1 |
| Kartu Kuning | 1 -1 | 1 – 3 | 9 – 5 | 2 – 2 | 2 – 1 | 5 – 3 | 0 – 7 |
| Kartu Merah | 0 – 0 | 0 – 1 | 1 – 0 | 0 – 0 | 0 – 0 | 0 – 0 | 0 – 1 |
Permainan yang buruk dari Argentina kemudian berakhir pula dengan imaji-imaji buruk yang disisakan tim Argentina: pukulan Paredes kepada pemain tim Spanyol, tangisan Messi dan Scaloni, hingga tindakan aneh di mana seluruh bagian tim nasional Argentina memunggungi selebrasi tim Spanyol saat mengangkat piala—berlawanan dengan ‘kebiasaan’ tim yang kalah untuk menyaksikan tim yang menang, sebagai bahan refleksi dan motivasi.

Patut dibilang bahwa partai final ini memang penutup untuk Piala Dunia yang tidak mengesankan, bahkan cenderung forgettable. Saya teringat di Piala Dunia 2018 dan Piala Dunia 2022, ada banyak bagian yang sangat mengesankan dari kedua edisi tersebut sehingga saya masih sekali-sekali mencari kilasan dari berbagai pertandingan di kedua kompetisi tersebut. Sebut saja ketika Rusia dengan gagahnya mengalahkan Spanyol di fase gugur Piala Dunia 2018, atau tentu saja yang paling hebat dari semuanya, final Piala Dunia 2022. Khusus final Piala Dunia 2022, memang ini final yang terlihat seperti anomali: ketika biasanya final Piala Dunia berlangsung agak cagey, di final ini kedua tim tanpa ragu menyerang tim yang lain, sehingga berakhir 2-2 di waktu normal, 3-3 di waktu tambahan, hingga harus diselesaikan dengan adu penalti.
Piala Dunia kali ini? Tidak ada yang mengesankan. Bukan karena penambahan jumlah pesertanya—karena menurut saya, jumlah peserta yang bertambah ini membuat kompetisi berjalan cukup seru, lihat saja Cape Verde! Namun, karena banyak hal lain. Seperti soal kartu merah dari salah satu tuan rumah yang tiba-tiba dibatalkan tanpa alasan yang jelas, keputusan wasit yang kadang terkesan ‘mengunggulkan’ salah satu tim, atau jam pertandingan yang rasanya kurang nyaman untuk warga Asia.
Malah ke depannya, Piala Dunia 2026 akan diingat dengan hal-hal menyebalkan tersebut, plus fakta bahwa Piala Dunia ini terkesan sangat komersial. Hilang sudah Piala Dunia yang hadir untuk hiburan masyarakat dunia. Yang tersisa, slot-slot iklan yang mengisi hydration break, merek resmi Piala Dunia muncul di segala rupa barang dagang, dan segala yang dilakukan demi uang dan popularitas—termasuk acara hiburan konyol ala Super Bowl yang membuat jeda turun minum bengkak dari 15 menit (sesuai regulasi!) menjadi 27 menit.
Memang akhir yang agak asam, tapi layak dan pantas dengan Piala Dunia yang sayangnya tidak meninggalkan kesan yang baik. Semoga Piala Dunia 2030 nanti, dengan kemungkinan munculnya keanehan-keanehan yang berbeda, lebih bermakna, seru, dan menghibur.


Leave a comment