Mengantarkan mahasiswa Indonesia ‘mendobrak tembok Eropa’, bersaing, dan mendapatkan penghargaan di salah satu konferensi MUN paling bergengsi (dan kompetitif) di Benua Biru, adalah kebanggaan luar biasa yang layak di-‘flexing‘ kali ini.
Saya berkesempatan melatih sekelompok mahasiswa Indonesia, yang tadinya (setidaknya hampir semua) belum pernah kenal dunia MUN, bahkan tidak terbiasa sehari-hari berbahasa Inggris, dengan pelatihan intensif dari 0 dan belajar bersama: mulai dari kemampuan seperti bicara depan umum (dalam bahasa Inggris), menulis, riset, hingga belajar tentang dunia dan berbagai isu internasional. Mereka kemudian ikut serta dalam konferensi MUN kompetitif yang diselenggarakan di Maastricht, sebuah kota kecil nan indah di bagian selatan Belanda.
Kadang sulit percaya melihat mereka di dalam ruang konferensi bisa bersaing, beradu argumen, dan bernegosiasi, dengan mahasiswa lain dari berbagai belahan dunia. Kendala bahasa? Tidak masalah. Kendala ilmu? Jelas tidak ada. Saya bahkan teringat ketika banyak peserta lain, termasuk dari Eropa, sangat mengandalkan laptop mereka (tentu sesuai dugaan, termasuk untuk mengakses AI), murid-murid saya dengan percaya diri hanya mengandalkan catatan tangan dan kertas referensi mereka, sampai-sampai kompetitor mereka berbisik, “Gila, itu orang-orang Indonesia bawa materi cetak sebegitunya?” Ketika panitia menghentikan penggunaan laptop di tengah-tengah kompetisi? Kompetitor kebingungan, mereka malah berapi-api.
Hasilnya? Capaian yang membanggakan, termasuk beberapa penghargaan, ketika daftar pemenang hampir seluruhnya diisi oleh mahasiswa-mahasiswa Eropa. Bukti bahwa mahasiswa Indonesia bisa bersaing, dan segala hal bisa dipelajari dan dikuasai dari 0 (termasuk MUN!) selama punya tekad kuat dan kerja keras.


Leave a comment